Dark Light
Photo by Andrew Neel from Pexels

Wah, kenapa dalam dua minggu terakhir ini tulisan saya mengambil tema tentang refleksi ya. Tetapi, untuk kali ini saya rasa cukup spesial. Dua hari lalu saya diingatkan oleh Facebook bahwa saat ini adalah 10 tahun saya mengunggah sebuah peta ketinggian Bali. Yang saya ingat, gambar tersebut merupakan data ketinggian pertama yang saya olah. Data Shuttle Radar Topography Mission (SRTM) yang saat itu kalau tidak salah resolusinya masih 90 meter persegi.

Data itu merupakan salah satu data spasial yang pertama kali saya olah untuk mengerjakan analisis di project skripsi saya bersama teman saya Tofik dan Bang Yunus. Saat itu yang menjadi pembimbing kami adalah salah satu Profesor paling keren seantero jurusan kami yakni Prof Handoko. Bisa dikatakan ketiga orang tersebutlah yang sangat berperan dalam awal mula perjalanan saya di dunia pemetaan meskipun pada saat itu di jurusan kami masih belum ada mata kuliah yang secara khusus mempelajari hal tersebut. Oia, sekedar informasi saya berkuliah di jurusan Meteorologi Terapan IPB.

Saat itu, di jurusan saya memang tidak ada mata kuliah yang mengajarkan GIS secara khusus. Namun ada beberapa mata kuliah yang dalam analisisnya sesekali memanfaatkan teknologi yang ada di dalam GIS. Beberapa mata kuliah itu seperti Meteorologi Satelit, Analisis Hidrologi, Klimatologi Terapan dan Oseanografi. Selain itu saya juga iseng mengambil semester pendek dari jurusan lain yakni Dasar Indraja untuk Kelautan.

Foto waktu ke tengah laut untuk praktikum Oseanografi Umum di Pangandaran untuk belajar tentang arus laut, BOD, COD salinitas dan beberapa variabel tentang kelautan lainnya. Saya di sini sedang berdiskusi tentang di mana posisi pedagang syomai ikan yang paling enak. ­čÖé

Saat belajar di masing-masing mata kuliah tersebut memang tidak terlalu banyak mengajarkan saya tentang dasar-dasar dalam GIS yang saya butuh kan. Namun tidak bisa dipungkiri setidaknya dari kuliah tersebut saya merasakan bahwa teknologi ini cukup keren untuk dipelajari, meskipun harus saya akui juga hal seperti ini juga tidak begitu mudah untuk dipahami.

Fase Awal saya berkenalan dengan gis, dari perkuliahan hingga project dosen dan ikut pelatihan

Hingga di semester akhir, saya akhirnya diajak Prof Handoko untuk ikut dalam Project-nya saat saya mengajukan sebuah judul untuk penelitian skripsi. Saat itulah saya, Tofik (teman satu jurusan), dan bang Yunus (kakak kelas yang saat itu sedang studi S2) digabungkan dalam sebuah tim. Tim dengan bimbingan Profesor Handoko untuk melakukan riset pemodelan dampak perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian.

Ini foto saat presentasi hasil pengelolaan data kami untuk dampak perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian di Indonesia. Foto diambil oleh Tofik, saat itu saya Tofik dan profesor Handoko presentasi di lingkungan kantor Kementerian Lingkungan Hidup. (link foto)

Yang paling saya ingat saat itu adalah. Profesor Handoko jemput kami pakai mobil barunya (Nisan Juke) yang saat itu masih sangat jarang ada di temukan di jalan dan lagu di mobil itu Price Tag Jessie J Lagu ini kemudian terngiang ngiang selalu seolah menjadi pesan dari Prof kepada kami yang saat itu juga baru mengetuk dunia profesional untuk tidak terfokus pada uang saja :). Saya tidak tahu apakah itu hanya dipikirkanku saja atau memang benar. Tapi fun fact, lagu ini selalu saya dengar sampai sekarang kalau saya merasa saya sudah mulai kerja tidak tulus dan hanya memikirkan uang saja.

Saat project tersebut saya kebagian tugas untuk mempersiapkan data-data spasial yang nantinya akan digunakan sebagai bahan masukan dari model. Saya masih ingat saat itu saya diminta untuk menyiapkan data wilayah sawah seluruh Indonesia yang dialamnya terdapat informasi wilayah administrasi, ketinggian dan curah hujan rata-rata sepuluh harian selama satu tahun. Proses yang cukup panjang hingga saat itu kami putuskan untuk membuat alur prosesnya menggunakan model Builder di PC laboratorium Agrometeorologi. Jadi selama proses PC laboratorium tersebut kami siksa semalam suntuk.

Salah satu hasil dari modeling yang tim kami lakukan saat itu. Setidaknya seperti ini hasil yang kita dapatkan. Jika memperhatikan peta yang saya buat tersebut terlihat sekali bahwa peta yang saya buat masih seadanya dan tidak mengikuti kaidah pemetaan yang semestinya.

Pada masa pengerjaan project tersebut juga saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Biotrop Bogor tentang dasar GIS dan penggunaan ArcGIS dari melakukan akuisisi data spasial, georeferencing, analisis dasar dan membuat layout peta. Dalam pelatihan itu ternyata diajari juga oleh Bang Yunus Bahar, rekan satu project saya. Selain pelatihan tersebut dalam libur panjang semester genap saya memanfaatkan kesempatan untuk mengambil semester pendek perkuliahan dari jurusan lain yakni dasar pengindraan jauh untuk kelautan dari program studi ilmu teknologi kelautan. Dari sana saya diajari untuk pengelolaan data citra satelit dengan menggunakan aplikasi ER Mapper.

Pada dasarnya dalam fase tersebut dari tahun 2010 hingga 2012 hal yang paling banyak saya pelajari pada pengelolaan data spasial yang berbentuk raster (citra satelit dan SRTM) dan pengelolaan data spasial yang berbentuk poligon. Saat itu proses analisis yang dapat saya bisa melakukan klasifikasi citra baik terbimbing (supervised) maupun secara tak terbimbing (unsupervised) selain itu diajari pula dasar koreksi citra satelit dari koreksi geometri hingga radiometri. Selain itu pula diajarkan bagaimana mendelineasi batasan Daerah Aliran Sungai (DAS) menggunakan data SRTM Hal mendasar inilah yang saya sadari kemudian tetap saya bawa hingga saat ini.

Fase dua, berburu kerja untuk pengaplikasian teknik gis di sektor pertanian ternyata berat.

Pada awalnya saya sangat percaya diri dengan keterampilan pengelolaan data spasial yang saya miliki. Saya menganggap kemampuan saya sudah cukup mumpuni dan layak untuk dibayar mahal jika ada perusahaan ingin meminang jasa saya di perusahaan mereka. Mungkin itu yang disebutkan dalam Efek Dunning-Kruger yang menyebabkan saya yang masih ditahap awal saat belajar GIS tersebut merasakan bahwa segala hal sudah saya paham dan kuasai. Terlebih bila dibandingkan dengan rekan lain yang saya kenali, dalam hal analisis ini saya termasuk yang cukup unggul.

Disana kepala saya mulai membesar dan pongah :). Hingga saya pun kemudian terdasar bahwa apa yang saya paham saat itu belum seberapa dan GIS tidak sesederhana itu. masih banyak hal lain yang perlu saya pelajari.

Sumber gambar SlideModel.com

Tidak mudah untuk tersadar bahwa saat itu (mungkin sampai saat ini) saya bukan apa-apa. Selepas lulus dari jenjang sarjana, cukup sulit bagi saya untuk diterima dalam dunia kerja. Bila dibandingkan teman lainnya, saya termasuk yang terlambat dalam mendapatkan kerja yang tetap. Bukan karena malas untuk mencari kerja tetapi memang saat itu sulit sekali mendapatkan kerja. Jenis kerja impian yang saya cari saat itu di sektor perkebunan.

Berbulan bulan lamanya tanpa kejelasan dengan tekanan di sana dan sini, membuat saya cukup depresi dan mudah marah saat itu. Setiap hari kirim lamaran pekerjaan, ikut wawancara dan begitu terus. Cukup lelah saat itu terlebih bila ditanya oleh orang tua sudah coba daftar belum, sudah dapat belum? pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukan membuat semangat tapi jujur justru membuat saya sangat kesal dan kurang nyaman.

Mungkin memang kesalahan saya untuk berpegang pada idealisme saya untuk mencari kerja di bidang yang memang saya pelajari. Saat itu saya berpikir bidang saya adalah pertanian (kebun) entah itu sawit atau komoditas lainnya. Karena idealisme itu saya melepas kesempatan panggilan untuk mengikuti program ODP di bank terbesar di Indonesia.

Itu saja tidak lebih. Hingga suatu hari ada salah satu kakak kelas saya berbagi informasi tentang adanya beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 tentang Geoinformasi untuk Manajemen Kebencanaan di UGM. Karena sepertinya menarik, saat itu saya mencoba mengirimkan saat saya masih di Bogor. Setelah berkas saya kirimkan saya pun melupakannya karena saya rasa kurang begitu sejalan dengan rencana “Bidang Pertanian” saya.

Untuk mengisi waktu luang saya, saya dapat kesempatan dari salah satu kenalan kakak kelas untuk menjadi seorang surveyor lepas untuk melakukan survey terkait pemilu. Uangnya lumayan untuk tambahan uang memenuhi kebutuhan hidup saat itu. Saat itu, saya ditugaskan untuk mewawancarai 50 orang responden yang tersebar di Bogor Raya dan Depok. Dari sana saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan orang asing. Saya yang sebelumnya malu-malu untuk memulai pembicaraan jadi sedikit bisa untuk secara random bertanya dan memberikan kesan akrab dengan orang asing.

pertama kali masuk dunia kerja di pengelolaan data foto udara mengasah kemampuan analisis visual saya dan cara menggunakan gps geodetik.

Akhirnya setelah berbulan bulan saya berkutat dan luntang lantung, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan tetap pertama saya di sebuah perusahaan konsultan di Jakarta untuk pertanian “Yeay” :). Saat itu saya bertugas untuk menggabungkan lima ribuan foto udara (dari pesawat atau uav) menjadi satu foto yang utuh. Setiap foto yang berdekatan harus saya identifikasi objek sama yang bisa saya jadikan titik ikat agar nantinya bisa tergabung secara sempurna. Minimal antara dua foto harus ada 3 titik yang teridentifikasi secara menyebar.

Kalau digambarkan kira-kira seperti ini yang saya kerjakan menggunakan aplikasi Enso Mosaic. Dengan cakupan yang jauh lebih luas dari gambar di sini dan gambar yang lebih banyak. (Sumber gambar: Vision Asia Technology Pte Ltd).

Mungkin akan terlihat mudah ya, namun ternyata tidak semudah kelihatannya. Saat itu saya bertemu bos yang menurut saya sangat keren yakni Yaw Yeng Yaw, dan Pak Sandi dan pak Agus. Dari kedua boss saya ini saya belajar tentang bagaimana mengelola data spasial dan akhirnya berkenalan dengan aplikasi GIS yang opensource yakni Quantum GIS (saat ini lebih dikenal sebagai QGIS). Saat pertama kali berkenalan dengan QGIS tampilannya sangat payah dan bahasanya acak acakan. Berbeda dengan sekarang yang menurut saya sudah sangat bagus.

Kembali pada lingkup kerja saya untuk menyediakan foto udara utuh dari ribuan pecahan gambar hasil foto udara. Saat itu saya di push untuk dapat membuat 500 titik dalam sehari. Untuk mengejar target tersebut tentu saja saya harus fokus pada layar monitor saya hingga terkadang mata saya berair bukan karena sedih namun saya merasakan sangat perih di mata kalau terus terusan menatap dan fokus pada monitor komputer.

Untuk mengakali hal tersebut satu jam sekali saya turun ke toilet dan di tangga (di depan cctv) saya melakukan senam SKJ. Cukup random memang yang saya lakukan namun saya rasa saya perlu banyak bergerak untuk memperlancar peredaran darah. Hingga suatu ketika baru saya sadar ternyata CCTV yang saya kira akunnya dipegang oleh satpam ternyata dipegang oleh bos saya Yaw Yeng Yaw. Pantas saja beberapa kali pak boss mendatangi meja saya dan tertawa tawa tipis.

Suatu ketika saya berselisih tegang dengan supervisor saya, saat mengelola satu foto udara dari UAV. Karena dari foto UAV yang saya olah itu saya merasa ada sedikit keanehan yang mengakibatkan foto yang dihasilkan memiliki bidang yang beririsan sangat tipis sehingga sulit dicari objek untuk titik ikat. Namun yang anehnya selang, satu baris gambar, bidang iris dari gambar justru sangat lebar. Saat itu saya mencoba memvisualisasikan dalam pikiran kenapa bisa ada pola demikian. Lama saya berpikir dan menganalisis secara visual saya menduga ada kesalahan terbang pada UAV sehingga ia terbang miring.

Saya bersama salah satu rekan kerja di kantor saat mempersiapkan Ground Check Point (titik cek buatan) untuk dijadikan acuan dalam membuat foto udara di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat Link Gambar

karena cara terbang yang demikian foto yang dihasilkan memiliki pola bidang iris yang sangat tipis dan kemudian sangat lebar. Untuk foto yang diambil dengan arah terbang yang sama akan menghasilkan gambar dengan bidang iris sangat lebar sedangkan arah terbang yang berlawanan akan menghasilkan bidang iris yang sangat tipis bahkan beberapa foto tidak memiliki bidang iris karena memfoto sisi yang berbeda.

Untuk itu kemudian saya sedikit berdebat dengan salah satu supervisi saya, dan menyarankan untuk memilih satu sisi saja, agar foto dapat disatukan. Namun atasan saya saat itu bersikeras untuk tetap mengolah keseluruhan foto. yah meskipun akhirnya saya harus mengalah sambil menggerutu saya akhirnya tetap mencoba mencari objek sama di bidang yang beririsan sangat kecil. Kadang supervisor saya itu marah kenapa saya sangat lambat mencari titik ikat untuk foto-foto itu dan sebentar mengambil alih kerja saya. “Masak gini aja susah sih sini saya contohin lagi” beberapa menit ia duduk memperhatikan tanpa menemukan satu objek yang sama dan asal klik langsung berkata lagi “Nih lanjutkan”.

Beberapa bulan bekerja di kantor tersebut saya akhirnya mendapatkan panggilan wawancara beasiswa untuk melanjutkan studi S2 di UGM dengan jurusan Geoinformasi untuk Manajemen Bencana. Saat itu saya yang sempat lupa pernah mendaftar di jurusan tersebut. Saat saya di telepon, saya masih merasa sedih karena baru kehilangan gawai pintar saya (Nokia Lumia 620). Dan saat itu akhirnya saya kembali memakai Nokia 3110 Clasic.

Kenapa saya sedih? padahal saya mendapatkan kabar gembira seperti itu. :). Karena saat ditelepon untuk wawancara saya sedang di bandara menuju Kebun proyek pemetaan kebun sawit di daerah Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Syukurnya saya saat itu diperbolehkan menjawab wawancara melalui email.

Masih ada masalah sebenarnya, saya saat itu berpikir bagaimana caranya untuk membuka email dengan perangkat yang sangat terbatas (Nokia 3110c) dan di tengah kebun dan hutan sambil menenteng2 peralatan GPS Geodetik yang cukup besar.

(Bersambung…)

Photo by Elijah O’Donnell from Pexels

Leave a Reply

Related Posts
Total
4
Share