Dark Light

Halo, jumpa lagi dengan saya Dewa Putu Adikarma Mandala di sini. Pada kesempatan ini saya akan mencoba merefleksikan pengalaman saya dalam menulis blog selama setengah tahun terakhir. Berhubung di Bulan Agustus ini sudah memasuki tengah tahun pertama di 2021 ya. Saya terinspirasi untuk mengulas hal ini, karena belum ada topik menarik. Atau setidaknya masih belum ada topik yang bisa saya bahas secara mendalam dalam bentuk tulisan.

Photo by Suzy Hazelwood from Pexels

Ada permasalahan yang cukup pelik saya rasakan dalam satu bulan ini. Permasalahan inilah yang kemudian melatarbelakangi saya dalam mengangkat tema ini. Saya juga ingin sekaligus merefleksikan ke penulisanku dalam dunia blog dewaputuam.com. Blog yang sudah saya kembangkan hampir 4 tahun terakhir. Mungkin langsung saja ya, permasalahan yang baru saya sadari di bulan ini ternyata jumlah kunjungan ke blog saya dari mesin pencarian milik google tiba-tiba menurun secara signifikan. Jumlah kunjungan yang semula setidaknya ada belasan hingga puluhan dari mesin pencari, saat ini tidak ada lagi.

Sampai saat ini saya masih kurang paham apa yang terjadi, tetapi saat saya lihat riwayat jumlah kunjungan pada blog saya antara 25-31 July 2021 yang kalau bandingkan dengan periode yang sama terjadi peningkatan kunjungan yang tidak masuk akal (hingga 500%). Tapi ya sudahlah, apa pun permasalahannya saya rasa ini menjadi waktu yang tepat untuk kembali merefleksikan diri, khususnya dalam dunia ke penulisanku.

secara umum, meskipun secara kuantitas dan kualitas dari tulisan saya masih jauh dari istimewa, namun saya cukup puas

“You can’t manage what you can’t measure.”

Peter Drucker

Kita tidak akan dapat mengelola apa yang tidak dapat kita ukur. Kata itu sempat saya temukan dalam sebuah buku. Sekejap saya telusuri, kata tersebut ternyata berasal dari seorang pemikir terkait manajemen, Peter Drucker. Oleh karena itu saya akan mencoba untuk menilai tulis tulisan saya dalam setengah tahun belakangan.

Jika harus jujur, tulisan yang berhasil saya posting hingga pertengahan tahun 2021 ini masih sangat kurang. Jika ditotal, saya hanya berhasil mempublikasikan 9 tulisan. Sangat dikit tentunya bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang bisa belasan dalam kurun waktu satu bulan saja.

Dari sisi keberagaman tulisan pun, saya merasakan masih sangat kurang beragam. Kebanyakan dari tulisan saya kebanyakan berupa ulasan dari buku yang saya baca. Kalaupun ada kategori lain, sifatnya hanya tulis tulisan ringan yang sebenarnya kurang begitu oke untuk dibagikan.

Photo by Dominika Roseclay from Pexels

Belum lagi dari segi editorial yang banyak sekali kesalahan penulisan dimana-mana. Yah, itu memang menjadi salah satu kelemahan saya dalam tulis menulis ya. Dan saya memahami hal ini memang perlu selalu diperbaiki, dan semestinya akan lebih mudah sekarang karena sudah banyak perangkat yang dapat digunakan untuk membantu kita mengoreksi jenis kesalahan tersebut.

bagiku menulis bukan sekedar untuk mengejar materi. lebih dari itu, saya menulis untuk keabadian #tsaah

“Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Pramoedya Ananta Toer

Saya sedikit terinspirasi dari quote ini. Sederhana namun mengena. Saya rasa sudah banyak teman saya yang bertanya tentang jumlah nominal uang yang saya dapat dari menulis. Untuk menjawabnya tentu tidaklah mudah, karena niatan utama saya untuk menulis bukan untuk mendapatkan keuntungan secara materi.

Meskipun dalam perjalanannya saya sesekali pernah mendapatkan endorse untuk menuliskan ulasan tentang sebuah produk dengan imbalan yang tentunya masih berupa kupon belanja. Itu pun tidak saya gunakan karena pada saat itu saya tidak ada kebutuhan untuk membeli sesuatu barang dari kupon itu.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian kata Mbah Pram. Frasa itu sering sekali terdengar di sekitar saya. Saya setuju dengan frasa tersebut, meskipun saya pun menyadari bahwa frasa tersebut tidak dapat serta merta kita serap tanpa ada makna dari diri kita sendiri. Saya rasa keabadian akan terasa hampa tanpa adanya makna.

Berdasarkan pemikiran tersebut, mungkin sudah saatnya saya sematkan “makna” yang akan menjadi misi utama dalam blog saya ini dan juga tentunya akan berdampak pada tema, sudut pandang, serta cara penyampaian tulisan saya di tulisan ini ke depan.

Pendapat menarik tentang hakikat menulis dari seorang Raditya Dika. Saya menyukai beberapa bahasan dalam podcast dia di sini dan menurut saya sangat relevan dengan apa yang ada sekarang.

Harus saya akui bahwa konsisten untuk menulis adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Bahkan untuk saya yang termasuk cukup lama dalam dunia ini, masih saja terdapat bulan yang tidak produktif sama sekali. Sebulan penuh tanpa hasil memang bukanlah sesuatu yang membanggakan untuk bogger yang sudah memulai menulis blog dari 10 tahun lalu.

Jika berkaca lagi pada apa yang mendorong saya untuk tetap menulis sebenarnya sangat sederhana yakni ingin sekedar berbagi tentang apa yang saya pikirkan saja. Itu saja dan tidak lebih. Namun tujuan tanpa arah tersebut, kadang justru menjadi alasan yang berulang kali muncul sebagai pembenaran untuk tidak konsisten dalam menulis.

Photo by Burst from Pexels

Untuk mengatasi hal tersebut, saya berpikir akan mencoba untuk mereka ulang alasan saya kembali. Dari yang sekedar untuk berbagi pikir menjadi sebuah kebutuhan untuk branding diri. Yup, teman sekalian tidak salah baca. Blog saya ini akan menjadi personal brand bagi saya baik secara profesional maupun personal.

Untuk mencapai hal tersebut, maka saya dengan ini memperkenalkan kepada teman sekalian bentuk baru dari blog saya sekarang. Tidak hanya berubah dari segi tampilan, namun perlahan akan saya sesuaikan untuk kembali menceritakan apa yang ada dalam pikiran saya baik sebagai profesional dalam bidang ketertarikan saya maupun kepribadian saya.

Salam dari saya

Dewa Putu AM 🙂

Feature Photo by Burst from Pexels

Leave a Reply

Related Posts
Total
3
Share