Dark Light
Photo by Engin Akyurt from Pexels
(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Hai, Bagaimana kabar kalian di sana? Beberapa hari ini melelahkan ya kawan. Melihat pemberitaan yang ada, mengharuskan kita untuk mengakui bahwa kondisi sekarang memang tidak sedang baik baik saja. Tidak masalah untuk mengakui itu, bukanlah dosa kok. Tidak baik baik saja bukanlah kutukan yang harus disembunyikan. Kita tidak harus pura pura tegar bagai batu karang yang dihempas berbagai halangan yang merintang. Yah, kita memang hanya seorang manusia yang bisa saja merasakan terpuruk. 

Hidup terkadang memang jahat. jadi tak perlu bersusah payah membohongi dan berangan-angan tentang hari esok yang secara ajaib akan menjadi seperti sedia kala. Kita perlu menerima semuanya entah itu rasa manis ataupun rasa pahit yang menggigit. Tidak mudah memang, namun itu satu satunya yang perlu kita perbuat, sebelum kita berusaha mengobatinya,

Menerima kondisi kita bukan berarti kita harus dengan pongahnya bersiar kabar bahwa kita adalah korban dari tokoh khayalan kita yang semena mena memperlakukan kita dengan tidak adil. Kalau toh memang benar apakah semua itu akan menjadikan kita lebih baik? Atau setidaknya merasa lebih baik. Jika jawabannya Ia, maka lanjutkanlah apa yang kamu rasa benar.

Lagi pula, sekuat apapun usaha yang dilakukan, kita tidak akan bisa memaksakan apa yang menjadi rasa dan kuasa orang lain. Bersusah payah untuk mengubah apa yang diluar kendali kita seperti itu bukan hanya sia sia, namun mengganggu fokus kita yang seharusnya mengubah apa yang ada di dalam kendali kita. Itu saja cukup.

Kita Nomaden yang berpindah dari Satu Tempat Ketempat Lain, dan dari Satu Situasi ke Situasi Lainnya

(Photo by 祝 鹤槐 from Pexels)

Jika kita lihat lagi kebelakang, banyak hal yang sudah kita lewati sampai jadi seperti sekarang ini. Banyak hal yang kita lalui dengan berbagai rasa yang tersimpan meninggalkan kesan di dalam ingatan kita, entah itu kesan yang membuat kita tersenyum simpul ataupun kesan yang kadang membuat kita bergidik.

Kabar baiknya, kita sudah melalui itu semua. Kabar buruknya juga kita telah lalui itu semua. Meski dari frasa nya tampak sama, namun percayalah kita ketahui bersama kalau semua itu berbeda. Jika beruntung terkadang hal buruk akan berlalu begitu saja dan digantikan kebaikan yang berlimpah. Namun jika sedang terpuruk kadang hal buruk pun kemudian diselipi hal yang lebih buruk lagi.

Tapi setidaknya, alih alih menyerah, kita sudah sampai di sini sekarang. Ya, dengan perjuangan heroik yang luar biasa, kita terus bergerak. Kita terus melangkah walau tidak jarang kaki ini sudah lelah. Kalian hebat kawan.

Diakui atau tidak, perjalanan kita sekarang merupakan perjalanan yang luar biasa ya kawan. Kita terus berjuang dalam berbagai kesulitan yang menghadang, walau sebagian dari kita ada yang letih tertatih untuk sampai sini saat ini. Apapun jalan yang kita lalui itu setidaknya kita sampai sini sekarang. Kita tidak tahu dimana titik finis dari perjalanan kita kali  ini semua orang melukis kisah yang berbeda dengan tinta dan kanvas yang berbeda pula. 

Tetapi ada satu yang sama, Kita Semua Nomaden. Nomaden yang berpindah dari satu tempat ketempat lain, dan dari satu situasi ke situasi lainnya. Mungkin ada beberapa diantara kita, kerabat kita dan kawan kita yang tidak dapat melanjutkan perjalanan ini. Namun yang perlu kita tahu mereka mereka semua itu masihlah seorang pejuang, yang terus berjuang sampai garis akhir mereka dan kemudian terpisah menuju kisah yang selanjutnya. Sebuah kisah yang akan mempertemukan kita kembali di sana.

Sebuah Buku yang Menulis Tentang Perjalanan Kita

(Photo by Engin Akyurt from Pexels)

Pernah terbesit dalam benakku, apakah perjalanan kita ini sudah layak dijadikan sebagai tema besar dalam sebuah buku sejarah setebal ratusan bahkan ribuan lembar?

Coba kita berangan angan, perjalanan kita sekarang akan tercatat dalam buku sejarah dimana ada sebuah generasi terus melangkah bahkan dalam situasi  yang sangat sulit dan sangat mungkin untuk kalah. Generasi kita cukup tegar meski permasalahan harus kita akui terus bermunculan di sana sini.

Oh ia dalam buku itu kita juga akan ditulis sebagai generasi yang tidak pernah meninggalkan sisi manusia kita, dalam situasi  apapun. Kita saling menguatkan orang orang disekitar kita, kita selalu berbagi aura positif namun terjaga realistis. Berita bohong, saling tuding salah tanpa solusi entah apalah itu. Di generasi kita tidak pernah hal hal serendah itu bukan.

Tidak ada itu istilah covidiot, karena kita semua cerdas dan bijak dalam menghadapi ini semua. Tidak ada orang yang hanya bisa memaki maki dan julid kepada apa yang menjadi keharusan pihak berwenang namun salah dilakukan. Karena kita semua sadar bahwa kita semua memiliki keharusan dan kewenangan yang paling berpengaruh terhadap apa yang terjadi pada diri kita sendiri. Hal ini karena kita semua memahami, bahwa di situasi sulit seperti ini saling menyalahkan dan berkeluh kesah bukan hal yang bijak bahkan terbesit dalam alam pikir kita pun sepertinya tidak pernah. Kita sadar bahwa meskipun sulit, kita tidak akan pernah meninggalkan sisi kemanusiaan kita. 

Buku sejarah yang indah ya kalau ditulis seperti itu. Namun sebelum buku itu selesai ditulis, tetap bertahan ya kawan. Dan tetaplah berjuang sampai garis akhir. Cerita ini akan terus tertulis, apapun yang kita lakukan akan terus tertulis dalam kisah kita.

“Sejarah ditulis oleh pemenang”, demikian ungkapan Winston Churchill mantan perdana menteri Britain paling terkenal di dunia. Jadi untuk dapat menuliskan sejarah ini jadilah pemenang. Lakukan apapun yang kamu anggap benar tanpa melukai sisi kemanusiaan kita agar sejarah yang kita tulis akan tampak manis dan layak untuk dibanggakan kepada generasi generasi setelah kita. Akan seperti apa generasi kita dikenal sangat tergantung dari apa yang kita lakukan sekarang.

Salam Hangat Dari Saya

Dewa Putu AM

NB: Featured Image by Josh Hild from Pexels

2 comments

Leave a Reply

Related Posts
Total
128
Share