Dark Light

Dari judulnya teman-teman pembaca tentu sudah dapat mengira akan kearah mana tema pembahasan pada tulisan saya pada hari ini. Tulisan ini masih melanjutkan 3 tulisan yang mengambil tema 10 tahun bersama GIS. Sama dengan cara penulisan sebelumnya saya akan berusaha untuk lebih menonjolkan pada peran banyak orang terhadap perubahan pemikiran saya selama 10 tahun terakhir.

Saya, Maskus dan Uda Febri di padang rumput sebelah Telaga Warna, pura puranya mau foto foto lucu ditengah aktifitas kita saat ikut mas Imam saat pengukuran rutin kadar Gas Beracun.

Pengalaman penelitian di Dieng, merupakan pengalaman yang menurut saya sulit untuk dilupakan. Bukan karena tema penelitian yang berbeda, justru menurut saya dari sisi tema saya mengambil yang masih sejalur dengan tema yang saya ambil pada saat skripsi di IPB dulu. Masih di tema kekeringan pertanian. Jika boleh sedikit bercerita tentang teori.

Pada dasarnya kekeringan, dari sudut pandang kita melihatnya ada empat jenis. Kekeringan secara meteorologis yang bercerita tentang ada tidaknya “anomali” curah hujan bila dibandingkan dengan situasi “normalnya”. Kekeringan hidrologi yang lebih banyak bercerita tentang anomali dalam aliran sungai, danau, air bumi. Dan kekeringan pertanian yang lebih banyak mencermati defisit Supply air terhadap Demand untuk berjalannya sistem pertanian secara optimal. Sedangkan Kekeringan Sosial Ekonomi yang juga menyoroti supply dan Demand tetapi lebih condong pada kebutuhan sosial ekonomi secara luas.

Keluarga Ceria di Desa Hijau Sejuk Tengah Kabut “Ratamba”.

Nama Ratamba, jujur baru sekali saya dengar sebelum saya ke sana. Pada awal saya ke Dieng untuk melakukan observasi awal, saya ditemani oleh teman kampus saya yang juga meneliti kawasan tersebut Uda Febri dan Mas Kusnadi. Saat itu saya direkomendasikan oleh salah satu dosen untuk menemui Pak Rudi, yang saat itu menjadi bapak Kades di Desa Ratamba.

Selama penelitian di Dieng, saya dan Dwi (teman satu kampus) yang meneliti tentang gas beracun menginap di rumah Pak Rudi, Bu Ririn (Istri Pak Rudi) dan anak mereka Sefa. Pada awal saya ke sana, memang tidak sedingin di Kantor Pengamatan Gunung Api Dieng (PGA) karena dari ketinggiannya juga sedikit lebih rendah sekitar 1400an mdpl kalau tidak salah, sedangkan di PGA berada di ketinggian 2100 mdpl. Di bawah ini saya sertakan peta daerah Ratamba sebagai gambaran untuk teman pembaca.

Namun dinginnya ratamba, tidak jauh berbeda dengan wilayah lainnya. Kabut akan muncul di pagi hari, sore dan setelah hujan. Jika terlambat pulang maka kami harus bersiap siap untuk lebih berjaga berkendaranya karena tebalnya kabut.

Di tengah dinginnya Ratamba, Keluarga Pak Rudi, sangatlah ramah kepada kami meskipun kami tergolong baru bertemu dengan mereka. Kalau bisa jujur kami masih sangat berhutang kepada mereka. Masakannya enak-enak sekali :). Dan sambel dari si Ibu, ya Tuhan itu jadi sambal terpedasnya sampai saat ini. Cabai yang dipakai katanya cabai Bandung, yang memiliki bentuk seperti paprika namun dengan ukuran yang kecil dan pedasnya melebihi cabai rawit orange. Dan ada satu lagi makan khas juga yang baru saya rasakan di Ratamba yakni Nasi jagung yang bentuknya seperti batu bata. Kombinasi nasi jagung, sambal super pedas, sayur ditambah dengan teri #sempurna sekali. Nikmat apalagi yang kamu dustakanlah setelah menikmati makanan seenak itu.

“Hipotermia” di Kawah Candra Di Muka Hanya Karena Ingin Dianggap Akamsi (Anak Kampung SIni)

Selama masa pengambilan data dan wawancara, saya dan Dwi berdua mengendari motor menyusuri kawasan Dieng dengan tujuan yang berbeda. Saya fokus pada memetakan lokasi-lokasi sumber air seperti Telaga, Embung dan mewawancarai petani di sana. Sedangkan Dwi, lebih fokus untuk melihat lokasi lokasi gas beracun (ngeri sekali bukan) dan mewawancarai saksi sejarah Letusan Sinila 1979.

Sampai disini masih tampak oke dan baik-baik saja bukan. Sekarang dari cara wawancaranya seperti wawancara biasa, karena sudah beberapa kali melakukan jadi tidak perlu diceritakan. Saat itu saya punya ide brilian (bodoh).Idenya seperti ini agar narasumber yang kami wawancarai lebih nyaman, saya rasa perlu berpenampilan seperti mereka yang sudah terbiasa di Dieng. Atau bahasa mudahnya saya berusaha berpenampilan warga lokal (yang sudah terbiasa dengan dingin). Sayapun menyusuri Dieng tanpa mengenakan Jaket dan hanya membawa sarung berbahan sangat tipis. 🙂

Namun ternyata tebakan saya salah. Sepanjang perjalanan, memang saya melihat banyak warga yang menyelempangkan sarung di leher mereka. Poin itu saya benar. Yang salah adalah, kebanyakan dari mereka memakai jaket. “Epic Fail” kata Dwi sambil terkekeh melihat saya baru menyadari itu. Akhirnya sepanjang perjalanan saya pun bergetar tidak karuan karena udara yang begitu dingin. Bahkan ada saat kami, terjebak hujan sangat deras saat kami hendak melihat Kawah Candra Dimuka dan Telaga Dringo.

Saat itu, semua badan saya serasa membeku dan perih plus menggigil tidak karuan. Yah, orang dengan minim lapisan lemak seperti saya memang sepertinya punya kelemahan di wilayah dingin. Jadi saat dingin menyerang, langsung menusuk ke tulang tanpa adanya penghalang. Dwi dan saya akhirnya melihat adanya Bilik di dekat sana dan juga ada petani yang sedang membuat perapian mengundang kami untuk berteduh bersama mereka.

Melihat saya yang menggigil tidak karuan dan mulai kram di segala macam persendian saya, akhirnya saya diberikan jaket oleh Dwi, teman saya saat itu, dan juga petani yang bersama kami memberikan kami minuman teh hangat. Setelah beberapa saat kami pun berpindah tempat berteduh, yang memiliki perapian yang lebih besar. Disana saya mulai menghangatkan badan saya dengan mendekatkan ke Api. Bahkan bisa dikatakan pakaian saya yang basah oleh hujan saya tempel-tempelkan langsung ke dalam api.

Meneliti Kekeringan di Musim Penghujan

Salah satu hasil peta saya saat pengerjaan penelitian. Oia ada juga balasan dari pembimbing 1 Saya Prof Junun Sartohadi, yang saat itu saya sedang menguji homogenitas data curah hujan.

Entah karena takdir atau memang bidang minat saya di tema kekeringan. Menurut saya kekeringan adalah jenis bencana yang sangat unik. Kekeringan itu jenis bencana yang sulit untuk di ungkapkan batas batasannya baik secara kewilayahan maupun dari sisi waktunya. Untuk itu kita perlu definisikan dahulu batas kekeringan yang kita maksud baik dari sisi waktu dan juga kondisi fisis yang seperti apa.

Karena saya meneliti kekeringan dari sisi pertanian maka pembatasan waktu saya adalah “situasi saat Supply Air yang ada tidak mencukupi Kebutuhan air untuk tanaman”. Dari sisi kewilayahan saya, saya mencoba membuat pemodelan pertumbuhan tanaman beserta kebutuhan airnya. Saya di sini mengasumsikan bahwa untuk dapat tumbuh secara optimal tanaman perlu memenuhi kebutuhannya untuk melakukan Evapotranspirasi. Nilai Evapotranspirasi setiap sepuluh harian itu saya coba hitung dengan menggunakan curah hujan 10 harian selama satu tahun. Jadi ada sekitar 36 Dasarian. Formula yang saya gunakan adalah Evapotranspirasi Referensi (ETo) Penman Monteith.

Rumus Penman Monteith yang saya gunakan saat penelitian dulu. Sederhana sekali ya rumusnya hehehe.

Sayangnya itu hanya sebagian rumus yang saya pergunakan. Karena data untuk menjadi masukan dari rumusan itu sangat sulit didapatkan. Sehingga saya pun mengakali dengan menggunakan metode perhitungan variabel-variabel seperti suhu serta radiasi setiap dasarian dengan menggunakan data curah hujan, Weather Generation yang disusun oleh Pembimbing Akademik saya di IPB.

Apakah hanya itu saja, tentu tidak ferguso. Untuk sedikit memperlihatkan tahapan yang saya jalani dalam mengelola data untuk Thesis saya, berikut ini adalah “ringkasan” dari alurnya.

Rangkuman Diagram Alir Pengerjaan Thesis Saya (link)

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih terperinci lagi, saya mencoba tidak hanya menghitung di beberapa titik sample saja. Alih alih melakukan demikian saya pun menghitung di 70,000 titik sample. Perhitungan itu saya hitung dengan menggunakan Excel. Yup, teman teman tidak salah baca. Saya memang melakukan perhitungan tersebut dengan menggunakan Excel tapi dibantu dengan R Data Studio juga untuk beberapa perhitungan khususnya saat melakukan perhitungan PCA.

Saat menceritakan cara pengerjaan saya, dengan santainya, Pak Danang (Dosen pembimbing 2 saya) berkata sambil tersenyum “Laptopmu pasti ngehank terus ya di siksa seperti ini. Saat saya menunjukan ukuran satu tabel saya yang berukuran 70000 baris dan 250 kolom. Dengan tersipu saya menjawab dengan sedikit terbata bata “Ia pak” setiap langkah perhitungan atau sekitar 36×70000 cell tersebut saya biasanya memerlukan waktu 45 menit.

Sejenak saya berpikir dan tersenyum tipis, ternyata penelitian kekeringan yang saya lakukan tidak hanya saya hitung saat musim hujan, namun saat pengolahannya pun hujan pun masih berlanjut “Hujan air mata”.

Halah hahaha #EpikFail, saya coba buat penutupan yang keren dan puitis tapi ternyata sulit yak. Yasudah, saya rasa cukup sampai sini saja dulu ya tulisan saya saat ini. Pada tulisan berikutnya akan saya ceritakan perjalanan saya menelusuri Dieng bersama Boss Priyo, Alm Bang Bembeng, Tiyar dan Dwi.

Saya rasa cukup sekian saja tulisan dari saya saat ini. Sepertinya sudah banyak yang saya ceritakan. Dan untuk merangkum perjalanan saya selama 10 tahun ini cukup sulit ternyata ya hingga akhirnya sangat mungkin kalau ada beberapa detil yang sedikit terlupakan dan belum sempat saya ceritakan. Sampai jumpa di minggu depan 🙂

Salam

Dewa Putu A.M.

Feature Photo by Andrew Neel from Pexels

Leave a Reply

Related Posts
Total
8
Share