Dark Light

Melanjutkan cerita saya di minggu lalu dalam tulisan di tautan ini. Saat mendapatkan kabar untuk panggilan wawancara untuk melanjutkan studi S2 tepat saat saya akan pergi menuju lokasi project pemetaan di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat. Di bandara saya Soekarno Hatta Cengkareng saya pun meminta kelonggaran pada admin studi saya dalam panggilan telepon. Saya menceritakan kondisi saya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti wawancara secara langsung karena ada project yang harus diselesaikan di lapangan. Saat itu saya pasrah dan menunggu keputusan dari kampus, dan syukurlah saya diberikan kelonggaran untuk mengikuti wawancara cukup melalui email saja.

Permasalahan sebenarnya tidak sampai situ saja. Pada saat ini mungkin berbalas email akan sangat mudah saya lakukan. Gawai yang ada sekarang sudah lebih dari cukup untuk sekedar menjawab beberapa pertanyaan dari wawancara melalui email. Namun kondisi saya saat itu cukup berbeda, saya saat itu hanya bisa mengandalkan feature phone Nokia 3110c dan satu laptop Acer. Oh ia ada satu modem Smartfren :), harapan saya dulu di modem itu, sepertinya dah mumpuni.

di tengah kebun saya Menggeser visi dari anak kebun jadi praktisi manajemen bencana

Dan rencana pun tinggal rencana. Ternyata modem yang ada tidak dapat digunakan karena jaringannya tidak sampai sana. Selain itu padatnya kegiatan survey saya di lapangan tidak memungkinkan saya untuk berkonsentrasi menjawab setiap pertanyaan yang ada. Jangankan untuk menjawab pertanyaan, mengakses email pun cukup sulit bagi saya. Akhirnya saya mencoba menghubungi salah satu teman saya yang sedang studi di Jogja. Namanya Andrew, dia teman sepermainan saya sejak masih bocah ingusan hehehe.

Pendek kata akhirnya saya meminta bantuan dia untuk mengakses email saya dan mengirimkannya pertanyaan wawancara saya via SMS. Kemudian saya menjawab pertanyaan itu lagi via SMS lagi dan dia yang akan meneruskannya melalui email. Repot banget ya hidup dulu kalau dipikir pikir. Sedikit repot memang namun dengan bantuan teman saya itu akhirnya saya bisa lolos wawancara untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan Studi di Jurusan “Geoinformation for Spatial Planning and Disaster Risk Management” Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Lucunya, Saya yang saat itu menenteng seperangkat GPS Geodetic di tengah project perkebunan sawit. Saat itu menjadi salah satu impian saya saat lulus kuliah IPB untuk bekerja di bidang Perkebunan. Hal ini justru seolah menjadi perpisahan saya dari bidang pertanian kemudian beralih untuk menekuni dunia manajemen bencana. Yah, tidak begitu signifikan memang transformasi yang saya lakukan. Karena saat di bangku kuliah dan tema skripsi saya juga tentang bencana yakni kekeringan.

Saya sedang mencatat dan menggambar sketsa lokasi GCP. Sambil menunggu proses pengukuran, sesekali saya mengecek HP saya untuk menjawab wawancara via SMS. Butuh waktu cukup lama untuk setting alat ini dan dalam akuisisi data koordinat juga lumayan lama agar lebih akurat, sampai mm.

Beberapa hari sepulang dari project, dan setelah saya mendapatkan informasi bahwa saya berhasil lolos tahap wawancara saya pun resign dari perusahaan konsultan tersebut. Cukup sedih saat meminta ijin namun dari atasan saya Pak Yaw Yeng Yaw pun akhirnya mendukung karena kesempatan ini cukup baik untuk saya ke depan. Sangat jahat bagi beliau kalau tidak mendukung saya. Setelah mengemasi barang, saya akhirnya saya berangkat menuju Jogjakarta. Sebuah kota yang menjadi inspirasi banyak orang hingga dibuatkan banyak sekali lagunya. Di dalam kereta Gambir menuju Stasiun Jogja saya membayangkan apa yang akan saya temui di sana.

Jogja, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan #Katanya

Sesampai di Jogja, saya sudah membuat janji dengan salah satu teman saya di IPB yang terlebih dahulu diterima dan melanjutkan kuliah di Jogja. Masih satu angkatan si, tapi dia sudah sampai sebelumnya bernama Mayun. Saya menumpang di kos dahulu sambil mencari kos dengan harga terjangkau. Keesokan harinya saya ada “perkenalan dengan kampus”. Agar tidak terlambat besoknya, saya dan kawan saya coba untuk melakukan survey lokasi terlebih dahulu.

Keesokan harinya, saya pun masuk ke suatu ruangan perkuliahan saya yang baru. Berpakaian rapi, pakai kemeja, celana bahan dan berkacamata. Saya sengaja pakai pakaian serapi itu karena jujur saya tidak tahu bentukan teman yang akan saya temui di kelas nanti. Dari beberapa referensi dan kata teman, mahasiswa S2 cenderung klimis dan formal. Itu yang ada di bayangan awal saya hahaha. Ternyata bayangan saya kurang tepat. Ternyata tampilan mahasiswa S2 tidak jauh berbeda dengan mahasiswa S1 cuma kalau dirata rata, mahasiswa yang sudah berkumis dan berjanggut sedikit lebih banyak hehehe.

Ini teman-teman saya saat melanjutkan studi saya di Jogja. Di sini saya jadi paling bungsu dibandingkan teman-teman lainnya saudara-saudara. 80% dari mereka adalah PNS kece dari berbagai macam daerah yang sedang lanjut studi. Dan 20% lainnya (termasuk saya) orang yang melipir iseng lanjut studi. 🙂

Di Jogja, selain bertemu dengan teman-teman masa kecil saya Andrew dan Wahyu, dengan teman seperjuangan di IPB dulu Mayun dan Deva. Saya juga akhirnya mendapatkan teman baru dari yang sangat serius belajar hingga teman se penderitaan ditegah kesibukan kuliah masih menyempatkan diri untuk sekedar kumpul karaoke, wisata kuliner dan jalan-jalan.

Dari 2013 hingga tahun 2015, Saya menghabiskan kisah saya di Jogjakarta. Selain belajar dan mengerjakan tugas perkuliahan yang menurut saya cukup banyak, saya menyempatkan diri untuk mengajar privat satu anak SMA untuk mata pelajaran Fisika dan Kimia. Yup dua pelajaran itu memang bukan bidang studi saya waktu kuliah. Namun untuk sekedar pelajaran SMA, sedikit-sedikit saya masih ingat prinsip dasarnya.

Kembali ke dunia perkuliahan saya, Mata kuliah yang saya pelajari saat itu mulai terfokus pada pemetaan risiko bencana. Saya mulai mempelajari bagaimana proses dalam pengkajian risiko. Akan panjang sekali (2 tahun) lamanya kalau saya harus menjelaskan apa saja yang saya pelajari. Pastinya kebanyakan dari materi-materi itu sudah banyak yang saya lupa detailnya seperti apa akan tetapi rasanya saat belajar masih jelas sekali. Lupa nama ingat rasa kalau kata bapak-bapak.

Disana saya mulai belajar untuk membuat layout peta yang standar dan lebih informatif. Jika sebelumnya saya membuat peta buta, yang hanya menampilkan pulau dan legendanya saja. Namun di sana saya mulai melengkapi peta buatan saya dengan informasi standar yang seharusnya ada pada sebuah peta.

Saya sadari setiap kasus tentunya akan membutuhkan pendekatan yang berbeda, begitu juga dalam pengelolaan data spasial. Tapi kalau boleh jujur saya cukup puas si dengan hasil analisis yang sudah mulai lengkap itu. Dengan alasan untuk mempermudah penyamaan pemahaman antara si pembuat peta maupun sang pembaca peta. kesamaan pemahaman terkait konteks waktu, kewilayahan dan permasalahan.

Oia, aplikasi yang saya gunakan juga berbeda dari sebelumnya pada awal tahun 2011-an saya masih memakai ArcGIS. Di studi saya di Jogja mulai di akrabkan dengan pengelolaan menggunakan QGIS. Sebuah aplikasi yang bersifat opensource. Meskipun dalam perkembangannya (5 tahun terakhir ini) apa yang sebelumnya saya sangka sangat keren, kini sepertinya perlu saya koreksi lagi.

Wah tampaknya sudah sangat panjang ya tulisan saya. Saya rasa masih sangat kurang untuk menceritakan kisah saya di Jogja. Jadi saya potong dulu tulisan saya di sini. Sepertinya tidak akan ada yang rela membaca sampai sini ya tapi terima kasih untuk teman-teman yang sudah merelakan waktunya untuk sekedar membaca cerita dari saya. Di tulisan berikutnya saya akan menceritakan lagi tentang Jogja. Sesuatu di Jogja pun belum sempat saya ceritakan dalam tulisan ini juga ternyata. 🙂

Bersambuang,…

Sampai jumpa, salam sehat untuk teman teman semuanya

Dewa Putu A.M.

Nb: Feature Photo by Rafli from Pexels

Leave a Reply

Related Posts
Total
1
Share