main

BukuPsikologiUncategorized

[Buku] The Leader Who had No Title “Seni Memimpin Tanpa Jabatan” karya Robin Sharman

October 15, 2019 — by dewaputuam0

cooperation-hands-handshake-1198171-960x640.jpg
Buku Seni memimpin tanpa jabatan karya Robin Sharman memberikan kita pengalaman baru akan sebuah buku pengembangan diri yang cukup renyah dan mudah dibaca. Jauh lebih penting dari pada itu buku ini pula mengingatkan kita agar kita tidak terjebak dalam 10 penyesalan manusia, apa itu? silahkan baca buku ini hehehe (Sumber ilustrasi: Young On Top)

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit mengulas tentang buku menarik yang baru saja saya baca. Sebuah buku dengan judul yang bagi saya, terlihat agak kurang santai dan berkesan seperti pola pola pikir penuh dengan angan dan rasa optimis akan diri sendiri yang berlebih. Itu adalah pandangan awal saya terhadap judul dan design buku karya Robin Sharman. satu satunya hal yang membuat saya tertarik untuk membaca buku ini adalah latarbelakang penulis yang merupakan konsultan kepemimpinan di berbagai perusahaan besar seperti Microsoft, GE, Nike, FedEx dan IBM.

Dari latarbelakang yang demikian kece menurut saya dan masuk kategori best seller international, akhirnya saya menilai buku ini layak saya baca dan berharap akan menemukan banyak poin menarik di buku ini. Meski cara saya memilih buku yang seperti ini berkesan sedikit nista tapi nyatanya saya jarang kecewa dengan buku-buku yang saya pilih dengan cara seperti ini hehehe.

Buku karya Robin Sharman tidak mengecewakan saya, buku ini secara garis besar menyajikan cara dan nilai yang unik untuk sebuah buku pengembangan diri. Saat membaca buku ini kita akan sedikit dijauhkan dari kesan buku panduan yang membosankan, dan membaca buku ini berasa seperti membaca novel dengan alur cerita yang cukup enak diikuti.

Kita tidak diberikan kisah kisah sukses seseorang yang saat ini sudah sukses tapi kita diajak bergerak justru dari sebuah kisah seorang penjaga toko buku yang biasa saja

Sosok pemimpin bagi sebagian besar orang selalu diidentikan pada “Pemimpin” yang diangkat serta dilekatkan pada jabatan tertentu. Hal inilah yang kemudian membawa kita pada berbagai pemikiran yang menyesatkan (Sumber ilustrasi: Varoun Baga)

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, buku ini disampaikan bak sebuah novel dengan alur cerita yang cukup menarik. Melalui buku ini kita akan dibawa pada sebuah kisah seorang penjaga toko buku bernama Blake yang sedang berada dikondisi yang mungkin sedang dialami bagi sebagian orang saat ini. Kondisi sudah tidak ada gairah dan hanya bekerja sekena dan alakadarnya saja. Entah karena kecewa, ataupun sidah tidak bisa mengharapkan apa apalagi (eeee malah curhat hehehe). Dan kemudian suatu hari, blake dipertemukan dengan seorang rekan kerja nyentrik, dengan gaya berpakaian yang isa dikatakan ajaib bernama Tommy.

Di balik keajaiban dan kenyentrikan rekan kerjanya tersebut ternyata ada sesuatu fakta yang tidak dapat dianggap biasa. Dialah seseorang yang selalu menyandang karyawan terbaik di perusahaan pertokoan buku tersebut selama bertahun tahun dengan hadiah liburan ke berbagai tempat berkali kali. Dia juga sudah berkali kali diajukan untuk menjadi pimpinan di perusahaan tersebut namun berkali kali pula ia tolak. Dari segi materi pria itu juga sudah masuk kategori yang tidak berkekurangan sama sekali. Dan pria tersebut ternyata teman dari almarhum ayahnya blake. Sebuah cerita yang begitu klise dan sering kita temukan di novel novel ya hehehhe.

Dari pertemuan ini kemudian dimulailah perbincangan dan petualangan Blake dan Tommy untuk menyelami dunia kepemimpinan tanpa jabatan yang selama ini dijalani oleh Tommy dan membawanya ke kesuksesan seperti ini. Ada suatu ide menarik dalam perbincangan pertama mereka berdua yang membuat saya sexikit tersadar meski sebelumnya dalam beberaa buku menyebutkan bahwa dirikita tidak begitu spesial namun dalam buku ini kita juga diajarkan diri kitq pun tidak begitu tidak spesial. Kita lah satu satunya yang bisa menjadi diri kita sebaik baiknya. Di umur yang singkat manusia (960 bulan) akan sangat disayangkan bila kita tidak bekerja secara maksimal mengeluarkan segala apa yang ada dan diberikan Tuhan pada kita.

“Apa yang lebih sempurna dari pada melihat dunia yang “sedikit membaik” karena keberadaan dan perbuatan kita selama ini.”

Robin Sharman

Di beberapa buku menyebutkan kita bukanlah orang yang begitu spesial jadi tidak perlu terlalu dipikirkan dan terhanyut dalam penyesalan bila kita melakukan kesalahan. Kebanyakan dari kita bukan orang spesial yang dapat menyelamatkan dan memberikan pengaruh serta perubahan besar pada dunia. Ini adalah pola pikir yang menurut saya benar dan realistis namun benar pula kalau kita memang tidak begitu tidak spesial sehingga meskipun sedikit, kita sebenarnya bisa membuat dunia lebih baik dengan kerja kita.

Para Guru nyentrik yang mengajarkan kita secara perlahan tentang tidak hanya menjadi pemimpin tanpa jabatan, tetapi bagaimana menjadi kita yang seutuhnya

Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan, Dan pemimpin sejati mengambil peluang langkanya hal tersebut untuk tetap “Mendengar” (Sumber ilustrasi Keegan Everitt from Pexels )

Tommy kemudian membawa Blake mengunjungi keempat guru yang membuat dirinya menjadi pemimpin tanpa jabatan seperti sekarang. Keempat guru tersebut menurut saya sangat unik dan berkarakter hingga memberikan pada kita gambaran yang lebih menarik tentang apa apa saja yang sedang mereka bahas. Unik kata itu yang pertama kali terucap, ketika membaca karakter para guru di buku ini. Masing masing guru tersebut juga mengajarkan beberapa nilai penting terkait topik tersebut dalam satu singkatan.

  1. Seorang pelayan hotel bintang 5 yang menyampaikan bahwa “Kita tidak butuh jabatan untuk memimpin” . Aturan dasar dalam topik ini dirangkum dalam singkatan “IMAGE” (Inovation, Mastery, Authenticity, Guts dan Ethics). Kutipan penting yang menurut saya paling menarik adalah “Tak ada pemimpin hebat mencapai tangga tertinggi dengan berpegang erat pada alasan berdasar rasa takut. Korban selalu punya alasan, sampai mati. Dan, secara umum, orang yang ahli mengarang alasan biasanya tidak mahir melakukan yang lain.
  2. Seorang pemain ski profesional yang menyampaikan masa masa bergejolak membentuk pemimpin hebat . Sebagai pemain sekaligus pelatih ski profesional tentu sangat familiar dengan konsep konsep seperti ini, dalam bermain ski akan sangat sulit bila dilakukan di tempat landai (tidak ada tantangan sama sekali). Banyak konsep menarik di bab ini. Lima aturan penting untuk sebagai respon dan memanfaatkan masa masa bergejolak dirangkum dalam kata SPARK (Speak wit candor, Prioritize, Adversity breeds opportunity, Respond versus react, Kudos to everyone). qoutes yang menurut saya paling menarik dari bagian ini adalah “Kau dapat berbicara dengan terbuka dan mengungkap semua yang perlu kau sampaikan pada siapapun selama kau menggunakan bahasa yang pantas dan menjaga harga diri pendengarnya.” Qoute ini saya rasa sangat sesuai dengan beberapa polemik yang kita hadapi saat ini, terkadang kita lalai dalam hal menjaga harga diri pendengar atau orang yang sedanh kita bicarakan dan dengan pongahnya berkata ini hanya sebuah kritik yang mau tidak mau akan selalu ada.
  3. Seorang tukang kebun yang mantan CEO perusahaan besar menyampaikan topik “Semakin dalam hubunganmu, semakin kuat kepemimpinan mu” . Lima aturan yang terangkum dalam topik ini adalah “HUMAN” (Helpfulnes, Understanding, Mingle, Amuse dan NUrture). Quote yang menurut saya paling mengesankan dan mengena adalah “Bagi sebagian orang, mendengarkan hanyalah menunggu orang lain selesai berbicara agar mereka dapat menjawab dengan ucapan yang dipersiapkan.”
  4. Seorang tukang pijat refleksi yang legendaris dan menjadi langganan para pembesar untuk merefresh tubuh mereka. Dari guru ini kita akan diajak untuk belajar “Untuk menjadi pemimpin besar, Jadilah orang besar terlebih dahulu.” . Lima aturan dasar untuk mencapai hal tersebut adalah “SHINE” (See clearly, Health is wealth, Inspiration matters, Neglect not your family, Elevate your lifestyle). Quote yang menurut saya paling menarik adalah “Orang orang sebenarnya mendapat masalah ketika semua yang mereka miliki menjadi landasan siapa diri mereka dan identitas mereka di dunia. Karena jika mereka kehilangan semua itu, mereka juga kehilangan diri mereka sendiri”

Dari keempat guru tersebut dengan berbagai narasi dan latar belakang yang mereka miliki kita akan dihadapkan suatu drama yang menarik untuk diikuti perkembangannya, meskipun memang tidak se intens ketegangan seperti saat kita membaca buku bukunya Dan Brown. Namun Robin Sharman telah menunjukan kualitasnya sebagai konsultan kepemimpinan perusahaan perusahaan besar.

Namun sama halnya dengan buku buku terjemahan kebanyakan, buku inipun seakan sedikit hilang ruhnya khususnya saat joke joke diberikan antar karakter dan juga beberapa istilah menjadi kurang memberikan suasana sebenarnya yang diinginkan penulis aslinya sehingga makna dan nilai yang diberikan penulis sulit tercerna secara maksimal. Hal ini beberapa kali saya temukan dalam tulisan khususnya pada saat para tokoh memberikan singkatan singkatan yang saat di alih bahasakan menjadi canggung dan sedikit aneh.

Featured image by Mica Asato from Pexels

BencanaMeteorologiPsikologiSains AtmosfirUncategorized

Ini Cerita Tentang Hujan Buatan yang Melanggar Hukum Tuhan?

September 21, 2019 — by dewaputuam0

blur-blurred-background-close-up-1915182-960x1440.jpg
Photo by Noelle Otto from Pexels.

Di tengah hembusan asap yang pekat akhirnya hujan turun juga. Hujan yang digadang gadang sebagai salah satu keberhasialan dari sekian banyak usaha modifikasi cuaca ini turun dengan begitu lebat. Di sebuah teras gubuk kecil di salah satu daerah yang sekian lama menutup diri dan mengilang dalam pekat kabut menyesakkan itu duduk seorang kakek dengan cucunya. Dua cngkir air berisikan minuman berwarna hitam pekat dan coklat kemerahan mengepulkan uap air berwarna putih tipis tertiup angin dan hendak memasuki rumah.

Aroma sangit menyesakkan yang berhari bahkan berminggu menyengat sedikit terganti dengan aroma aroma tanah yang menari dihantam butiran air. Pekat sangit memanglah belum menghilang namun bersembunyi dan mengintai sejenak dan menunggu waktu yang tepat untuk memukul setiap hidung dan paru makhluk bernapas di dekatnya.

“Kek,… Apakah hujan seperti ini menentang hukum alam, menentang apa yang digariskan tuhan kah?” celoteh sang cucu sambil mengusap perlahan gawai yang ia pandangi sendari tadi. Pendaran cahaya gawainya memnyelimuti wajak sang cucu membentuk kontur kontur berona terang dari hidung hingga tiga per empat pipinya. Dari bayangan yang terpantul dimatanya terlihat jelas dominasi cahaya biru putih memancar dari gawainya.

Ketika Sang Kakek Bercerita Tentang Hujan dan Kita

“Kenapa kau tanyakan begitu cu?” tanya sang kakek sambil sedikit mencondongkan badannya untuk sedikit menggeserkan lipatan perutnya kearah yang lebih nyaman serta membagi nyeri persendian tulang tulang bagian kannyannya kearah tulang lain di bagian kiri. “woy narator, jangan gambarin gerakan kakek ini sedetail itu dong, saya memang tua tapi tidak serenta itu ya? keh keh keh” kata sang kakek kepada saya (penulis). “Oke siap kek, monggo dilanjutkan adegannya” jawab saya sambil terus menulis.

(Photo by Aleksandar Pasaric from Pexels )

“Oke cu, kita lanjut. Tadi gimana cu” tanya sang kakek sambil menggeser lipatan perutnya dan membagi nyeri punggunya kearah pinggangnya lagi dan kini matanya menyorot tajam pada saya mengisyaratkan sesuatu yang sepertinya saya paham apa maksudnya.

“Ini kek, tadi saya sedang baca berita tentang penanganan kebakaran hutan hari ini. Berita bagusnya kek, tim modifikasi cuaca telah berhasil mendatangkan hujan ini. Jadi hujan yang sekarang kita rasakan ini salah satu hasil dari tim modifikasi cuaca kek. Tapi yang buat saya berpikir ada yang berkomentar kalau usaha seperti ini melanggar hukum tuhan kek. Benarkah begitu kek?” tanya sang cucu sembari menunjukan apa yang ia lihat sendari tadi di gawainya.

Sejenak kakek mendekat kearah sang cucu dan mengenakan kacamata yang tadi terguntai dan terselip di saku bajunya. Setelah sekian lama berkomat kamit membaca berita tersebut akhirnya sang kakek bersuara lagi “uhuk uhuk uhuk” ia kemudian menserusup kopi hitam pekat untuk meredakan tenggorokannya. “Jadi gini cu, kakek ingin meluruskan sedikit. buat hujan buatan itu tidak ujug ujug dari tidak ada angin tidak ada awan langsung bisa disulap ada hujan. Hujan buatan itu pada intinya hanya ningkatin kemungkinan hujan dari sebelumnya yang sudah memang ada namun masih kecil kemungkinannya. Jadi sebenere mirip mirip lah prinsipnya sama kita bertani yang kita lakuin apapun yang kita bisa ngatur jarak tanam, kasi pupuk dan nyediain air buat ningkatin hasil.”

Perlawanan Terbesarkita Hukum Alam Bukan Pada Saat Kita Memodifikasi Cuaca.

Photo by Gabriela Palai from Pexels

“Untuk menyemai hujan kita perlu memahami bagaimana itu proses terbentuknya butir butir hujan diawan, apa yang menyebabkan uap uap air disana menjadi air disana menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan memukul daratan. Itu ada seninya cu, dengan katalain kita harus paham dulu hukum hukum yang ada disana yang ternyata untuk membentuk butir butir hujan perlu ada partikel kondensasi.

Yah kalau di dunia nyata bisa dianggap sebagai profokatornya lah, dialah yang bertanggung jawab untuk menarik massa (air dan uap air) untuk berkerumun dan kemudian membentuk butir butir hujan. Kita tetap harus mengikuti hukum tersebut untuk sedikitlah menginterferensi, mengikuti dan bukan malah melawannya.” Ucap sang kakek kembali menggeser geser kerut lipat pada kulitnya sembari membenahi posisi tulang rentanya dan melirik tajam lagi kepada sang penulis.

“Cu,.. Perlawanan dan penyangkalan terbesar yang kita pada alam bukan pada apa yang kita perbuat untuk mendatangkan hujan, bukan pula pada bagaimana orang yang “membakar” hutan hutan demi uang.

Perlawanan kita pada hukum alam terbesar kita adalah tidak menggunakan dengan baik satu satunya pembeda kita dengan tumbuhan dan hewan hewan diluar sana” ucap sang kakek sambil menunjuk keningnya sambir berucap “Rasional kita cu”

Kakek Putu 2019

Setelah berucap demikian, sang kakek beranjak dari kursi santainya dan berjalan gontai perlahan melewati pintu. Tangan kirinya menggenggam lembaran surat kabar yang tidak jelas tulisannnya dan didominasi warna putih yang katanya suatu ekspresi untuk menggambarkan mengganggunya asap. Tangan kanannya yang keriput dan sedikit bergetar memegang cangkir kopinya yang sudah kosong, habis diminumnya saat asik berbincang dengan sang cucu. Gerak kakinya perlahan menyusuri lantai kayu dan suara decit antara sandal dan lantai nyaris tidak terdengar oleh suara derasnya air hujan. “Nek, minta kopi lagi dong” ucapnya sambil memasuki rumah munyilnya.

Feature Image by Nur Andi Ravsanjani Gusma from Pexels

BukuHiburanPsikologiUncategorized

[Buku] #MO, Kelanjutan Seri Disruption Karya Rhenald Kasali. #MEH kah?

September 1, 2019 — by dewaputuam0

https_cdn.cnn_.com_cnnnext_dam_assets_190523095525-indonesia-riot-960x540.jpg
#MO, Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham. Apakah kita termasuk orang orang yang gagal paham itu? mungkin ia dan mungkin juga tidak. Saya rasa “tag” seperti ini yang kemudian membuat saya sedikit tertekan, apakah dengan membaca buku ini kemudian akan membuat saya tidak gagal paham lagi? atau sekedar membuat saya menyadari bahwa saya selama ini memang gagal paham?. AH sudahlah setidaknya kita nikmati dulu saja buku ini, yang saya yakin ada banyak ide menarik didalamnya. #Mungkin (Sumber Gambar: Rumah Perubahan)

Sebuah buku dengan judul yang sangat singkat dari seorang penulis yang karyanya selalu saya tunggu, khususnya untuk buku seri disruption. Dari beberapa buku yang sebelumnya saya baca yakni Disruption dan The Great Shifting, karya-karya Prof Rhenald memang sukar sekali untuk kita ragukan kualitas dan kedalaman materi yang dihadirkan namun tetap terjaga untuk mudah dipahami. Hal ini juga termasuk dalam karya yang baru di rilis pertengahan Bulan Agustus lalu yang berjudul singkat yakni #MO. Bila dalam buku Drisruption kita dibangunkan untuk melihat adanya perubahan yang terjadi di sekitar kita. Buku the Great Shifting kita diingatkan berbagai pergeseran mendasar dalam berbagai lini kehidupan kita yang ternyata juga menyertai perubahan dalam era disrupsi.

Dalam buku #MO kita sekali lagi diberikan gambaran bahwa perubahan dan pergeseran tersebut merupakan pergerakan (mobilisasi) yang terorkestrasi oleh para pelakunya. “#, Mobilisasi dan atau Orkestrasi” merupakan satu tanda baca, dan dua frasa dasar yang kemudian dibahas dari awal hingga pengakhiran buku ini. Dari isu-isu global pemanfaatan isu orang hutan yang dipakai oleh masyarakat Eropa dalam menjegal laju ekspor minyak kelapa sawit Indonesia. Tagar #YODO (You Only Die Once) yang dimanfaatkan oleh ISIS dalam merekrut para simpatisannya hingga isu isu nasional yang mungkin saja bagi sebagian orang remeh dan beberapa kali kita jumpai seperti #SaveAudrey #AudreyJugaBersalah #Unistalblablabla juga #2019GantiPresiden. Apakah issu issu ini murni datang dari masyarakat dan tiba tiba membesar dan memunculkan pergerakan atau ada “kuasa” tak terlihat yang sengaja mengorkestrasinya ke arah yang telah direncanakan?

Mungkin bagi sebagian orang hal ini akan terlihat seperti teori teori konspirasi belaka yang mengada ngada dan kelewat halu. Yah itu terserah pada pribadi masing masing, namun konsep Tagar (#), Mobilisasi dan Orkestrasi sudah lama menjadi issu global yang tentunya akan seru bila kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan juga lucunya akan cukup menyedihkan bilamana suatu saat kita tergilas oleh metode baru ini. Hanya dua pilihan kita sekarang ikut bergerak bersama dan berselancar lagi bersenang senang dengan gelombang mobilisasi yang ada atau justru tenggelam dan kemudian menghilang didalamnya. Dua itu saja pilihan kita dan tidak ada yang lain. Buku ini buku yang tepat sebagai “gambaran awal” bagi kita untuk mengenalkan kita pada era Mobilisasi dan Orkestrasi yang sedang terjadi disekitar kita sekarang ini.

Gambaran Singkat Buku berjudul Singkat “#MO“, apakah ini #MEH?

Orkestrasi, sama seperti pada gambar vektor yang polosan dan simpel ini, Buku ini hanya menjelaskan orkestrasi secara umum (sistem dan kerja didalamnya tidak dijelaskan dengan memuaskan) dan melompat lompat hehehe. Bukan jelek sik tapi belum puas aja dengan buku ini. (Sumber Gambar: LinkedIn )

Bagi orang yang tidak begitu suka membaca buku seperti saya, ketebalan buku mungkin saja menjadi salah satu faktor pembatas yang sangat menentukan. Yup, buku ini masuk kategori yang tebal namun masih dalam batas wajar sekitar 400an halaman.

Saya rasa sebenarnya buku ini dapat disajikan dalam bentuk yang lebih ringkas dan disesuaikan dengan judulnya yaitu #MO yang juga singkat. Saya masih gagal paham kah soal ini, Ada beberapa topik menurut saya tidak memiliki keterkaitan yang kuat dan dibahas alakadarnya saja. Mungkin karena terlalu banyak contoh yang diberikan jadi pembahasan pada #MO yang seharusnya dikuliti habis menjadi kurang menghasilkan #wah momen seperti pada buku buku sebelumnya. Saya sedikit kecewa untuk ini. Terasa kurang dan tanggung menurut saya.

Secara fisik buku ini memang terlihat tebal, namun bila kita melihat topik topik dan contoh yang dibahasnya jika memang ingin menguliti habis #MO nya seharusnya lebih tebal dari ini. Dilematis ya, tapi menurut saya buku ini adalah karya yang nanggung banget dan sedikit dibawah ekspektasi saya yang berharap buku ini dapat memberikan saya insight semencerahkan buku “Tipping Pointnya” Glandwell. Bila dibandingkan dengan buku seri Disrupstion sebelumnya hanya sedikit hal baru yang disajikan dari buku ini. Selebihnya sudah dibahas pada buku buku sebelumnya. Atau justru karena terlalu banyak hal baru yang disajikan menjadikan buku ini berkesan tanggung dan bukan dangkal, akan tetapi saya rasa buku ini dapat tersaji lebih baik dan mendalam lagi oleh Prof Kasali jika beliau mau. Mungkin sengaja di ringkas dan di sederhanakan agar layak dikonsumsi oleh banyak orang ya.

Kesimpulan Saya Untuk Buku Ini

Biar bagaimanapun juga buku ini masuk dalam jajaran buku dengan kualitasnya diatas rata rata bila dibandingkan dengan buku buku baru yang saat ini terpajang di toko toko buku terdekat saya. Buku ini membahas topik yang sangta menarik dan banyak hal yang dapat kita ambil dan pelajari dari karya terbaru dari Profesor Kasali ini. Itu simpulan saya, meskipun saya memang berharap akan mendapatkan hal yang lebih dari ini. Bagus tapi kurang memuaskan gitu, saya kurang bisa mendapatkan diksi yang tepat untuk menggambarkan hal ini, bisa dibilang nanggung.

Oia saya kurang begitu nyaman dengan pembahasan saat Prof Kasali berdebat dengan R. Gerung (dalam buku ini disamarkan namanya) dalam acara ILC. Meskipun fokus yang dibahas pada shaping n sharing yang dilakukan oleh para netijen kemudian yang menjadikan topik tersebut viral namun gaya pembahasannya menjadi sedikit berubah e pada topik ini dan ada kesan gimana gitu ya, sedikit terbumbui dengan emosi dan hal hal yang kurang pas dimasukan kedalam sebuah buku yang masuk kategori non fiksi ini.

Hmmm saya rasa seperti itu saja komentar saya soal buku ini. Buku ini layak sekali dikoleksi dan dibaca buat temen temen yang ingin memahami tentang era #MO, dan untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam saya juga merekomendasikan juga ngelengkapin bacaan ini dengan buku Everybody Lies dan Tipping Point, soalnya ada topik topik yang menurut saya bagian yang hilang itu saya rasa dapat teman teman temukan dalam buku buku tersebut.

Oia untuk cover pada post ini (Feature Image) saya gunakan gambar dari kerusuhan 22 Mei yang saya ambil dari situs berita CNN. Dalam buku ini juga dibahas secara “aman” soal kerusuhan ini dan beberapa pergerakan heboh lainnya yang pernah terjadi di Indonesia.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Jangan Kebodohan Saja yang Kita Jaga Kemurniannya, Kebaikan Juga Harus

August 13, 2019 — by dewaputuam0

animal-animal-lover-animal-photography-1904105-960x606.jpg
Kebaikan datang dari alam, saya tidak begitu paham kenapa kata kata itu seketika menyeruak dalam alam pikir saya saat melihat gambar ini. Saya rasa karena dalam tulisan ini saya ingin sekali mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang super dan sangat hebat hingga tidak dapat kita gapai dengan mudah, Kebaikan justru sesuatu yang sangat sederhana dan sangat alami, yup kebaikan memang datang dari alam (Sumber gambar: Alena Koval in Pexels.com)

Kebodohan yang murni dan terjaga, beberapa kali saya melihat frasa tersebut dan sejenisnya bermunculan di konten internet. Frasa tersebut biasa muncul saat ada suatu kejadian atau kelakuan dengan sempurna diabadikan dan didibagikan ke khalayak ramai di dunia maya. Saya tidak perlulah membagikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, karena saya rasa itu sedikit kurang sopan. Saya yakin teman teman pernah menemukan konten konten dengan model yang super absurd dan membuat kita mengenyitkan alis saat kita coba telusuri di barisan komentar frasa seperti kebodohan yang murni, kebodohan yang original dan frasa sejenis lainnya juga akan banyak bermunculan.

Yang jadi pertanyaan dan akan saya bahas sekarang dalam tulisan ini, jika toh memang ada kebodohan yang murni tanpa ada campuran serbuk pintar sama sekali. Adakah kebaikan yang menyamai level murninya kebodohan yang kita temui disekitar kita tersebut. Ada sebuah artikel dari Ayodeji Awosika yang ia publikasikan melalui platform medium yang baru-baru ini saya baca (link artikel). Melalui artikel tersebut saya diingatkan kembali meskipun untuk benar benar murni baik itu memang tidak mungkin, namun setidaknya kita dapat berbuat baik secara murni dengan hal hal yang cukup sederhana sehingga sangat mungkin dilakukan oleh kita dan orang orang disekitar kita.

Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi, Berbuat baiklah bahkan pada siapa yang tidak kamu suka

Ditengah hiruk pikuk kesibukan duniawi kita terkadang kita terlupa untuk sedikit berbuat baik dan cenderung tak acuh pada lingkungan sekitar kita. Hingga suatu hari kita menemui sebuah tindakan kebaikan kecil didepan kita yang secara ajaib menyadarkan kita bahwa masih ada kebaikan didunia ini. “Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi” itulah salah satu quotes dari buku NKCTHI karya Marchella FP (Sumber Gambar: Ingo Joseph @pexcels.com)

Baik pada siapapun tak bisa dipungkiri adalah hal yang sulit bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Kita sudah terbiasa dari dulu akan berbuat sesuai dengan apa yang dilakukan orang lain pada kita. Begitu juga dengan saya, jika ada yang baik, maka saya pun akan sekuat tenaga untuk berbuat baik. Namun bila saya diperlakukan tidak baik, secara tanpa sadar saya tanpa ampun akan memperlakukan orang tersebu dengat tidak baik. Saya selalu mengibaratkan diri saya seperti cermin yang memantulkan apa yang ada didepannya ntah baik ataupun buruk.

Semua itu terlihat normal bagi kita namun nyatanya itu bukanlah sesuatu yang keren. Dengan berperilaku seperti itu kita tidak ada bedanya dengan hewan dan benda mati sekalipun yang mengikuti arus dan hanya berekasi sesuai dengan apa yang diberikan pada mereka. Perbuatan yang seperti cermin ini bukanlah hal yang rasional dan justru merendahkan kita. Kalau kata Henri manimpiring dalam buku Filosofi Terasnya berbuat sesuatu yang tidak dipikirkan secara rasional bukanlah sifat alami kitasebagai manusia. Dan saat saat pikiran rasional kita dikecewakan, saat itu pula kita akan dihinggapi kegelisahan.

Membiasakan diri berlaku baik tanpa memandang siapa yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Saya sering melihat atau bahkan tanpa disadari hanya berbuat baik pada orang orang yang kita rasa ada pengaruhnya pada kita namun tidak peduli bahkan begitu ketus kepada orang yang tidak ada pengaruh dan dampaknya pada hidup kita.

Contoh sederhananya adalah saat kita berpapasan dengan sales atau seorang meminta waktu kita sebentar, sering dari kita hanya lewati begitu saja tanpa menganggap orang orang itu berbicara pada kita. Saya akui sangat sering melakukan hal ini hehehe, tapi kadang kadang berpikir juga si bagai mana jika saya ada di posisi mereka dan tidak digubris sama sekali apa yang kita katakan, saya tentu akan kesal, sakit hati dan sesekali menggerutu.

Saya pernah merasakan hal serupa beberapa tahun lalu saat saya jadi surveyor untuk salah satu lembaha survei nasional. Meskipun dicuekin dan tidak digubris adalah hal yang lumrah kami temui saat itu namun tetap saja menyakitkan loh. Mungkin kita memang tidak memiliki waku banyak atau tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan, salah satu solusi yang sesekali saya lakukan cukup mengatupkan tangan dan meminta maaf pada mereka sambil berlalu, itu cara paling sederhana dan menurut saya masih lebih baik dibandingkan tidak peduli dan berlalu begitu saja.

Berbeda dengan perlakuan kita kepada orang orang yang tidak memiliki pengaruh di hidup kita, akhhhh,.. yang ini saya benar benar tidak suka namun ini nyatalah terjadi di sekitar kita dan tidak bisa kita abaikan begitu kita. Fenomena “Penjilat” sudah meraja leldi sekitar kita, lingkungan kita, lingkungan kerja dan sayangnya didalam pertemanan juga terkadang fenomena ini muncul dan nyata. Dah cukup ini saja yang sanggup saya tuliskan terkait penjilat, saya yakin teman teman semua pernah menemui hal seperti ini dan setuju bahwa hal ini tidak keren sama sekali.

Berbuat baik tanpa perlu berekspektasi mendapatkan balasan yang juga baik, Mungkinkah?

Mari kita minum teh dan bercerita tentang bualan yang paling halu dalam tulisan ini. Cerita halu tentang berbuat baik tanpa berharap imbalan. Kita semua manusia yang sangatlah normal bila berharap sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita beri dan korbankan. It’s fair enought if we expect a good thing will come when we do a good thing (Sumber foto: Maria Tyutina)

Rasa kecewa saat apa yang telah susah payah kita lakukan dan kerjakan tidak diapresiasi oleh orang dan bahkan justru di jelek jelekan tanpa mereka tahu dan memahami bagaimana susahnya melakukan hal tersebut. Alhasil kitapun kemudian terjebak pada pergunjing dan pergibahan yang seolah tiada akhir yang juga terus dipanasi oleh tindakan tindakan ajaib tak kunjung usai dari orang yang kita anggap tidak punya hati itu.

Terus menggunjing dan berkelakar tidak baik (gibah) bukanlah suatu pilihan yang bijak dan keren untuk dilakukan, sesekali boleh lah tapi tidak seru dan habis topik lah kalau terus terusan dibahas. Toh apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh orang lain tidak berada dibawah kendali kita, jadi mau kita bergunjing sampai berbusa pun apa yang terjadi tidak akan berubah bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kita sehingga tanpa kita sadari sudah berbuat dan berlaku serupa dengan topik yang kita pergunjingkan.

Ekspektasi, sebuah kata dalam beberapa bulan atau beberapa tahun ini saya usahakan untuk tinggalkan. Dari beberapa buku yang saya baca dan juga dari pengalaman yang selama ini saya alami, ternyat bukan hal luar lah yang paling berdampak dan menyakitkan bagi kita namun ekspektasi kita yang tak tercapai. Dari itu kemudian saya selalu menyingkirkan ekspektasi untuk mendapatkan balasan saat saya sedang iseng dan menjahili teman. Bukan hanya itu ekspektasi juga adalah sesuatu yang selalu saya usahakan untuk singkirkan saat kita berhadapan pada sesuatu yang mempunyai arti penting bagi saya. Bukan karena saya tidak percaya diri namun hanya agar saya tidak begitu merasakan kecewa ketika sesuatu ternyata berjalan diluar apa yang kita inginkan.

Are you in a situation where you’ve been working hard to make sure you get the credit? Stop. Just work hard. Let everyone else have the credit. You get the experience, knowledge, and trust of people around you. Credit is fools gold.

Ayodeji Awosika

Keberadaan ekspektasi bahkan untuk hal hal yang memang sudah seharusnya pun seperti ekspektasi akan mendapat kebaikan, akan mendapat uang atau sekedar mendapat pahala dan balasan dari yang maha kuasa saya rasa tidak perlu kita lakukan. Saya kurang begitu nyaman dengan hitung hitungan kebaikan jika kita berbuat seperti ini akan mendapat ganjaran seperti ini jika kita berbuat seperti lainnya akan mendapat berlipat lipat lainnya, saya sedikit risih dengan konsep seperti itu. Mungkin akan terlihat naif namun yang saya pahami berbuat baik itu karena kita memang ingin berbuat baik, bukan karena kita berharap mendapat buah dari kebaikan itu. Tanpa adanya pilih memilih, tanpa adanya ekspektasi, kebaikan akan menjadi murni adanya.

Ide, Ilustrasi dan Sumber sumber lain yang di sematkan dalam tulisan ini
  • Some idea that i write in this post are ispired by Ayodeji Awoskika post “How to (Truly) Become a Good Person that publised in Medium.com
  • Feature Photo by Helena Lopes from Pexels

Daily LifeFilmOpiniPsikologiUncategorized

[Film Dokumenter] The Great Hack, Informasi Pribadi yang Kita Umbar Bebas di Internet Tidak Menguap Begitu Saja.

August 9, 2019 — by dewaputuam2

Security-The_Great_Hack__3c_R-960x540.jpg
Data pribadi dan semua aktifitas yang kita umbar secara bebas di internet tidak menguap begitu saja. melalui data data tersebut terdapat sekelompok orang yang mampu memanen dan memanfaatkannya untuk menggiring dan mengubah prilaku kita kearah yang mereka inginkan.

Ini adalah salah satu film dokumenter yang layak teman-teman tonton. Film ini bahkan menurut saya wajib ditonton bagi kita yang sangat aktif dalam bersosial media. Kita kita yang aktif tulis status sana-sini, like dan share berita berita dengan sesuka kita asal sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Semudah itu jempol kita menari gemulai menuliskan kata kata dari yang enak terbaca hingga yang “enak terbaca”. Dari berita yang benar-benar kita ikuti dan kuliti faktanya hingga berita berita yang secara serampangan kita bagikan begitu saja, dan kemudian kitapun ikutan latah berdebat berbusa busa dengan para netijen julid lainnya.

Saya rasa cukup sampai situ saja. Lalu kemudian untuk orang orang yang santuy dan tidak neko-neko dalam bersosial media yang hanya sekedar usap dan sesekali like lalu membaca berita sebagai pembaca yang bisu film ini juga cocok karena tidak hanya untuk orang orang yang memang sudah terkurung dalam perangkap buaian internet saja yang terpengaruh oleh kegiatan jahat ini tetapi hampir semua orang mungkin salah satu dari kita atau bukan tidak mungkin kita semua masuk kedalam kategori ini.

Semua dari kita yang secara sadar ataupun tidak sadar meninggalkan jejak diinternet baik berupa data pribadi hingga segala aktifitas didalamnya apa yang kita cari, apa yang kita sukai (like), apa yang kita baca, apa yang kita ungkapkan apa yang kita unggah, emotikon emotikon apa yang kita gunakan, kesemua itu adalah data. Semua data itu tidak menguap begitu saja dan hilang, oleh sekelompok orang tertentu data tersebut dapat diolah sedemikian rupa secara realtime dan mereka gunakan kembali dengan berbagai cara yang unik untuk setiap indifidu sesuai dengan profilnya, hingga secara tidak sadar tingkah dan laku kita digiring mereka pada arah yang mereka inginkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam film dokumenter ini diungkap tujuan tertentu itu adalah untuk memenangkan seseorang calon presiden adidaya, pergerakan serta aksi besar lainnya yang memiliki dampak global.

Film dokumenter ini, besamaan dengan buku No Place to Hide telah mengubah cara pandang saya tentang arti penting dari privasi dan data pribadi kita, bahkan seremeh apapun data yang kit bagikan tersebut bukan tidak mungkin akan dikembalikan pada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga dan bayangkan sebelumnya. Sebuah bentuk yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kita dan lingkungan kita. Bahkan dari apa yang di tayangkan dalam film dokumenter ini, dari pemanfaatan data data tersebut orang orang tertentu tersebut dapat membuat suatu pergerakan dan kerusuhan berskala global dan berpengaruh besar pada hajat hidup orang banyak.

Mega Skandal Cambridge Analytica, Dan Operasi Masif Manipulasi Perilaku Di berbagai belahan Dunia hingga Pada Pemilu US dan Brexit?

Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu asing dengan skandal yang terjadi dengan Cambridge Analytica dan juga Facebook yang kemudian harus membuat Facebook harus menjadi perusahaan yang merasakan dan berhadapan pada denda uang dengan nominal yang sangat besar bahkan masuk kedalam denda terbesar di abad ini yakni sekitar 5 Miliar Dolar AS atau setara dengan 70 Triliun Rupiah. Dari awal saya sadar bahwa kasus yang terjadi dengan Facebook dan Cambridge Analytica bukanlah sebuah kasus yang mudah dipahami oleh orang awam seperti saya dan mungkin juga sebagian dari teman teman. Saat itu, kita tidak memahami dampak serta kerugian seperti apa yang membuat mereka harus disangsi dengan demikian berat. Disinilah film dokumenter The Great Hack dengan apik memberikan kita gambaran sederhana skandal seperti apa yang “sebenarnya” terjadi.

Distribusi rasio populasi tiap negara bagian US yang datanya digunakan dan terpapar oleh skandal yang dilakukan oleh Cambridge Analytica. Dari peta sebaran ini dapat terlihat betapa masifnya skandal ini. Apakah Cambridge Anlytica satu satunya firma yang melakukan hal ini? sepertinya sangat sulit untuk berkata ia. (SUmber gambar: businessinsider.sg)

Film dokumenter ini diawali dengan diskusi seorang profesor dengan para mahasiswanya sambil berkelakar bahwa seringkali kita merasakan seolah olah gawai cerdas kita menangkap apa yang kita sedang bicarakan dengan cara mengakses microphone kita hingga tidak jarang saat kita sering mengungkapkan sesuatu benda maka dengan cara yang ajaib iklannya akan muncul dalam layar gawai kita ntah itu melalui aplikasi facebook ataupun aplikasi lainnya. Dari topik sesederhana ini dan diskusi dengan mahasiswa nya kemudian sang profesor mulai tersadar dan menelusuri suatu kebenaran besar yang ada dihadapannya, suatu proses pemanfaatan data secara masif dan dan sistematis dari sebuah firma yang bernama Cambridg Analytica. Profesor itupun kemudian menuntut perusahaan tersebut memberikan semua copy-an data pribadi tentang dirinya yang ada di firma tersebut. Namun usahanya tersebut justru bergulir menjadi pengungkapan salah satu mega skandal di abad ini. Dari hal tersebut kemudian kita dibawa pada suatu kenyataan yang menabjubkan sekaligus mengerikan tentang dunia digital yang selama ini.

Secara garis besar film dokumeter ini menceritakan bagaimana sebuah firma seperi Cambridge Analityca dapat memanfaatkan kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital yang kita tinggalkan. Pada mulanya mereka dengan cerdik menyebarkan suatu form facebook dalam bentuk semacam permainan yang tujuan sebenarnya adalah memetakan dan mengambil sample profil psikografik dan melihat tendensi mereka akan suatu masalah. Informasi serta wawasan yang didapat dari para responden tersebut kemudian dijadikan semacam cetakan untuk melihat profil psikografik seperti apa yang cenderung sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh proyek ini yang dalam film ditunjukan sebagai profil yang akan memilih salah satu calon presiden US dan di kasus lainnya dicari profil yang menginginkan Brexit.

Hal yang menarik mulai dari sini. berdasarkan pada kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital apa saja yang telah kita tinggalkan. Cambridge Analytica atas persetujuan kita yang jarang terbaca setiap kali mengakses atau menginstal suatu aplikasi kemudian mulai mengakses semua data yang ada pada akun kita dari hal hal remeh seperti tulisan serta foto ataupun video yang kita bagikan, tulisan tulisan yang kita like, komentari dan bagikan, hingga pada semua aktifitas yang kita lakukan semua itu dianalisis secara realtime. Kabar “baik” nya data data yang dianalisis tidak hanya data yang ada pada kita saja namun juga teman teman yang tertaut dengan akun kita.

Dari sana data 87 Juta pengguna facebook kemudian dianalisis secara realtime oleh firma ini untuk mendapatkan profil setiap akun yang kemudian di lakukan analisis lanjutan untuk menduga tendensi setiap profil tersebut dengan cara mencocokan polanya dengan profil dari responden yang sebelumnya mengisi formulir. Analisis pola seperti ini yang berdasarkan kemiripan prilaku setiap individunya biasa disebut sebagai metode doppelganger. Metode inilah yang menjadi dasar dan membuat kita seringkali merasakan bahwa iklan iklan di internet yang direkomendasikan pada kita sangat sesuai dengan apa yang sedang kita inginkan karena ada seseorang di luar sana memiliki profil psikografis yang sama dengan kita jadi apa yang sedang diinginkan mereka besar kemungkinan akan diinginkan pula oleh kita. Analisis seperti ini berlangsung secara realtime sehingga profil psikografis ini terus menerus diperbarui dalam hitungan seper sekian detik.

Beginilah skema umum yang dilakukan oleh Cambridge Analytica dan mungkin firma lainnya dalam “memasarkan” dan mengarahkan target mereka menuju apa yang mereka rencanakan sebelumnya dan sesuai dengan permintaan klient mereka. (Sumber Gambar: The Guardian.com)

Dari sini pula diidenifikasi swing votter yang kemudian menjadi target operasi utama untuk diubah perlilaku dan tendensinya agar bergeser dan memilih klient Cambridge Analytica dengan cara membanjiri mereka dengan iklan iklan, memes, gambar, video maupun berita berupa fakta yang sudah di framing sedemikian rupa atau bahkan berupa hoax. Apa yang mereka berikan ini unik dan setiap indvidu akan mendapatkan paket informasi yang berbeda. Dari semua paket informsi baru yang diberikan dianalisis pula respon dari setiap target apakah diabaikan, dilike, komentari atau bahkan dishare. Informasi informasi tersebut dipergunakan untuk menentukan paket informasi yang akan diberikan selanjutnya pda setiap target. Hal ini berjalan terus menerus hingga para swing votter tersebut kemudian memiliki tingkah dan laku profil psikografis sesuai dengan yang diinginkan. Dalam salah satu bagian filmnya ada kata-kata yang membuat saya terpukau saat salah seorang wistle blower mereka menujukan jadwal dan email mereka berkata bahwa

yang membedakan mereka dari para perusahan bidang data analis lainnya, adalah mereka tidak hanya memberikan profil dari populasi, tetapi kita mampu mengubah profil tersebut.

Menyikapi Privasi dan Kepemilikan Akan Data Pribadi sebagai Hak Asasi Manusia yang Juga Melekat Pada Kita

Melalui film ini kita disadarkan akan pentingnya data pribadi kita dan perlunya pemahaman tentang seperti apa data data kita akan digunakan digunakan. Pemanfaatan data 87 Juta pengguna facebook yang dilakukan oleh Cambridge Analityca ini menjadi suatu pembelajaran penting bahwa ternyata data data yang sering kali kita anggap remeh dapat digunakan sedemikian rupa hingga tingkat yang membahayakan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dari film ini kita akan diperlihatkan betapa mengerikannya dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan data data seperti ini bila tidak dilakukan secara bijak. Penggiringan opini publik, diskriminasi hingga kemudian menimbulkan dampak dampak negatif yang lebih besar seperti kerusuhan yang jika tidak ditanggulangi dengan baik bukan tidak mungkin akan menelan korban jiwa. Dari sini saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Ada satu hal lagi yang menarik dan secara sekilas terungkap pada akhir akhir film, tentang kerusuhan 1998 di Indonesia. Sudah cukup sampai situ saja agar tidak spoiler lebih banyak.

Pada jaman kita telah terjadi dan terungkap satu skandal yang luar biasa terkait penyalagunaan data pribadi serta kaitannya dengan upaya propaganda yang secara sembunyi sembunyi menggerakan jutaan orang ke tujuan yang telah diprogramkan sebelumnya. Semua itu berasal dari ketidak pedulian dan ketidak tahuan akan pemanfaatan jejak digital yang kita tinggalkan selama ini. Perkembangan tekhnologi data dan informsi terus berkembang pesat dan merangkul setiap sendi kehidupan kita. Perbatasan antara dunia digital dan dunia nyata semakin tipis terlebih pada era 5G nanti yang tentunya akan segera dirasakan kita dan anak anak diatas ini yang menyebabkan semua benda disekitar akan saling terhubung pada internet. Dengan semua itu keringkihan kita akan hal hal seperti yang ada pada skandal ini akan semakin besar. (Sumber gambar: Artem Beliaikin @ Pexcel.com)

Ironisnya privasi dan data pribadi tampaknya tidak begitu menjadi permasalahan yang serius di tanggulangi di negeri kita ini. Maka tidaklah heran beberapa bulan yang lalu banyak pergerakan yang memanas akibat apa yang tersebar dan beredar di lini media sosial yang sayangnya juga menjatuhkan beberapa korban. Mulai dari aksi aksi protes hingga pada bentrok antar kampung, tidak sedikit yang berawal dari tersebarnya suatu berita di media sosial. Terlebih dengan adanya mekanisme filter bubble yang ada di media sosial demi untuk mengumpulkan orang orang berdasarkan kesamaan profil psikografisnya semakin membuat kita hanya berkumpul dengan orang orang yang sepemikiran dengan kita, satu rasa dengan kita dan satu minat dengan kita.

Hal yang seperti ini secara tidak langsung memberi kita ruang yang sangat sempit dengan ide dan pemahaman kelompok yang berakar sangat kuat. Keberagaman ide sangat minim dalam kondisi yang terseting seperti ini sangat minm pula pemikiran dan sudut pandang di luar. Bagai katak dalam tempurung, ego kita terus berkembang pesat dan kita semakin merasa benar diatas semua orag yang berbeda pendapat dengan kita. Terkadang ada seseorang yang dengan apesnya “tidak sengaja memasuki” kelompok tersebut dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya yang sayangnya bertentangan dengan “sudut pandang kebanyakan orang”. Masa masa seperti inilah yang kemudian menjadi makanan ringan bagi para ego yang terlajur dipelihara, sumpah serapah, cercaan dan pembulian terus mengalir dengan deras dan memviral seketika di kelompok mereka.

Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan saya? Apakah kalian sudah mulai jenuh dan muak dengan segala apa yang ada disekitar kita saat ini?

Seyakin apa semua prilaku, tindakana dan laku kita selama ini adalah benar benar berasal dari apa yang kita mau. Atau jangan jangan kita hanyalah boneka yang bergerak sesuai dengan apa yang di programkan oleh sekelompok orang diluar sana untuk tujuan yang kita tidak tahu menahu apakan berdampak hanya pada kita atau berdampak lebih besar lagi. Kita tidak tahu itu

boleh siapa saja
Sumber sumber yang digunakan dalam tulisan ini

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya

May 11, 2019 — by dewaputuam0

document-2178656_1920-960x640.jpg
Saya sedikit kurang paham bagaimana faedahnya ada bohlam diatas buku sana, bukankah ngeri ngeri sedep bila kita meletakan bohlam diatas sana dan bagaiamana cara membacanya agar bohlam itu tidak pecah tentunya akan menjadi pekerjaan rumah tersendiri (sumber: Freepik jannoon028)

Kurang cerdas, bodoh, dungu bahkan idiot terkadang menjadi kelompok kata yang haram sekali disandangkan pada seseorang. Orang terkadang atau bahkan dapat saya katakan sering kali tersakiti dan tertriger untuk membalas ucap ucapan itu dan memberikan bentuk kata sifat yang sama atau mungkin lebih buruknya dari kata kata tersebut. Berbeda dengan keempat jenis kata sebelumnya, semua dari kita tentunya ingin disebut sebagai orang yang cerdas, kreatif bahkan genius meski tidak jarang kita justru menunjukan sikap sikap yang justru sebaliknya.

Suatu hal yang normal dan menurut saya pun tidak ada yang salah dari kedua sikap kita terhadap dua kelompok kata sifat yang saling bertolak belakang terssebut. Tentunya lebih banyak dari kita akan menyukai hal hal yang baik dan menghindari yang buruk bukan. Kitapun dibesarkan dengan cara dan budaya yang begitu mengagungkan kepintaran daripada kebodohan. Hal ini terlihat dari didikan orang tua kepada anaknya yang bila melakukan hal hal yang menyenangkan selalu dikatakan “Anak pintar” dan hampir mustahil orang tua tersebut mengatakan “Bodo sekali lu” kecuali saat saat tertentu yang mengakibatkan orang tua secara tidak sengaja kelepasan berucap demikian.

Semua mengerikan justru saat kita mengetahui segala hal

Ini adalah suatu paradoks pengetahuan. Paradoks ini mudah sekali kita temuan disekitar kita bahkan dalam era sosial media ini akan semakin mudah lagi kita akan menemukan dan menyadari keberadaan paradoks yang akan saya bicarakan ini. keberadaan paradoks inilah yang kemudian memotivasi saya untuk membuat sedikit tulisan tentang hal ini. Sebelum memasuki paradoks tersebut ijinkan saya sedikit bercerita tentang apa yang saya rasakan akhir akhir ini. Baru beberapa saat yang lalu kita telah melaksanakan pesta demokrasi terbesar di jagat, yang sayangnya banyak juga korban yang melayang ntah itu karena kelelahan ataupun berbagai penjelasan yang tentunya masih bergulir liar hingga tulisan ini ditulis.

Yang ingin saya soroti bukanlah kisah duka tersebut melainkan pertempuran para ahli nya ahli, intinya inti dan core of the core netijen yang maha benar dengan segala kemaha benarannya. Banyak sekali hal hal ajaib tercipta selama pertarungan kampreter dan cebonger selama ini bahkan percikan percikan perdebatan itu sebagian masih menghangat meski pemilu telah usai. Secara ajaib dan tidak terduga duga dari pertarungan kedua pihak tersebut, kita baru tersadar ternyata kita banyak sekali memiliki ahli ya, dari ahli politik, ahli ekonomi, ahli militer, ahli agama, ahli teknologi informasi dan bahkan sekarang ahli kesehatan. Tak ayal dengan begitu banyaknya ahli ahli tersebut kata kata bodoh, tolol bego dungu pun berhujanan membasahi para terdakwa pendustaan dan kriminalitas akal pikir.

Melihat itu semua, kebodohan yang selama ini menetap pada diri saya seketika merintih dan menjerit, mungkin karena sesamanya dipergunjingkan dan disepelekan. saya merasa orang orang cerdas sekarang memiliki ego yang begitu kuat dan sangatlah buas melibas kebodohan kebodohan yang ada, dan kemudian apakah kebodohan didunia ini akan musnah dengan hal itu? tentunya tidak. Semakin banyak orang cerdas yang demikian tentu akan semakin banyak orang bodo yang ditindasnya. Dan sebagi salah satu perwakilan dari orang bodo tersebut, maka saya minta ijin untuk melakukan pembelaan dan sedikit mengenalkan Dunning Kruger effect.

Dunning Kruger Effect menurut saya cukup menjelaskan fenomenda kemaha tahuan para netijen saat ini, dan segala keajaibannya pun dapat terungkap disini. (Sumber: Twitnya @josephsudiro)

saya sedikit tidak tega menyampaikan hal ini, namun menurut saya ini adalah hal yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan pahami bersama agar kita tidak terjebak pada fase kemahatahuan kita selama ini. Menurut Dunning Kruger, rasa percaya diri seseorang akan berfluktuasi seiring dengan bertambah pengetahuannya. Jika boleh jujur, pada jaman sosial media dan segala kecanggihan internet ini kita ditabrak oleh banyak sekali informasi dan luarbiasanya banyak sekali dari informasi informasi tersebut yang belum pernah kita ketahui sebelumnya. Hal ini berdampak pada suatu kondisi dimana kita mengetahui sedikit pada banyak hal sekaligus. Kondisi demikianlah yang kemudian memunculkan benih benih kemaha tahuan para netijen. Pengetahuan yang sedikit dan baru pada suatu hal mengaktifkan rasa percaya diri seseorang jauh melampaui batas dan kemampuannya, kemudian dengan tanpa ragu pun tidak jarang kita melemparkan komentar-komentar “cerdas” kita ke dunia maya.

Rasa anonimitas yang ditawarkan intenet juga ikut andil pada semakin percaya dirinya mengutarakan pendapat, meski terkadang pendapat yang diutarakan jauh sekali simpangannya dari topik yang sedang dibahas. Semua ini demi kecepatan dan peghematan kuota sehingga ada gambar atau infografis nyeleneh dikit komentar, ada judul yang aneh sedikit kita juga komentar. Menyedihkan sekaligus lucu saat kita sering melihat banyak sekali orang orang cerdas diluar sana dengan begitu ajaibnya berkomentar hal hal yang jauh dari topik dan mudah sekali terjebak oleh judul judul pancingan.

Menurut saya, kita tidak boleh seperti ini terus. Terus terjebak kedalam perasaan kemaha tahuan sendiri dan meski tahu terjebak justru kita sering kali semakin memendamkan tubuh kita pada jebakan tersebut dan tidak mengakui bahwa sebenarnya masih ada yang tidak kita ketahui. Cukup akui saja bahwa tidak semua hal kita ketahui dan pintu fase selanjutnya akan terbuka lebar bagi kita. Kegiatan ini tidak hanya perlu kita lakukan sekali seumur hidup namun hampir setiap saat karena ntah disadari ataupun tidak meski pada beberapa subyek kita sudah benar benar ahli, namun pada objek objel lainnya kita hanyalah “pintar”.

Agar tidak terjebak pada kemaha tahuan kita, kita harus meyakini satu hal yakni ” Bahwasanya di Dunia ini tidak ada yang benar-benar benar” bahkan pernyataan itu sendiri tidaklah benar-benar benar.

Dewa Putu AM

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja

Menjadi seseorang yang bodo itu bukanlah suatu kesalahan, bukan pula suatu kutukan. Saya sangat senang bila saya dikatakan sebagai orang bodo, meski sesekali doa doa kutukan selalu saya panjatkan dalam diam teruntuk orang-orang yang mengatakan demikian. Namun pada dasarnya bodo itu bukanlah suatu hal yang terlarang. Kalau kata Einstein “Stupidity has no limit, human inteligence does”. Dari quotes tersebut kida dikenalkan pada suatu yang tak terbatas dan yang terbatas. Dari kuotes tersebut kita juga dapat dengan mudah mendefinisikan siapa sebenarnya yang memiliki keterbatasan, lalu pertanyaannya mana yang ingin kita pilih apakah sesuatu yang terbatas ataupun tidak terbatas hehehe.

Monyet yang sangat pinter nge Dab #hasek. Maaf salah fokus, ini sebenarnya sebuah ilustrasi seekor monyet yang sangat payah berenang bila dibandingkan dengan ikan. (Sumber: freepik)

Bodo itu tidak salah, yang salah itu jika kita hanya sekedar bodo saja. Yup, yang salah itu bila kita hanya memiliki kebodohan itu sendiri tanpa memiliki hal lainnya. Saya mengatakan demikian adalah hal yang salah bukanlah berarti hal tersebut adalah hal yang berdosa. Salah yang saya maksud disini lebih pada suatu yang tidak benar, tidak ada dan mengada ngada. Kita tidak mungkin hanya memiliki kebodohan saja, setiap dari kita pasti memiliki kecerdasan ntah itu dalam bidang saja. Hal ini sama halnya dengan ikan yang memang tidak sepintar monyet dalam memanjat pohon tetapi jangan ragukan kepintarannya dalam berenang diair dan begitu pula sebaliknya pada monyet.

Bodoh yang murni dan alami itu salah dan mengada ngada, begitu pula dengan cerdas yang murni dan alami itupun tentu juga mengada ngada. Dalam hidup kita masih sangat perlu kebodohan, yah setidaknya untuk memastikan masih ada sesuatu yang perlu kita cerdaskan. Sama halnya dengan kecerdasan dan kebodohan meski kita tahu bersama juga bahwa Penge”Tidak”tahuan juga Perlu Kita Punya setidaknya untuk memastikan bahwa masih ada yang harus kita ketahui di dunia ini. Apalah menariknya di dunia yang kita tahu secara utuh dan menyeluruh yang mana kita tidak bisa berharap menemukan hal hal menabjubkan terjadi. Hingga suatu ketika saya yakin dengan ‘agak’ pasti, kita akhirnya menemukan satu satunya hal baru saat kita sudah mengetahui segalanya adalah keberadaan ketidak tahuan itu sendiri. Dari situlah kemudian sebuah pintu gerbang baru akan mulai terbuka dan membawa kita kita bergerak menuju kepada petualangan baru dan juga sesuatu ketidak tahuan utuh yang tentunya baru, hal ini kemudian berulang lagi dan lagi, hingga suatu waktu kita terpanggil untuk menguji semuanya dihadapan Nya.

Sudah, saya rasa itu saja dulu tulisan saya saat ini. Tulisan ini saya tulis untuk merayakan hari turunnya ilmu pengetahuan atau lebih dikenal umat hindu sebagai Hari Raya Saraswati. Terkait ilmu mana yang pertama kali turun kedunia ini? Saya rasa saya yakin menjawab bahwa ilmu pengetahuan yang pertama kali muncul didunia ini adalah ilmu tentang tidak tahuan.

Salam tidak tahu kenapa

Dewa Putu AM.

Sumber Feature Image by Pexels from Pixabay

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

[Opini] Ketika Komunikasi Berpindah dari Bibir ke Jemari

April 10, 2019 — by dewaputuam2

paint-2985569_1920-960x640.jpg

Dulu sekali kita sering mendengar suatu kata-kata bijak tentang kebermanfaatan dan makna dari jumlah masing masing bagian tubuh kita. Suatu kata kata bijak yang sedikit menyampaikan alasan kenapa kita punya dua mata, kita punya dua telinga, kita punya dua lubang hidung, dan kita punya jutaan sensor perasa di seluruh bagian tubuh kita, namun kenapa kita hanya memiliki satu mulut itupun lebih sering tertutup dan terkatup oleh bibir. Jawaban paling mudah untuk pertanyaan pertanyan tersebut adalah “Kehendak Tuhan”, dan tentunya jawaban itupun saya terima serta tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Lagipula, kita juga tentunya menyadari, jumlah jumlah tersebut adalah jumlah bagian tubuh yang ada pada orang kebanyakan, dan ada beberapa orang diluar sana yang diberikan sesuatu itu dengan jumlah yang berbeda, baik berlebih atau kurang.

Mata adalah salah satu jendela antara penghubung kita dan dunia luar, lalu kenapa kita dibekali dua mata dan sautu mulut?, bukankah melalui mulut kita dapat berinteraksi lebih ke dunia luar, Dan kini semua berubah ketika jemari menggantikan bibir untuk berucap (Sumber Gambar by Alexandr Ivanov from Pixabay)

Terlepas dari jawaban tersebut, dan dengan tidak mengurangi rasa hormat bagi orang orang yang memiliki kondisi perbedaan dengan orang kebanyakan, melalui tulisan ini saya ingin sedikit berdiskusi sekaligus menyampaikan suatu kegelisahan yang saya rasakan. Ini tentang apa yang terjadi disekitar saya dan juga saya yakin terjadi juga di sekitar kalian. Hal ini berkaitan dengan sebuah pemahaman tentang jumlah bagian tubuh kita.

Makna Lalu yang Dulu Pernah Ada Untuk Menjelaskan Jumlah Itu

Jika kita bertanya kepada orang orang dulu maka beberapa akan menjawab bahwa jumlah bagian tubuh kita diseting dengan sedemikian rupa, dengan dua mata, dua telinga, dua lubang hidung serta jutaan sensor dikulit, namun hanya satu mulut agar kita lebih memahami dulu apa yang sedang kita hadapi. Untuk lebih banyak memahami apa yang sedang kita hadapi baik secara visual, suara, aroma, maupun teksturnya; kita harus cara lebih banyak melihat, lebih banyak mendengar, lebih banyak ‘merasakan aroma’ dan lebih banyak kontak langsung pada apa yang kita hadapi itu. Setelah memahami dengan dalam barulah kemudian kita ungkapkan dan berucap melalui perkataan namun cukup sedikit saja dan seperlunya. Kita harus banyak “merasakan” dan menjaga ucapan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang bijak yang selalu banyak terdiam sembari ia melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, dan sekalinya ia berucap itu tepat sasaran dan cukup, tidak lebih dan tidak kurang.

Secara natural kita diciptakan untuk lebih banyak menikmati dunia luar dibandingkan menghabiskan waktu untuk berucap.Ada suatu hal yang menarik dengan alasan dan manfaat kenapa kita memiliki dua mata. Ini berhubungan dengan kemampuan kita untuk menangkap dan memvisualisasikan objek dalam ruang 3 Dimensi. Kemampuan ini disebut dengan stereoscopic vision. Yang pada intinya adalah kemampuan otak untuk menampalkan dua hasil rekaman visual dari masing masing mata dan menciptakan suatu informasi dari dua sisi yang berbeda dan kemudian di simpulkan sebagai informasi kedalaman objek visual. Hal yang sama juga terjadi pada indriawi kita baik itu indra pendengar, pembau dan perasa kita. Yang kesemuanya di desain untuk memahami lingkungan secara 3 dimensi.

Gambaran Konsep stereoscopic vision, Inilah yang menyebabkan kita dapat memahami kedalaman visual berupa jarak dari suatu objek dan bentuk yang lebih presisi.

Bagian bagian tubuh kita dibuat untuk memahami lingkungan sekitar kita dalam bentuk tiga dimensinya, baik itu visual maupun dari audionya. Kita di desiain sedemikian rupa untuk melihat, mendengar dan merasakan lingkungan dalam bentuk tiga dimensinya, sehingga kita dapat memahami seberapa jauh suatu objek dan berada dimana dia, apakah ia bersuara melengking di sebelah utara dan bersuara berat di bagian selatan apakah lebih hangat bagian timur dibanding barat, semua itu disediakan secara gamblang melalui jendela jendela indrawi kita. Dan kemudian muncullah suatu pertanyaan besar, kenapa kita hanya diberikan satu bibir untuk berucap? Pertanyaan ini akan memunculkan jawaban yang beraneka ragam, namun bagi saya yang paling sesuai dan masuk akal adalah agar kita lebih memahami dahulu daripada berucap, atau dengan kata kata anak sekarang “Jangan ‘banyak’ bacot kalau belum tau paham”.

Dari Bibir Berpindah ke Jemari, Semua yang dulu Ada dan Terkendali Seketika Berubah

Dijaman yang katanya kian canggih ini bermunculan alat alat bantu dan pengganti budaya kita berkomunikasi. Jika dulu kita harus banyak melihat dengan “dua mata” kita dan banyak mendengar melalui “dua telinga” kita kemudian bersuara lantang untuk didengar dan dilihat oleh lingkungan, kini kita hanya perlu melihat “satu” layar berpendar dan kemudian mulai menari dengan “dua hingga sepuluh jemari” kita untuk sekedar melontarkan ujuaran, entah itu ujaran yang bermakna dalam ataupun ujaran tanpa makna sekalipun.

Visual tentang tentang kita yang kini melihat melalui satu “Jendela” dan kemudian berinteraksi dengan menggunakan 2 hingga 10 jemari yang menari. (Sumber Gambar Robinraj Premchand from Pixabay)

Telah terjadi suatu pergeseran besar yang terjadi pada diri kita, cara kita memahami lingkungan kita dan juga cara kita berinteraksi dengannya. Jika sebelumnya ada pemahaman bijak yang menggambarkan keharusan kita untuk lebih banyak memahami baru kemudian berujar seperlunya. Kini semua berubah, melalui “satu layar berpendar” itu kita sudah bisa dan layak untuk memberikan reaksi dengan “dua jari” bahkan dengan “sepuluh jemari kita”. Kita kini hanya perlu dan ingin memahami melalui satu layar itu saja dan merasa berhak mengujarkan dan mengucapkan ribuan kata bahkan ujaran tanpa makna sekalipun.

Hal ini tampaknya terlihat dan terdengar sangat menyedihkan, dan ini pula lah yang menjadi kegelisahan saya. Tentunya hal itu juga tidak hanya berdampak dan terjadi pada orang orang di sekitar saya. Harus saya akui bahwasanya sayapun juga terdampak serius akan hal itu. Sayapun lebih banyak berucap dan bereaksi ketimbang sekedar memahami. Tampak bodoh dan tampak naif bila saya tidak mengaku hal itu.

Akan tetapi, sejenak saya berpikir, benar benar sejenak, sesejenak saat saya membuat tarian jemari untuk menuliskan tulisan ini saya sadar bahwa saya melupakan satu hal yang sebenarnya ada. Namun semua kabut pikiran pesimistik saya menjauhkan saya dari kenyataan itu. Ini tentang suatu kenyataan bahwa meskipun kita hanya melihat di “satu layar berpendar saja” namun untuk melihat dan mendengarkan itu kita masih masih menggunakan “dua mata” kita dan “dua telinga” kita. Dan meskipun kita menuliskan ujaran kegelisahan kita melalui “dua jari” bahkan “sepuluh jari”, sebelum tertulis dengan rapi tentunya diolah pada “satu otak” kita dan juga “satu sumsum tulang belakang kita”. (saya ingin berkata “satu hati” kemudian saya urungkan karena saya sedikit kurang setuju dan tidak pernah mendengar bahwa hati juga secara harafiah memiliki fungsi untuk berpikir).

Kesemua itu bermakna, meskipun kini kita hanya melihat melalui satu layar dan berucap melalui 2 hingga 10 jemari, namun sebenarnya kuasa itu masih ada pada diri kita, Dengan dua mata kita dapat melihat lingkungan di luar kotak pendar, atau bahkan jika perlupun kita dapat menggunakan 10 jemari kita untuk memilah dan memilih sudut pandang yang ditampilkan pada layar berpendar itu. Barulah kemudian kita mengolahnya dalam pikiran dan “hati” kita untuk kemudian dapat dengan cepat kita berikan reaksi melalui 10 jemari kita yang menari dan menyair sebuah ujaran yang bermakna dan menyejukan.

Itupun jika otak dan hati kita compatible tengan pergeseran yang terjadi pada jaman ini. Yah jikapun tidak sesuai, yang terjadi biarlah yang terjadi. Bermunculanlah kata kata kosong tanpa makna yang keluar dan bertebaran didalam jagat dunia maya kita. Kita tidak boleh protes dengan hal tersebut. Dunia yang sekarang terjadi memanglah seperti itu dan selalu disusun oleh bilangan digital 1 dan 0. Yah anggap saja orang orang yang masih sadar dan menjaga dalam berucap adalah orang orang yang memiliki otak yang hanya 1. Dan kemudian yang lainnya, ah sudah lah saya tidak ingin panjang lebar lagi. Cukup sekian dari saya.

Salam Hangat

Dewa Putu AM

Daily LifePsikologiUncategorized

Merakit Pematah Makna Pepatah Rakit yang Sudah Lama dan Mungkin Usang

March 31, 2019 — by dewaputuam0

huangshan-3656344_1920-960x640.jpg
Gambaran yang ada di pikiran saya tentang sebuah rakit itu yang seperti ini, Hal ini masuk akal karena besar kemungkinan rakit jenis seperti inilah yang ada dan mengilhami pada saat pepatah rakit dibuat. (Sumber gambar: 雅惠 游 from Pixabay )

Selama ini dalam pelajaran bahasa atau sastra, kita beberapa kali bertemu dengan sebuah pepatah yang cukup terkenal dan rasa-rasanya hampir semua orang yang pernah belajar di Indonesia mengenal pepatah tersebut. Ini tentang pepatah rakit yang tidak diketahui siapa penciptanya dan kita tidak tahu pula siapa penciptanya. Pepatah tersebut berbunyi seperti ini.

“Berakit rakit kehulu, berenang ketepian”

Seingat saya semua guru dan atau orang tua maupun orang lain yang dulu pernah mengajarkan saya menyebutkan pepatah tersebut memiliki makna bahwa kita perlu “bersakit sakit dahulu, untuk dapat bersenang senang kemudian”. Pepatah dan maknanya ini tentu saja dapat diterima, dan merupakan sebuah pesan yang sangat baik bagi semua orang termasuk untuk saya, “mungkin”. Meskipun terkadang saya suka mengelak saat diberikan pepatah tersebut oleh ibu saya dan mengatakan bahwa saya lebih suka naik rakit sambil berenang renang.

Pada tulisan saat ini saya ingin membahas makna lapis kedua dalam pepatah rakit. Saat memikirkan hal ini saya sangat terkesima dengan pembuat pepatah yang sangat keren ini, saya juga merasa ini bukanlah kebetulan bila seorang penulis (atau seorang sastrawan) menyelipkan berlapis makna dalam sebuah karyanya. Lapis-lapisan makna itupun ia rangkaikan dan dengan cerdik ia sembunyikan tipis tipis melekat pada satu sudut pandang tertentu. Lapis-lapisan makna ini biasanya juga dikaburkan oleh lapisan makna tersurat yang dapat dilihat dengan jelas oleh orang orang bisa tanpa banyak berpikir dan menganalisa lebih dalam.

Seperti pada pepatah rakit. Kebanyakan orang akan mengangguk ngangguk jika pepatah tersebut sekedar diartikan berdasarkan kesamaan buny pada akhirannya. Saya lupa istilahnya ini apa, tapi secara umum demikian “Rakit rakit” digunakan untuk menggantikan frasa “sakit sakit”, “ke hulu” digunakan untuk menggantikan frasa “dahulu”, kemudian frasa “berenang-renang” untuk mengungkapkan “bersenang-senang” sedangkan ” ketepian” digunakan untuk menggantikan kata “kemudian”. Jika dibaca secara utuh, pepatah “berakit rakit kehulu, berenang ketepian” akan bermakna “bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian”. kira kira sesederhana itu cara merakit makna lapis pertama pada pepatah rakit.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berakit-rakit ke Hulu”

Ada satu pertanyaan sekaligus tantangan buat teman-teman pembaca sebelum kita coba merangkai logika untuk mendapatkan makna lapis kedua pada pepatah rakit. Pertanyaan dan tantangan ini menurut saya sangat simple.

Maukah teman teman dengan usaha kalian sendiri berakit rakit kehulu “secara harafiah”, maukah anda dengan tongkat dan rakit menelusuri sungai menuju kearah hulu. Sekedar informasi tambahan buat teman-teman, berakit kehulu sungai berarti pula kita harus bergerak melawan arus. Percayalah itu tidak mudah ferguso, kita beruntung bila arusnya tidak kuat dan itupun sudah cukup PR, apalagi bila arus sungainya sangat kuat bukan tidak mungkin kalau kita akan maju satu meter dan hanyut puluhan meter. Rakit biasanya didesign untuk bergerak ke hilir, dan kalaupun tidak, ia biasanya didesign untuk menyebrangi sungai saja itupun dibantu dengan tali tambang/kabel agar tidak terbawa arus dan lebih mudah membawa ketepian sungai di sebarangnya. Yang jadi pertanyaan kenapa orang orang dulu membuat pepatah dan menggunakan frasa yang sedikit kurang logis tersebut “berakit rakit kehulu” dan kira kira apa faedahnya menggunakan rakit untuk mencapai hulu?

Coba kita bayangkan dengan rakit bambu kita harus mengarungi sungai seperti ini dan gilanya lagi harus melawan arus untuk menuju hulu. Sekarang apakah teman teman melihat pepatah rakit sebenarnya agak tidak logis dalam situasi seperti ini (Sumber gambar jwvein from Pixabay)

Dari sini saya rasa kita telah menemukan pintu menuju makna lapis kedua yang dibuat oleh orang orang terdahulu melalui pepatah rakitnya. Kita akan mencoba memaknainya dari sudut pandang realist dan sedikit kritis. Sebelumnya kita mengetahui bahwa berakit-rakit ke hulu adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan (saya gantikan agar ada sedikit harapan meskipun hampir pada kenyataan yang tidak mungkin). Meskipun demikian “sakit” bukanlah makna lapis kedua dari penggalan pepatah ini. Menurut saya penggalan pertama ini memiliki makna tentang orang yang sangat ambisius dengan tujuannya yang juga fantastis yaitu “hulu”. Saya berpendapat demikian karena hanya ambisi dan ego yang luar biasa besar yang menyebabkan orang orang begitu gigih dan berusaha mencapai tujuannya tanpa sadar diri tentang seberapa jauh kemampuan yang ia punya yang dalam hal ini hanya sebuah rakit.

Makna pada penggalan ke dua akan muncul saat penggalan pepatah pertama terpenuhi yakni seseorang yang ambisius dan terlalu ngotot baik secara bodoh ataupun cerdas, bedanya cukup tipis. Saya sengaja memasukan kata bodo dan cerdas disini untuk memberikan sedikit ruang dan mengakui kalau sebenarnya ada variasi pada alasan kenapa ada seseorang yang secara random berakit-rakit ke arah hulu. Beberapa kasus ngototnya mungkin ngotot bodo dan tak tahu diri namun beberapa lainnya ngotot karena yakin ia sangat kuat, cerdik dan atau mungkin saja ia sangat paham akan situasi sebenarnya disana. Dalam pepatah ini bukan tidak mungkin kalau orang yang menggunakan rakit sebenarnya memunyai trik trik jitu atau pengalaman berlimpah sehingga bukan tidak mungkin kesemua itu mampu mengantarnya menuju ke hulu sungai. Yah mungkin saja dia sangat kuat, mungkin dia memodifikasi rakitnya, atau mungkin ia paham, yakin dan berpengalaman untuk berakit rakit kearah hulu, atau ia tahu daerah hulu tidaklah terlalu jauh untuk di gapai. Kalau kata orang orang jaman sekarang “Sing penting yakin”.

Merakit Alur Berpikir Frasa “Berenang-renang ke Tepian”

Lha, saya malah membahas kemana mana ya. kembali pada penggalan ke dua dalam pepatah ini yakni frasa “berenang renang ketepian”. Secara sederhana sebelumnya penggalan kedua ini biasa diartikan sebagai “bersenang senang kemudian”. Hal ini merupakan makna lapis pertama yang sering kali orang lain berikan. Namun secara logis, bila kita pernah menaiki rakit semacam rakit bambu , maka disana kita lihat bahwa sebenarnya kita tidak perlu berenang untuk mencapai tepian, tentunya ini dalam kondisi normalnya ya. Namun mengapa orang orang dahulu menambahkan frasa berenang renang ketepian setelah frasa berakit rakit dahulu? bukannya ini sangat aneh, lalu bagaimana dengan keadaan rakit yang kita tinggalkan sembari berenang ketepian? dibiarkan hanyut dan kembali dengan sendirinya ke hilir atau malah tenggelam dan hilang ditinggal jaman setelah mengemban tugas yang begitu berat.

Rakit seperti ini cukup garang, tapi sampai saat inipun saya belum memahami bagaimana cara rakit bisa kita arahkan dan bergerak melawan arus menuju hulu sungai (Image by julianomarini from Pixabay)

Tentu ada suatu hal besar yang menyebabkan kita tidak membawa rakit hingga ke tepi sungai dan merelakan kita untuk berbasah basah dengan berenang hanya untuk menuju tepian. Dari logika ini kita coba rangkai sesuatu cerita tersembunyi dan terkandung didalam frasa ini. Ada dua hipotesis kunci dalam pemahaman frasa pepatah ini yaitu “Ada suatu peristiwa yang tidak kita duga terjadi” dan hipotesis kedua adalah “Kita harus berani terjun langsung dan mau berbasah basahan untuk mencapai tujuan kita yakni tepian atau bahkan sekedar untuk menyelamatkan diri kita bila mana ternyata sesuatu yang terjadi itu berada jauh dari tujuan kita”

Bila kedua hipotesa itu dirangkai maka kita dapatkan suatu makna dalam penggalan kedua dari pepatah rakit. Makna tersebut kira kira sebagai berikut “Kita harus sadar bahwa suatu ketika mungkin saja ada sesuatu hal yang mengharuskan kita bertindak diluar kebiasaan, Saat itu kita harus berani mengambil keputusan. Ketika tujuan sudah dekat kita dapat turun langsung dengan sekuat tenaga menggapainya, namun bila tujuan masih jauh kita juga perlu terjun langsung untuk sekedar menyelamatkan diri agar masih ada waktu esok dan mencobanya lagi.”

Kita sudah mencoba merangkaikan dan menguntai logika yang ada pada pepatah “Berakit rakit kehulu, berenang renang ketepian”. Berdasarkan logika yang panjang lebar coba kita rakit akhirnya sampailah kita pada sebuah makna tersembunyi atau makna lapis kedua dalam pepatah tersebut. Ini adalah sebuah pesan bagi orang orang penentang arus. Orang orang unik dan berani berbeda dari lainnya, orang orang yang mungkin tanghuh atau mungkin saja bodoh.

Makna Tersembunyi “Berakit-rakit ke Hulu, Berenang-renang ke Tepian

Menjalani hidup yang menentang arus memang sangat berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Kita dapat melakukan segala hal dengan memaksimalkan apa apa saja yang kita miliki baik kekuatan, kecerdikan maupun pengalaman. Meskipun adakalnya kita dapatsaja menemui suatu tantangan yang sangat berat, saat itulah kita harus tetap terus berjuang. Bilamana tujuan masih dekat kita bisa terus memberikan tenaga tenaga terakhir kita untuk mencapainya, namun bila tujuan masih jauh dan tak terjangkau jangan malu untuk menggunakan tenaga terakhir kita untuk sekedar menyelamatkan diri agar tidak mati dan bisa mencoba lagi di kemudian hari.

Versi pendek

“Hidup berbeda dengan kebanyakan itu susah, jika ingin mencapai tujuan kita yang berbeda, kita harus berani bertindak lebih, baik untuk sampai ataupun sekedar menciptakan peluang untuk mencoba lagi. “

(Dewa Putu AM, 2019)

Sepertinya agak banyak bualan ya yang tersebar pada tulisan saya kali ini. Mencoba merombak dan menemukan kembali makna makna terpendam dari pepatah dan karya jaman dulu lainnya juga sepertinya menarik untuk dijadikan tulisan tulisan berikutnya. Namun untuk tulisan ini saya sudahi sampai sini saja dulu karena lagi lagi dan lagi terlalu panjang

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Pustaka dan Gambar dalam Tulisan Ini
  • Gambar 1 yang ada bapak bapak naik rakit di sebuah sungai di negeri Tiongkok, Gambar ini jugalah yang saya gunakan sebagai Feature Image sumber 雅惠 游 from Pixabay.
  • Gambar 2 tentang kondisi sungai di dekat hulu yang biasanya berbatu dan ber arus deras (Image by jwvein from Pixabay)
  • Gambar 3 tentang orang orang yang menaiki rakit modern untuk arung jeram (Image by julianomarini from Pixabay)

BukuDaily LifePsikologi

“Paradoxical Intention” Untuk Melupakan, Kau Harus Mengingatnya

March 30, 2019 — by dewaputuam3

fog-1208283_1920-960x641.jpg
Ilustrasi tentang hilang dan mungkin terlupakan (Image by Free-Photos from Pixabay)

“Dew, gimana cara untuk ngelupain seseorang ya, saya dah berusaha susah payah tapi tetep keinget lagi sama dia” tiba tiba saya dapat pertanyaan ini dari salah satu teman saya. Mendapat pertanyaan tersebut saya pun menjawab “Jangan kamu lupain dia, teruslah ingat dia sesering mungkin bahkan kalau bisa kepoin semua postingan dalam media sosial dia, nanti toh saat kamu jenuh dan lelah dengan sendirinya kamu akan melupakannya.” Ini jawaban saya saat itu, yah meski tidak persis benar perkata seperti demikian tetapi pada intinya sama lah seperti ini. Mungkin cara yang saya utarakan ini akan terkesan aneh bagi kalian tetapi sejujurnya saya memberikan saran tersebut dari sebuah buku yang pernah saya baca dan bukan serta merta dari pengalaman. Sebuah buku berjudul Man’s Search for Meaning Karya Viktor E. Frankl.

Saya kurang paham kenapa orang itu menanyakan hal tersebut kepada saya, mungkin karena saya gampang banget ngelupain orang ya, khususnya dalam hal nama. Mengingat adalah salah satu kelemahan yang ada pada diri saya, saya kurang mampu mengingat nama orang bahkan untuk beberapa jam saja. Hingga akhir akhir ini saat berkenalan dengan seseorang yang baru saya temui, jika saya rasa akan bertemu lagi dan berbincang bincang saya biasanya akan menuliskan namanya pada catatan di smartphone saya agar seawktu waktu saat berbincang saya dapat menyebutkan nama mereka, meskipun saat ingin mengawali percakapan saya tentunya mengecek catatan saya untuk memastikan nama yang saya sebutkan tepat.

“Paradoxical Intention”, Sebuah Paradox Tersembunyi yang Selalu Menentang Keinginan Kita

Ada beberapa konsep menarik yang diutarakan dan ditawarkan oleh Victor dalam bukunya, namun konsep yang akan saya bahas dalam tulisan ini hanya satu konsep yakni sebuah paradox yang secara sadar ataupun tidak sadar sering kita alami di kehidupan sehari hari. Mungkin kalian pernah ingin mencari sesuatu seperti remot televisi misalnya, tetapi anehnya benda itu tidak dapat kita temui saat itu hingga akhirnya kita tidak menginginkan untuk mencarinya dan secara ajaib benda tersebut muncul di hadapan kita. Atau saat kita sedang ngidam makan mie ayam gerobak dorong langganan kita, tapi apa daya kita tunggu berlama lama tak juga datang. Namun saat suatu hari perut kita kenyang atau ada banyak sekali lauk di rumah kita, secara tidak berperi keperutan pedagang mie ayam tersebut dengan merdunya memukul mukul gong besar dan lewat di depan rumah kita.

Saya tidak paham kenapa saya ingin menggunakan ilustrasi ini, saya rasa ilustrasi ini juga tidak begitu menggambarkan apa yang saya tulis di tulisan ini. Tapi ilustrasi ini tampak keren ya (Image by Jonny Lindner from Pixabay )

Beberapa kejadian di dalam kehidup kita terkadang sebegitu bercanda. Mereka hilang tak tergapai saat kita ingin dan butuhkan. Dan muncul begitu saja tanpa alasan saat kita sama sekali tidak membutuhkan. Bercanda banget kan ya terlihatnya. Peristiwa peristiwa inilah yang disebut oleh Victor sebagai “Paradoxical Intention”. Paradox ini didasarkan pada dua fakta yang pertama adalah hilangnya suatu hal saat kita menginginkan secara berlebihan dan fakta kedua yang berkebalikan adalah kemunculan suatu hal saat kita tidak menginginkan bahkan sangat takut hal itu muncul atau terjadi.

Berpegang pada konsep inilah yang kemudian saya menyarankan pada teman saya tersebut untuk menghentikan usahanya untuk melupakan seseorang. Hal ini saya sampaikan karena saya rasa ia sangat ngotot untuk melupakan orang itu atau dengan kata lain ia tidak ingin bahkan takut untuk sekedar mengingat orang yang mungkin telah menyakitkannya tersebut. Hal inilah yang tanpa ia sadari justru mengaktifkan efek dari Paradoxical Intention yang berdampak pada semakin munculnya ingatan ingatan tentang seseorang yang ingin ia lupakan.

Untuk mengatasi hal tersebut saya menyarankan sebuah paradox yang sama. Bukan mendukung untuk melupakan, saya justru memintanya untuk mengingat orang yang ingin itu dengan cara cara yang biasa hingga cara yang menurut saya juga sedikit konyol dan ekstrim yakni menstalking orang yang ingin ia lupakan tersebut setiap hari hehehe.

Saya tidak tahu cara yang sarankan berhasil atau tidak untuk teman saya itu, tetapi setidaknya hingga saat ini ia tidak pernah lagi curcol saya tentang hal ini. Eh beberapa kali masih kumatan seperti itu ding hanya intensitasnya sepertinya sudah sedikit berkurang. Saya menulis artikel ini pun mungkin dia akan terpelatuk dan ingat kembali, hehehe sorry sistah. Saya rasa tulisan ini perlu saya buat dan menarik untuk dibagikan. Tenang aja namamu tidak saya sebut ditulisan ini kan. Hehehe

Kita mungkin pernah menginginkan sesuatu dengan berlebihan, hingga tanpa sadar dengan adanya Paradoxical Intention dirimu justru semakin menjauh dari apa yang kamu inginkan. Inginlah secara sederhana, sesederhana dirimu yang ingin hidup dengan hanya bernafas.

(Dewa Putu AM, 2019)

Saya rasa segitu saja dulu tulisan saya hari ini, Saya harap semua dari kalian dapat memanfaatkan Paradoxical Intention dengan baik. Karena biar bagaimanapun juga sama seperti lainnya selalu ada dua sisi dari suatu hal sisi baik dan sisi buruk. Kita mendapatkan sisi yang mana tergantung dari apa yang kita pilih dan bagaimana usaha kita, jangan terlalu serius menghadapi sebuah hal dan jangan pula terlalu bercanda. Cukup yang sedang sedang saja.

Salam

Dewa Putu AM

Sumber Sumber Referensi dan Gambar
  • Konsep Paradoxical Intention adalah konsep Viktor E. Frankl yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning
  • Feature Image dan Ilustrasi pertama adalah karya Free-Photos from Pixabay
  • Gambar Ikan yang dinaikin manusia pada ilustrasi ke dua adalah karya Jonny Lindner from Pixabay