main

BencanaLingkunganOpiniPopular TheoryPsikologiUncategorized

Hati Hati terjebak Dehumanisasi dalam menyikapi kasus Covid19, dan “Lainnya”

February 15, 2020 — by dewaputuam0

eyes-portrait-person-girl-18495-960x655.jpg
Terkadang kita bergerak terlalu cepat, entah untuk mengejar apa. Hingga kita suatu waktu tanpa sengaja tersadar sudah banyak yang kita tinggalkan (Photo by Mike Chai from Pexels))

Saya ingin berdiskusi sedikit tentang apa yang mengganggu dan meresahkan pikiran saya dalam satu bulan terakhir ini. Teman-teman tentu mengikuti atau paling tidak sudah pernah mendengar bahwa saat ini terjadi suatu tragedi kemanusiaan yang bisa dikatakan sangat besar dan menyedihkan sedang berkembang di Wilayah China daratan serta puluhan negara di sekiarnya. Ini tentang Covid19, yang hingga data terakhir yang saya dapatkan (15 Februari 2020 dari data yang ditampilkan pada dasboard milik Johns Hopkins CSSE) jumlah korban meninggal sudah mencapai 1527 dari 67,091 kasus yang terkonfirmasi.

Itu bukanlah angka yang sedikit, dan yang paling menyedihkan itu bukanlah hanya sekedar angka. Itu semua nyawa manusia, entitas yang sama dengan orang-orang di sekitar kita, entitas yang sama dengan orang-orang yang kita sayang, dan tentunya entitas yang sama pula dengan yang selalu kita temukan saat kita memandang cermin. Yup itu jumlah manusia seperti kita, punya keluarga yang menyayangi mereka dan juga ada teman dan keluarga yang mereka sayangi. Itu sama sekali bukan hanya sebuah angka statistik belaka.

Dehumanisasi?, Ini bukanlah isu yang baru saja ada dan hanya pada saat Covid19, Namun isu ini sudah lama sekali ada, bahkan juga digunakan saat perang berkecamuk. Namun sekarang bukanlah perang.

Dehumanisasi tidak hanya membayangi Covid19 saja. Namun lebih dari itu, dehumanisasi terus menjebak kita dengan berbagai cara membuat kita hanya melihat hitan dan putih saja tanpa adanya wilayah abu-abu sedikitpun. ( Photo by Umberto Shaw from Pexels )

Dengan tidak mengurangi rasa duka dan simpati kepada para penderita serta para korban meninggal dunia akbat virus ini, saya rasa kita perlu membahas dan mendiskusikan bagaimana cara kita menyikapinya. Sangatlah mungkin bila kita (termasuk saya) sering sekali belum dapat menyikapinya dengan baik sisi kemanusiaan ini dengan sempurna dan sering pula kita terpeleset kemudian terjebak oleh dehumanisasi. Orang yang sudah terperangkap jerat dehumanisasi terkadang jelas terlihat, namun terkadang senyap tak terdeteksi oleh sensor apapun. Persebarannya bahkan jauh lebih cepat dari Covid19. Manusia yang sudah terlanjur terkikis kemanusiaannya, akan sulit bisa dianggap manusia secara utuh lagi. Merka yang seperti itu tak ubahnya seperti zombie. Meski masih berwujud manusia tetapi kehilangan esensi dari manusia itu sendiri.

Ini bukanlah isu yang baru saja muncul, dehumanisasi seringkali muncul dalam bentuk dan wujud yang beraneka ragam. Dari hal yang sesederhana “Itu bukan urusanku karena mereka bukan keluargaku” hingga pada wujud yang sulit terbayangkan bahkan menjatuhkan yang sudah jatuh “Ini hukuman Tuhan untuk mereka, karena telah berlaku begitu selama ini”. Mungkin kedua kasus itu masuk diakal sehat teman teman, mungkin saja tidak. Kenapa saya bilang bregitu, coba teman-teman lihat ketiga video ini (Bukan Covid19_1, Bukan Covid19_2, Bukan Covid19_3). Bagaimana pendapat kalian tentang ketiga video diatas. Kita tidak dapat mendebat dengan semua itu. Saya hanya ingin sedikit menunjukan bahawa kita juga tidak sesuci itu, kita sangat mungkin sama seperti orang orang yang sebelumnya saya sebutkan. Sangat mungkin kalau kita juga sebenarnya sedang terpeleset dan terjerembak dalam jurang dehumanisasi.

Kita menjadi Zombie bukan karena kita tergigit oleh zombie ataupun terserang virus. Tetapi kita sendiri yang secara suka rela memilih untuk menjadi zombie

Saya tidak ingin menambahkan caption lagi, namun teman teman akan mengartikan sendiri pada akhir cerita ini ( Photo by omar alnahi from Pexels )

Pada dasarnya dehumanisasi dapat kita artikan sebagai “penghilangan harkat manusia atau tindakan menyangkal kemanusiaan terhadap manusia lainnya.” (Sumber) . Konsep Dehumanisasi yang ingin saya bahas pada tulisan ini adalah sebuah konsep yang saya baca dari sebuah buku karya Paul Scharre yang berjudul Army of None (pernah saya review dalam tautan ini). Yang menarik dari buku tersebut, sang penulis menjabarkan dengan gamblang jalur-jalur yang dapat mendehumanisasi kita baik digunakan secara sengaja ‘terencana’ seperti yang biasa digunakan tentara saat perang, digunakan para teroris meradikalisasikan para pengikutnya dan Juga dehumanisasi yang “tanpa disengaja” mendekap kita tanpa kita ketahui baik melalui karya seni ataupun entitas-entitas lainnya. Dalam bukunya, Paul Scharre setidaknya menjabarkan ada lima cara/jalan untuk mendehumanisasi seseorang.

  • Pertama, mengkondisikan lingkungan psikologis seseorang dengan berbagai cara seperti salah satunya adalah memaparkannya pada informasi dan situasi situasi ekstrim. Contoh saat bencana, saat kita sama sama menjadi korban dan sangat membutuhkan bantuan akan “sulit” bagi kita untuk sekedar membantu. Saya bilang sulit bukan berati tidak ada, karena dalam beberapa kasus ada orang hebat di luar sana yang tetap membantu tanpa memikirkan dirinya sendiri. Hal ini sebenarnya mengingatkan saya pada tiga video yang saya bagikan sebelumnya, tapi yasudah lah ya.
  • Kedua adalah meberikan tekanan berdasarkan kekuasaan, baik dengan fisik langsung maupun tindakan tindakan yang menyebabkan seseorang tidak berdaya untuk menolak. Hal ini tampaknya sudah jelas, dehumanisasi dapat terjadi karena ada suatu kekuatan besar yang mengintimidasi di belakang mereka baik itu manusia lain, organisasi atau bahkan yang lebih besar lagi. Hal ini juga yang membuat saya kurang begitu suka dengan pendekatan dan pembelajaran keagamaan dengan menekankan ketakutan akan sosok Pencipta bukannya Kemaha Pengasihannya itu sendiri.
  • Cara ketiga adalah mendifusikan tanggung jawab dengan cara pembagian tugas yang guyub dan rumit sehingga mengaburkan fakta terkait siapa yang bertanggung jawab sebenarnya. Pembagian tugas memanglah baik namun saat rantai tugas dan kewenangan menjadi terlalu panjang maka terkadang kita tidak sadar yang kita hadapi tidak lain dan tidak bukan adalah nyawa manusia.
  • Cara keempat adalah dehumanisasi manusia lain dengan mengikis sisi humanisnya baik secara langsung maupun dengan narasi yang berputar yang memberikan sisi jahat, hewan dan tidak manusiawinya sosok atau kelompok tersebut, dengan kata laian mereka digambarkan jauh dari sisi manusia. Cara lainnya adalah menggantikan target manusia lain itu menjadi objek-objek fisik atau abstrak lainnya seperti bangunan, ras, bangsa dan lainya yang kemudian secara tidak langsung juga memberikan dampak pada manusia yang telah dilekatkan oleh analogi tersebut. Kedua dehumanisasi dengan mengidentifikasikan entitas manusia sebagai sosok bukan manusia ini pasti sering teman teman temukan, dari pengaburan sisi kemanusiaan secara tidak sengaja dengan menganalogikan nyawa manusia hanya dalam sebuah catatan statistik belaka, ras atau bangsa lalim hingga pada penggambaran sosok manusia itu sebagai kejahatan yang tidak termaaafkan hingga layak disebut setan atau apapun itu (silahkan teman2 lihat dalam kolom komentar ketiga video yang saya bagikan sebelumnya).
  • Cara kelima dan terakhir adalah membuat suatu jarak fisik dan psikologis antara seseorang dengan manusia lainnya hingga kemudian juga dapat memberikan efek dehumanisasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jarak fisik dan juga memisahkan kemudian meningkatkan perbedaan perbedaan antara manusia di kelompok mereka dan ‘manusia lain’ di kelompok lain yang berseberangan sehingga muncul penggolongan yang ekstrim. Hal ini yang kemudian membuat kita terkadang berpikir “Di sana kan jauh ya, untuk apa kita memikirkan mereka, toh mereka juga bukan keluarga kita dan tidak kenal juga dengan kita. Jadi tidak lah perlu bersusah payah memikirkan mereka”.

Banyak juga ya ternyata cara kita tereleset pada lubang dehumanisasi. Jika kita baca, sepertinya memang terlihat sangat jelas bagaimana proses dehumanisasi itu. Namun sayangnya dalam keseharian kita, jarang sekali lubang lubang itu terlihat dengan jelas dan menjadikannya sulit dihindari. Terlebih lagi mungkinlah kelima cara dehumanisasi itu tidak berdiri sendiri-sendiri melainkan terkombinasi menjadi suatu permasalahan yang samar dan sulit untuk kita tebak kemana arahnya.

Itu saja sih hal yang ingin saya bagikan dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini sedikit menyadarkan kita termasuk pengingat bagi saya akan adanya musuh sejati yang besar bagi kita semua. Musuh yang sangat dekat bahkan lebih dekat dari rambut di atas dahi kita. Musuh yang merusak kerja otak kita dan mengarahkan kita menuju kegelapan, menjadikan kita sosok yang menyerupai Zombie yang jauh dari sisi humanis. Jika itu terus berlanjut dan tidak ditanggulangi mungkin manusia akan musnah dan digantikan oleh sosok sosok yang tidak ingin kita kenal lagi bahkan malu untuk diakui pernah menjadi manusia sebelumnya.

Zombie Apocalypse bukan disebabkan oleh T Virus, Flaka, Covid19 atau apapun itu. Zombie Apocalypse justru datang lebih senyap dari itu semua, menyebar dari pikiran seseorang kepikiran orang lainnya tanpa perantara dan vektor yang nyata. Namun persebarannya jauh lebih cepat dan mengerikan dari yang pernah kita duga sebelumnya hingga saat kita membaca tulisan ini pun sangat mungkin kalau kita sudah sedikit terjangkit oleh fenomena itu. —-> Play me

Salam

Dewa Putu AM

Pada dasarnya tulisan ini sudah selesai sampai di sini, silahkan teman teman skip jika memang ingin skip, namun saya ingin menambahkan sedikit saja.

Saya pada awalnya ingin menunjukan hal ini pada postingan saya sekarang. Namun Issue dehumanisasi tampaknya lebih penting dan lebih dapat kita tanggulangi ketimbang permasalahan Covid19 sehingga saya pada postingan utama hanya membahas terkait dehumanisasi tersebut. Saya dalam beberapa hari ini tertarik dengan analisis dan visualisasi data. Namun apa yang saya dapatkan ketika mengelola data tersebut serem sih. Seuma orang mungkin tahu bahwa persebaran Covid19 termasuk sangat cepat. Dari sini kemudian saya mencoba melakukan analisis sederhana untuk melihat akan seperti apa eskalasi Covid19 kedepannya. Saya harap perkiraan ini salah, namun bila tidak ditanggulangi secara cepat dan baik dan kecepatan pertambahannya tetap seperti ini kasus Covid19 akan semakin besar dan berlipat ganda pada akhir bulan Februari atau Awal Bulan Maret. Kalian dapat melihat analisis tersebut pada dasboard yang saya susun dalam tautan ini.

Namun seperti yang saya bahas pada postingan utama saya, yang bisa kita lakukan selain lebih menjaga kesehatan kita dengan berbagai cara yang sudah dianjurkan berbagai istitusi pemerintah, kita juga tidak perlu panik. Namun perlu diingat, yang sekarang menderita di sana samalah seperti kita, terlepas dari persepsi apapun teman-teman kepada mereka janganlan mengaburkan fakta bahwa mereka juga manusia.

Dan kemudian untuk kasus pemulangan (ex WNI yang tergabung ISIS) saya tidak dapat berdiskusi banyak. Saya pun tidak begitu setuju jikalau nanti ada niatan pemulangan mereka begitu saja. Namun perlu diingat perlakuan yang seperti itu tidak begitu berbeda dengan “identitas kejam dan berbahaya” yang kita sematkan pada mereka. Apakah kini kita sama saja dengan mereka? lalu bagaimana kita seharusnya bersikap? Sayapun tidak tahu, biarkan waktu yang menjawab ini semua.

Sudahlah

Daily LifeOpiniUncategorized

Arc BNPB ini saya akhiri sekarang, selanjutnya?

December 31, 2019 — by dewaputuam0

gray-cardinal-direction-compass-1144321-960x640.jpg
Sebuah perjalanan tidak akan bermakna ketika arah yang ingin kita tuju pun tidak kita ketahui. Begitu juga dengan perjalanan hidup kita, arah yang pasti akan menentukan seperti apa perjalanan kita Photo by Alex Andrews from Pexel

Hidup itu tentang bergerak, berubah dan kemudian bermakna. Dalam sebuah perjalanan akan ada permulaan dan ada pula akhiran yang menutup lembar lembar cerita menuju cerita perjalanan berikutnya. Sudah 2 tahun 10 bulan saya merangkai cerita bersama di BNPB sebagai salah satu anggota dari tim yang kemudian disebut sebagai Pusat Analisis Situasi Siaga Bencana (Pastigana). Dalam menghabiskan waktu yang tidak sebentar namun tidak pula terlalu panjang itu sudah banyak hal yang kami lakukan dari hal hal yang membuat kami sulit untuk tidur hingga hal hal yang membuat kami tertawa terbahak bahak.

Jika melirik kembali kebelakang, dapat dikatakan perjalanan kami bukanlah perjalanan yang mudah. Misi utama yang diberikan pada kami pada memberikan informasi analisis dan prediksi dari suatu kejadian bencana baik dalam bentuk narasi maupun bentuk informasi geospasial. Misi tersebutlah yang kemudian memotivasi kami dan juga termasuk saya untuk membayangkan dan menggapai apa apa yang kami rasa sepatutnya ada dan diperlukan saat terjadi bencana. Terlihat keren dan luar biasa bukan?

Ini bukan seberapa cerdas kita menemukan sebuah ide, namun seberapa banyak kita mencoba. Ide brilian yang kalian lihat hanya 1% dari tumpukan sampah ide konyol dan tidak berguna yang setiap hari kami coba dan lakukan.

Hal ini baru saya ketahui beberapa bulan belakangan ini. Ternyata pada awal awal bekerja disini saya tidak begitu disukai teman teman saya. Setelah saya tanyakan alasannya, yah ternyata terletak pada kebiasaan buruk saya untuk mendebat ide ide dan saran yang ada didepan saya hmm,.. dan juga cenderung bekerja sendiri saat saya merasa berat untuk menjelaskan apa yang ingin saya lakukan. Untuk urusan mendebat ide dan gagasan sepertinya sudah menjadi template saya yak. Kebiasaan ini saya bawa dari kecil jangankan teman spermainan atau teman kerja, asisten praktikum, guru, dosen bahkan profesor pun saya debat saat pendapat yang nereka utarakan berbeda dengan yang saya yakini wkwkwk. Terkadang memang terlihat bebal dan tidak mau menerima pendapat orang lain, namun percayalah tidak sedikit perdebatan yang saya lakukan diakhiri dengan saya yang akhirnya tersadar bahwa pendapat saya yang salah dan kemudian saya mengakuinya.

Perjalanan ini perjalanan bersama kalian, dari tangan tangan kalian semua kisah dan cerita terukir dan terlengkapi dengan sempurna. (Photo by Italo Melo from Pexels)

Untuk yang bekerja sendiri, saya akui itu dan semua itu karena terkadang saya kurang mampu mengkomunikasikan kepada orang lain apa yang saya ingin lakukan. Jadi alih alih saya berdiskusi, biasanya saya akan menyendiri berkutat dengan perangkat kerja saya sendiri dan kemudian saat semua selesai biasanya baru akan saya komunikasi dan diskusikan pada orang lain untuk kemudian dikoreksi dan dikritisi untuk perbaikan. Itu tampaknya lebih mudah dilakukan dari pada mendiskusikan konsep yang masih kosongan tanpa wujud.

Dalam melakukan hal tersebut, tidak semua ide yang saya miliki berhasil saya eksekusi, 99%nya justru gagal dan kemudian menumpuk dalam folder yang saya namakan “mini riset” . Kemarin saat saya backup dan pindahkan dari PC kantor ke Hardisk eksternal saya ternyata kapasitasnya mencapai 70-an Giga, ini belum yang memang ada di perangkat milik saya sendiri yangbelum saya rapi rapikan lagi. Prinsip yang saya pegang adalah, jika ada hal baru maka langsung coba kunyah, kalau kurang bagus lepeh dan simpan siapa tau akan bagus saat disimpan kemudian dikunyah lagi. (macam permen karet daur ulang hahhaha)

Tetapi semua itu hanyalah omong kosong dan sedikit sekali makna yang dapat diambil dari apa yang saya kerjakan sendiri itu. Saat kita bekerja sendiri, meskipun sesempurna apapun ide dan gagasan yang kita kelola hasilnya selalu tidak memiliki jiwa dan berkesan mati, hambar dan kurang dapat dinikmati. Tidak ada keistimewaan dari kesemua itu. Hingga suatu hari saya tersadar, ada satu yang kurang. Sehebat apapun kita, secerdas apapun kita (apalagi macam saya ini yang biasa biasa saja) kita tidak akan dapat merubah dunia sendirian. Saat ku bekerja sendiri, dari 100 ide yang ku kelola dan wujudkan 99nya adalah sampah dan hanya 1 ide yang layak tampil. Namun saat saya berubah menjadi kami, kami menciptakan 1 juta ide dengan 10000 ide layak tampil. 🙂 bukankah itu jauh lebih baik.

Setelah ini, Lalu apa?

Dalam beberapa kesempatan, tidak jarang teman bertanya kenapa saya tetap bertahan bekerja di tempat ini, melihat tekanan yang ada dan kesempatan yang diberikan tidaklah begitu menonjol dibandingkan tempat tempat lainnya. Setiap mendapatkan pertanyaan seperti itu saya biasanya menjawab, saya tidak keluar karena saya ingin menyumbangkan sesuatu yang benar benar saya banggakan dan dapat berguna bagi di sini agar suatu waktu saat saya pergi, setidaknya nama saya masih sedikit dikenang. “Sesuatu itu” adalah sesuatu yang saya idam idamkan untuk saya berikan dari awal saya bergabung. Kita sebut saja sesuatu itu sebagai One Piece. Saya pernah sesekali mengutarakan nya namun karena begitu berat akhirnya mental begitu saja. Hal yang saya lakukan kemudian memecah “One Piece” itu menjadi beberapa bagian kecil yang saya rasa masih masuk akal untuk dikejar.

(Photo by Naveen Annam from Pexels)

Bagian bagian kecil inilah yang kemudian saya coba utarakan, kami kelola dan selesaikan untuk dirilis satu-satu. Mungkin hanya sedikit yang sadar kalau ide ide yang saya berikan bukanlah ide ide yang terpisah seutuhnya, namun bagian kecil dari sebuah ide besar yang saya impikan di awal yang pernah saya utarakan dulu sekali.

Ternyata waktu dan lingkungan kemudian tidak lagi bersahabat dengan kami. Semakin lama semakin hilang sumberdaya kami, pengurangan itu menghasilkan kehilangang energi kami secara signifikan. Kepingan kepingan puzzle yang kami buat mental dan tenggelam begitu saja. Saat dirilis pun tidak jarang mendapati tanggapan alakadarnya dan sekedar “oh”. Saat itu hati saya merasa hancur dan putus harapan. Motivasi sayapun beberapa kali terkoyak untuk hal yang tidak perlu. Rutinitas membawa saya pada jebakan perlombaan tikus yang bergerak hanya untuk mendapatkan uang dan kemudian pulang dan kemudian menghabiskan uang tersebut untuk mendapatkan uang itu kembali. Hal itu tidak hanya berdampak pada kelompok, namun berdampak pada saya secara pribadi. saya semakin hilang arah dan kehilangan makna. Nilai pribadi yang sendari dulu saya perjuangkan pun terlupakan dan tergantikan kemudian membentuk pribadi yang dalam kaca pun sudah tak bisa saya kenali lagi.

“Perjalanan saya di sini sudah mencapai batasnya dan sangat sulit untuk menerima semua itu. Namun jika saya tetap melanjutkan hanya akan berakhir pada kekecewaan saja.” Dari sini saya sadar, saya harus berhenti sejenak bukan untuk mundur namun untuk merubah haluan haluan sedikit lalu kemudian melanjutkan perjalanan saya. Melalui jalur yang sepenuhnya baru.

Kesempatan itupun datang ketika salah satu rekan saya menawarkan merintis sebuah tim untuk mengerjakan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak pernah saya pikirkan namun saat saya pikirkan dan diskusikan ternyata sesuai dengan tujuan saya sebelumnya. Melalui tim ini kemudian kami memulai lembar cerita baru kita MenCari dan menelusuri sebuah jalan yang baru dengan asupan ide ide segar dari orang-orang baru yang bahkan kerangka berpikir nya berbeda jauh dari yang pernah saya pelajari. “Menarik”, itu satu kata yang pertama kali terlintas dalam benak saya. Dengan meniriskan sedikit keraguan kemudian saya masuk kedalam Arc selanjutnya dalam perjalanan saya.

Feature Image by Rafael Pires from Pexels

BukuHiburanOpiniUncategorized

[buku] Teman Berjuang by Indra Sugiarto. Sebuah buku tentang teman dan sekaligus menjadi teman saat berjuang

November 12, 2019 — by dewaputuam0

photo_2019-11-12_12-47-44-960x639.jpg
Teman berjuang memukul, menyadarkan saya sekaligus mengingatkan suatu cara pandang yang realistis tentang kegagalan dan perjuangan

Saya dipertemukan dengan buku ini melalui algoritma lucu dari instagram. Sebuah algoritma yang kemudian membawa saya pada post berbentuk tulisan berseri dengan diksi yang lugas tanpa belas kasih. Yups, postingan itu milik akun Teman Berjuang. Tanpa berpikir panjang karena banyak dari post mereka ternyata tak kalah profokatif dan menurut saya lebih memberikan cara pandang yang masuk akal bagi saya maka saya putuskan untuk mengikuti akun mereka. Begitulah kira kira intro saya untuk tulisan tentang buku pertama karya alumni IPB hehehe (satu almamater ternyata). Jika ada teman teman yang pernah kuliah di IPB dan tidak jauh angakatan dengan saya maka pasti tahu Katalis, nah penulis buku inilah salah satu orang dibalih semua itu.

Beberapa buku pengembangan diri beberapa waktu belakangan ini saya perhatikan mengarah pada pola pikir yang sederhana dan realistis. Hal ini berbeda dengan trend trend buku pengembangan diri pada tahun tahun sebelumnya yang penuh dengan kata kata motivasi dan angan hingga mimpi yang terlampau jauh kedepan sehingga terkadang terputus dengan realitas yang ada. Konsep dan kerangka pikir yang demikian buat sebagian orang justru akan menambahkan beban yang akhirnya saat terjadi kegagalan rasa sakitnya pun menjadi semakin besar.

Buku karya Indra Sugiaro ini mengingatkan kita apa yang sedang kita perjuangkan dan untuk apa kita berjuang sekaligus menjadi salah satu teman kita untuk berjuang. Yang paling saya suka penulis tidak terlalu banyak memberikan buaian indah berlebihan tentang kesuksesan yang pasti akan ada pada setiap kegagalan. Penulis justru memberikan hantaman keras nan telak bahwa kegagalan ya kegagalan dan itu memang hal yang menyakitkan terkadang diperparah dengan hilangnya orang orang disekitar kita. Kejam sekali bukan.

Meski diksinya keras dan kejam, Buku ini mencoba meyakinkan pembaca bahwa ia berada di pihak mereka dan kemudian mengingatkan kita alasan kita berjuang “Lagi”

Untuk yang tidak merasakan kemenangan, tidak perlu malu dan menghilang. Tidak semua petarungan harus kau menangkan – Indra Sugiarto, Teman Berjuang- (Sumber Ilustrasi: Photo by Alvin Decena from Pexels)

Awal membaca saya justru tertarik dengan pemilihan kata (diksi) maupun kalimat yang penulis berikan kepada kita. Pada bagian pertengahan saya baru menyadari ada sesuatu hal yang selama ini saya tidak temukan dalam buku buku pengembangan diri lainnya dan justru tidak tahu bagaimana memang disengaja dan telah dikonsepkan dari awal. hmmm atau tidak sengaja. Saya lebih yakin pilihan pertama. Dalam bukunya, penulis memberikan sebuah alur cerita yang gamblang hingga sayapun kemudian berpikir kalau buku ini juga sebuah novel.

Saya sebenarnya sedikit bingung sih, menggolongkan buku ini dalam genre apa. Penulis memberikan batas yang tidak begitu jelas terlihat antara buku pengembangan diri, novel atau bahkan buku puisi. Kekayaan literatur saya soal buku jenis ini saya rasa memang sangat kurang hehehe, jadinya sedikit bingung saat membaca buku ini dan harus memasukan dalam genre apa.

Dalam beberapa literatur dan beberapa kali saya terapkan dalam kehidupan sehari hari, ada sebuah konsep dimana untuk berinteraksi, berkomunikasi dan bahkan ingin memberikan pengaruh pada seseorang maka langkah awal yang perlu ditempuh adalah meyakinkan orang tersebut bahwa kita berada dipihak mereka. Orang akan cenderung difensif jika tidak yakin bahwa orng yang sedang berinteraksi dengannya berada dipihak mereka. Jika sudah begini, jangan kan pengaruh, berinteraksi lebih lanjut aja sulit untuk dilakukan.

Buku ini menggunakan pendekatan yang sama, Meski diksinya keras dan kejam, Buku ini mencoba meyakinkan pembaca bahwa ia berada di pihak mereka. Sang penulis memberikan kesan setuju dengan apa alasan alasan dan menyetujui atau setidaknya mengakui tentang hal hal negatif yang mungkin para pembaca sedang rasakan. Perasaan kecewa, sakit dan sedih semua di tuliskan secara gamblang dan kejam. Namun penulis selalu mengakui perasaan perasaan negatif itu memang nyata adanya tak perlu di hindari cukup rasakan saja betapa pahit dan kejamnya semua itu.

Di momentum ini, kamu pikir aku akan mengatakan semuanya akan baik baik saja. Oh, no, sweetheart, I am so sorry. Semuanya tidak baik baik saja.

Indra Sugiarto, Teman Berjuang

Di balik kekejaman itu justru sang penulis mendekati kita melalui kata katanya, bahwa adalah sebuah kebohongang kalau gagal itu tidak menyakitkan. Namun gagal hari ini belum tentu gagal di hari esok. Sayangnya kata “belum tentu gagal” juga bukan memiliki arti yang sama “pasti berhasil” hehehe, jadi masih bisa lah gagal gagal lagi. Meski menyakitkan gagal ya gagal dan hal itu normal. Jadi jika gagal nanti kita ingin menghilang sejenak dan memeluk (sesaat) kesendirian kita ini. Mengatakan kuat pada hati yang sedang tidak kuat. Yaaa monggo.

Namun jangan lama lama bersedih dan meratapi kegagalan, bukankah ada hal besar yang membuat kita selama ini berjuang. Jadi jangan lupakan itu.

Bukan hal yang mudah untuk mereview dan mengulas buku ini, karena terlalu banyak ide dan quote-quote menarik yang sulit sekali memilah mana yang terbaik untuk di tuliskan dan di ulas dalam posting singkat ini. Namun jika harus memilih 5 buku terbaik yang saya pernah baca di tahun ini. Saya pastikan buku ini masuk dalam daftar itu.

Saya kira cukup sekian dulu ulasan dari saya untuk buku “Teman Berjuang” kali ini. Oia saat ini saya sedang membaca Buku “Tumbuh dari Luka” dari pengarang yang sama. Tampaknya bakal menarik hehehe.

Salam

Dewa Putu AM

BencanaLingkunganOpiniUncategorized

Menilik Ulang Pesta Asap 2019 yang besar nan Meriah

November 6, 2019 — by dewaputuam0

2504589369.jpg
“Keindahan” yang terpancar saat hutan terbakar. Coba bayangkan seberapa banyak hewan dan tumbuhan yang ikut hangus melayang dan tersiasiakan disana. Tidak banyak mungkin.[mungkin] (Sumber: National Geographic Indonesia – Grid.ID)

Kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 meninggalakan banyak kisah dan pembelajaran bagi kita. Pembelajaran yang seperti biasa yang sangatlah mungkin akan hanya sekedar menjadi pembelajaran saja tanpa adanya aksi aksi strategis dan nyata. Bila pada tahun sebelumnya di tahun 2018 kita menggembor gemborkan keberhasilan kita dalan menangkal kebakaran hutan beserta aksi heroik para pemadam dalam mengendalikan api. Aksi heroik secara harafiah, karena mereka tidak hanya mengorbankan waktu mereka saja untuk melakukan hal tersebut namun juga bertaruh kesehatan bahkan nyawa mereka.

Pada tahun ini kita terbungkam oleh pekatnya asap di berbagai daerah. Asap menyebar ke penjuru wilayah hingga terkadang melewati batas negara dan menyapa tetangga. Saling menyalahkan dan bercuci tangan pun tak terhindar, berbeda sekali dengan tahun kemarin yang saling klaim keberhasilan. Kemana mereka yang kemarin mengklaim keberhasilan mereka? apakah mereka terdiam terbungkam oleh pekatnya asap kali ini. Tidak, mereka tidak berpangku tangan saja, mereka bergerak kalang kabut memadamkan api, yups mereka dengan berbagai orang dibawahnya. Saya ada dibawah sana, titik kecil yang sangat kecil hingga mungkin tidak terlihat oleh mata.

Pesta rutin tahunan, Namun kenapa kita seolah suka terlena tidak pernah belajar

Tahun lalu saat di deploy di Sumatera Selatan untuk mengurusi operasi pengaman Asian Games bebas asap, saya sempat berbincang pada seorang dibalik layar. Dengan mata berkaca kaca ia bercerita betapa sulitnya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Ia mengatakan bahwa 2018 kita selamat karena iklim memang sedang berpihak pada kita. Musim kering yang tidak begitu intens menyebabkan kebakaran relatif mudah dipadamkan dan masih dapat ditanggulangi. Meskipun berjibaku keras menangani kebakaran semua itu masih untung dan terbantu dengan iklim yang memang sedang bersahabat. Pada kesempatan itu pul dengan mata yang masih berkaca kaca bahwa ia sedikit resah dengan musim kering 2019 yang kabarnya akan terjadi El Nino, yang menurutnya akan berdampak pada intens dan sulitnya kebakaran yang akan terjadi.

Setahun kemudian, apa yang ditakutkan beliaupun terjadi. Iklim dengan El Ninonya menunjukan sesuatu yang tidak sebersahabat tahun lalu. Kebakaran hebat terus menghantam berbagai wilayah di Indonesia. TIdak hanya terjadi pada daerah daerah yang sudah berlangganan terbakar, namun juga mayoritas gunung gunung di pulau Jawa dan Nusa tenggara seakan kompak menyulurkan lidah lidah api membakar lahan pada tahun ini. Saat kebakaran hebat terjadi pemadaman darat hingga penggunaan helikopter untuk melakukan water bombing adalah suatu usaha yang berada di batas tipis di antara harapan dan ketidak mungkinan. Kebakaran yang begitu luas dan masif akan sangat sulit bahkan dengan berat hati saya katakan itu tidak mungkin dipadamkan.

Jika dianalogikan seakan kita sedang ingin memadamkan kebakaran yang terjadi di sebuah rumah dengan sesendok demi sesendok air. Mungkin terlihat terlalu berlebihan namun cobalah teman teman lihat kebakaran yang saya sisipkan dibawah ini dan bandingkan seberapa banyak air yang ditumpahkan helikopter dan seberapa besarnya kebakaran yang sayangnya sangat banyak yang jauh lebih besar dari kebakaran yang saya tampilkan pada gambar ini.

Lokasi kebakaran hutan dan lahan yang mayoritas dikatakan berada di lahan gambut meningkatkan level ketidakmungkinan dan bahaya dalam menanganinya. Bila di tanah tanah lainnya kebakaran selalu sangat jelas terlihat dimana letak apinya. Kebakaran di lahan gambut berbeda. Saat lahan gambut terbakar, yang terbakar tidak hanya dipermukaan saja namun jauh dibawah tanah sehingga akan terlihat tanah yang berasap saja bila kita gali dalam tanah tersebut maka akan terlihat bagian dalamnya telah hangus terbakar. Kebakaran ini dapat merambat jauh melalui bawah tanah dan muncul lagi ditempat lain. Terlihat bercanda ya, namun akibat yang ditumbulkannya sayangnya tidak sebercanda itu. Berdasarkan data kementerian kesehatan yang dirilis September 2019 hampir 1 Juta orang menderita infeksi saluran pernapasan akibat kebakaran hutan yang terjadi.

Ini salah mereka, salah perusahaan besar dan pemerintah! dan bukan salah kita, dan lalu apakah kita peduli dengan semua itu? hanya ikut ikutan mengeluh, menghujat dan meramaikan beranda maya kita, dan itu saja

Jagat maya ramai akan keluh kesah, doa, hujatan bahkan kutukan pada siapapun yang “umum” katakan bersalah. Entah itu pemerintah ataupun para kara kambing terbakar hangus lainnya. Kita butuh sesuatu yang kita persalahkan. “Itu cukup bagi kita” itu cukup adil bagi kita sambil menikmati satu bungkus mie instan dan satu cup plastik kopi di tangan. Lincahnya tarian jemari kita menguntai satu demi satu kata penuh dengan kebajikan dan terkadang disisipi “candaan” ringan akan apa yang sudah dan sedang terjadi. Miris memang, disatu sisi kita menyalahkan gilanya pembakaran untuk pembukaan lahan dan perluasan perkebunan namun disisi lain kita justru menjadi pasar yang begitu rakus menikmati produk turunan dari apa yang mereka bakar tersebut.

Dengan iseng saya mencoba menelisik sedikit bagaimana si ketertarikan kita pada isu isu seperti kebakaran hutan dan asap. Meskipun dapat ditebak, sama seperti bencana bencana pada umumnya rasa ingin tahu kita pada isu isu seperti ini hanya anget anget tai ayam saja. Akan melonjak naik bila memang sudah heboh. Kebanyakan dari kita adalah orang orang yang latah dan mengikuti arus saja. Saat semua berbicara A maka kita akan berbicara A. Hingga pada suatu waktu A akan dilupakan, kitapun akan lupa tanpa bekas. Tak ada lagi pelajaran bahkan ingatan yang kita simpan sekedar untuk bahan menghadapi masa yang akan datang. Hal berulang selalu terjadi.

Ada sebuah kata bijak yang selalu terngiang dalam benak saya dan mungkin teman teman sudah sering pula mendengar kata kata ini dalam bentuk lain. Kejadian seperti ini, baik kebakaran hutan, membeludaknya sampah dan beberapa keburukan yang terjadi disekitar kita terjadi tidak hanya karena banyak orang jahat yang melakukan kejahatan, namun karena banyaknya orang baik yang tidak lagi peduli.

Sudahlah semua itu mungkin sudah berlalu dan kita saat ini sedang memasuki lembar baru. Kebakaran hutan dan lahan bersama dengan Asapnya yang mencekik kita berbulan bulan kini akan tergantikan dengan banjir, tanah longsor dan banjir bandang. Yang menjadi pertanyaan besar dan paling penting kita ungkap pertama dan segera bukalah seberapa besar dampak karhutla dan asap pada bulan bulan lalu, tetapi seharusnya seberapa banyak pembelajaran yang kita dapat pada kesalahan kita lalu yang dapat kita kerjakan dan perbaiki di masa kedepannya. Tidak mungkin 0 kan. Saya yakin tidak mungkin 0. Karena saya percaya kita adalah orang orang yang selalu peduli dengan lingkungan sekitar. Kita selalu peduli dengan hutan dan kita selalu peduli dengan segala kekayaan hayati di sekitar kita. Saya yakin itu. [mungkin]

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Ini Bukan Tentang Dunia Melainkan Cara Kita Melihat Dunia

October 27, 2019 — by dewaputuam0

alex-alvarez-F4Q_-YiPY7U-unsplash-960x640.jpg
Kita semua melihat dari filter berbeda yang terbentuk oleh kita dan lingkungan kita sebagai sesuatu yang unik. Kita berbeda tidak hanya dari sikap kita terhadap sesuatu namun sejak kita melihat sesuatu. Photo by Maurício Mascaro from Pexels

Pada hari blogger tahun ini saya ingin berbagi pikir sekaligus berdiskusi tentang cara kita melihat. Dari cara kita melihat, merasakan inilah yang kemudian membingkai pola pikir kita dalam mengelola suatu permasalahan entah itu permasalahan sepele dari sekedar gaya menyisir rambut hingga permasalahan permasalahan yang lebih prinsip seperti Politik mungkin atau idealisme. Pemahaman akan adanya beda cara kita melihat agaknya merupakan kesadaran yang perlu sekali kita miliki dalam kehidupan kita saat ini. Banyak sekali permasalahan dan kesalahpahaman datang dari tidak sadarnya diri kita pada tidak mesti sama nya cara orang lain memandang dengan cara kita. Sedikit menjelimet ya bahasa yang saya gunakan. Akan tetapi sesuatu yang penting disini adalah kesadaran kita bahwa cara kita melihat itu sangat mungkin berbeda dengan orang lain.

Saya begitu heran dan sekaligus terkesima akan kayanya perbedaan diantara kita, khususnya pola kita memendang. Beberapa waktu saya terheran kenapa beberapa orang tidak memahami konsep yang terlihat begitu sederhana kenapa tidak ada yang melihat kesalahan yang begitu jelas terhampar nyata. Kenapa ini kenapa itu. Hey begitu juga dengan saya, kenapa ada juga konsep dan kesalahan yang butuh waktu lama atau bahkan tidak dapat sama sekali saya pahami. Hal inilah yang secara nista kemudian membuat saya beberapakali terjebak pada debat konyol meributkan sesuatu yang “berbeda”. Debat yang lucu sekaligus payah ini terjadi saat kita mempertahankan ego masing masing untuk mengadu dan menaklukan pola pikir lawan kita.

Semua Benda dan Hal Itu Bersifat Netral, Kitalah Yang Memberikan Mereka Nilai Baik-Buruk Sejak Kita Melihat

Kita tidak dapat terhindar sepenuhnya dari bias-nya kita melihat juga bias-nya kita berpikir hingga Photo by Alex Alvarez on Unsplash

Kadang kita bias memaknai mana yang fakta mana yang hanya persepsi kita. Kita terjebak dengan cara kita melihat dan kerangka berpikir kita sendiri hingga sebuah nilai kita anggap suatu fakta yang universal benar dan harus benar bagi semua orang. Pola pikir inilah yang kemudian membawa kita pada apa yang saya sebut perdebatan konyol sebelumnya. Kita yang saya maksud disini tentunya termasuk saya, saya pun demikian sukar untuk terlepas dari bias seperti ini. Ini hal yang lumrah kita lakukan dan manusiawi sekali. Hal yang penting bagi kita bukanlah untuk lepas pada bias bias itu namun jauh lebih sederhana dari itu karena kita hanya perlu menyadari bahwa apa yang kita anggap fakta sebenarnya bukanlah fakta.

Saya lupa konsep ini terinspirasi dari buku mana, mungkin dari buku karya Henri Manampiring berjudul Filosofi Teras. Ada suatu metafora menarik untuk menggambarkan berbedanya cara memandang kita. Coba bayangkan kita sedang duduk di dalam kamar dan kita sedang melihat ke arah taman di luar. Di tengah taman kita melihat seekor Gajah duduk di Jungkat Jungkit sedang beradu pandang dengan kita sambil mengenakan kacamata berwarna biru. Melihat kejanggalan tersebut kita pun menghubungi teman kita yang rumahnya ada di seberang rumah kita.

Dengan semangat kita bercerita tentang kejanggalan Gajar menggunakan kacamata yang saat ini sedang saya lihat. Karena rumah teman kita itu tidak dapat melihat langsung ke arah taman maka teman kita itu hanya anggut anggut namun tidak percaya dengan apa yang sedang kita bicarakan. Teman kita yang saya telepon itu tidak percaya ada gajah naik jungkat jungkit dan kenapa ada gajah di taman. Ini yang menarik, saya rasa dan tebak teman teman yang saat ini sedang membaca tulisan saya memiliki sebuah pertanyaan dan justru menyoroti alasan kenapa saya memberikan contoh yang begitu aneh dan tidak nyambung sama sekali dengan bahan pembahasan kita saat ini.

Inilah yang saya maksud dengan penilaian kita muncul bahkan saat kita melihat. Bagi “saya” yang saat itu melihat seekor gajah sedang bermain jungkat jungkit mungkin akan ter heran (merasakan ada sesuatu yang salah) saat melihat gajah menggunakan kaca mata karena ukuran kepala gajah yang begitu besar akan repot sekali membuat kaca matanya. Sedangkan teman saya ditelepon akan keheranan saat mengetahui ada gajah, karena baginya tidaklah umum ada seekor gajah masuk ke taman kota. Dan bagi para pembaca justru menyoroti ada yang salah dengan contoh yang diberikan.

Bila kita baca lagi secara seksama narasi yang sebelumnya saya berikan bukanlah sesuatu yang aneh (ini persepsi saya). Atau mungkin merupakan narasi yang janggal dan tidak masuk akal (ini persepsi lainnya yang mungkin muncul). Tetapi satu hal yang pasti cerita yang saya sampaikan tadi tidaklah ada nilainya baik itu nilai kejanggalan kemasukakalan atau lain sebagainya. Nilai nilai yang demikian itu berasal dari kita. Apa yang telah terjadi pada kita selama ini memiliki andil yang besar pada kerangka melihat apa yang kita gunakan, mana yang kita tonjolkan dan mana yang kita buat blur. Untuk hal ini kita semua unik.

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Mari Ku Ajak Kalian Pada “Enam”. Seni Berpikir Enam Kepribadian

October 24, 2019 — by dewaputuam0

action-backlit-beach-1046896-960x469.jpg

Hai,.. ini akan menjadi sesuatu yang lucu, sebuah perjalanan yang sengaja saya buat untuk mengenalkan kalian pada apa yang mungkin tidak pernah kalian temukan sebelumnya atau mungkin beberapa dari kalian sesekali pernah menyadarinya. Mari masuk akan saya tunjukan sesuatu, jangan ragu ini tidak berbahaya, saya jamin itu.

Photo by Louis from Pexels

Coba rasakan rerumputan yang menjalar dan membasahi telapak kaki kita dengan embun yang sendari pagi tidak pernah menguap. Sentuhan yang membawa kehangatan yang menyelimuti kita pergi dan terengut untuk digantikan kesejukan kecil namun lucu. Coba rasakan juga sentuhan lembut angin yang bergerak dari belakang merayap merambat tanpa hambat menelusuri dari belakang dari tulang punggung kita dan terpecah kiri dan kanan menelusuri tubuh kita kearah depan mengeringkan peluh keringat.

Lembut dan arah angin, kau rasakan kah ia membawa kita melangkah kedepan menuju suatu tempat tepat didepan sana, sebuah pintu. Dibalik pintu itulah yang ingin saya tunjukan pada kalian mari ikut saya. Hiraukan saja rasa dingin dan gelayutan angin di antara rambut rambut tipis dan jemari yang sendari tadi kalian rasakan. Meskipun mungkin itu sedikit sulit tapi mari ikutlah saya untuk menemui “sesuatu” dibalik pintu itu.

Biru terang langit dan kemudian gelap pada rona lautan luas. Biru memang seluas itu

Photo by brenoanp from Pexels

Tapi sebelum itu ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Disini saya disebut dengan si Biru, sayalah sang entitas “pembawa segalanya” kesini. Seperti birunya langit yang memberikan kesan luas tanpa ingin memberikan batas, saya melihat jauh lebih luas 1000 langkah lebih jauh dari “lainnya disini”. Itulah tugas saya, membawa apa yang menurut saya menarik dan melihat semua arah yang jauh itu dari apa yang saya bawa. Ehem tentunya kalian juga, ada maksud disini saya bawa kalian ke sini.

“Hai biru, apa yang kau tunggu lagi bawa tamu kita kesini”.

Kau dengar suara di balik pintu itu? mereka tampaknya tidak sabar untuk bertemu tamu mereka. Mari ikut aku ke pintu itu, jangan pedulikan gagang pintu dingin yang sedikit membeku karena dinginnya hujan semalam. Tak perlu kalian pedulikan pula warna usang pintu usang ini, mari masuk dan jangan ragu melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalam.

Sedikit lebih terang ya, namun saat pupil matamu terbiasa, dirimu akan melihat empat orang disana sedang duduk di sebuah meja kayu bulat klasik yang tampak kokoh bukan. Maaf agak sedikit kumal untuk urusan cat nya, harap maklum ya sudah tak terhitung berapa kali meja ini di diketuk ketuk gebrak hingga dihempaskan. Ini meja diskusi kami. Oia agak kurang lengkap ya disini, masih ada satu lagi yang belum datang. Sudah jangan terlalu diindahkan ia memang terbiasa begitu. Tapi ia tau kok kalian akan datang kesini, pada ialah saya meminta ijin. Yah meski suka menghilang tidak tahu kemana, dialah pemilik tempat ini sebenarnya sebelum ada kami di sini.

Mari silahkan duduk, kursinya memang terlihat sedikit rapuh tapi tenanglah seberat apapun dirimu kayu ini lebih dari cukup untuk menompangmu. Mari saya kenalkan pada mereka. Ssssst mereka asik kok tenang saja. Dari sinilah semua akan kita mulai dan jangan ragu untuk bertanya bila ada yang ingin kau tahu. Ku sudah merencanakan sesuatu yang menarik untuk kalian dan juga tentunya sudah kami diskusikan akan ke arah semua ini. Sebagai awalan ku akan memberikan kesempatan pada seseorang berbaju putih dan membawa tumpukan kertas kertas tidak tahu jundrungannya itu dengan senyum yang sedikit asimetris dan sedikit menghina namun tajam namun dingin hahaha. Sulit sekali ya memberi gambaran sosok ia itu, terlihat sombong tapi jauh di lubuk hatinya ia baik kok. Monggo putih.

Kanvas Putih tempatmu melukis semuanya, kertas putih tempat semua tercatat disini dengan sempurna. Putih ini tak pernah lama tetap putih

Photo by charan sai from Pexels

Oke terimakasih biru, dah menyanjung ku sedikit sekarang berarti giliranku ya. Susah sekali ya dirimu membawa trik-trik pra-induksi dalam hipnosis pada tulisan ini. Memberi gambaran interaksi dan menggambarkan suasana disini segala hehehe. Tapi okelah sebagai awal meski sedikit bertele tele. Apalah menariknya ruangan ini selain sejuknya udara. Lampunya sedikit remang dan tak jarang bergoyang bila kita berdiskusi dan berdebat. Oh ia saya sedikit terlupa dengan tamu kita saat ini. Setelah dibawa masuk pada kesadaran ini mari saya bawa kalian kembali teman teman kita ini pada realitas di depan pendaran layar bercahaya dan membaca tulisan ini dalam hati hingga seolah olah thati mereka berbisik dan berkata kata perkata yang terlihat dipendaran putih itu.

Pendaran putih, kanvas putih, kertas putih disanalah kita melihat kata terukir dan tergambar untuk kemudian ditangkap otak kita untuk dikonversi menjadi bisikan bisikan ajaib dalam otak kita seolah ada seseorang yang membacakannya untuk kita. Saya lah si putih, sebuah entitas dan kesadaran disini yang bertugas melihat dan menulis semua dalam kertas putih.

Apapun yang yang si biru bawa kesini tugas saya lah untuk melihat seksama entah itu entitas yang berwujud atau permasalahan, sebuah entitas abstrak tanpa wujud. Semua pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiran saya. Pertanyaan pertanyaan dasar Apa kenapa, siapa, bagaimana, kapan dan dimana selalu berputar untuk semuanya yang datang kesini atau pada maksud untuk yang datang kesini. Jujur sih, diriku sedikit bingung dan ada banyak gap antara pengetahuanku dengan kenyataan saat ini termasuk tentang apa yang membuat teman teman sekarang kami ajak kemari. Saya masih penasaran, jika masih ada waktu boleh lah saya sedikit bertanya hehehe.

Bagaimana kuning? sekarang giliranmu dulu ya, kalau bisa kita jangan terlalu lama lah berkenalannya soalnya saya ingin kita masih punya waktu untuk bertanya banyak pada mereka. Jarang jarang loh “Dia” mengijinkan orang asing masuk ke dalam sini.

Padi yang menguning,”Kuning” keemasan menari bak tarian plasma matahari di siang hari yang memancarkan kehangatan dan kobarannya yang lucu membawakan pesan pesan positif pada kita bahwa hari ini akan menarik

Photo by Pixabay from Pexels

Putih, teman teman diajak kesini untuk memperlihatkan konsep enam yang kita bawa ini. Bukan konsep baru si tapi ya gue rasa akan menarik bila kita bagi. Konsep yang sejatinya bernama “Six Thinking Hats”, Enam topi kepribadian atau kerangka berpikir ini lucu loh dan kita baru sadar beberapa hari lalu untuk kemudian membawa warna pada nama nama kita sekarang. Seperti itu kan ya Putih.

Banyak potensi besar pada konsep ini, dan juga membawa mereka keruangan ini untuk maksud itu. Gue sudah membayangkan ni bagaimana akan banyak ide ide menarik yang dihasilkan mereka dengan memakai metode ini dalam kehidupan mereka. Wooow jiwa gue bergelora bak mentari hanya membayangkannya saja.

Oia gue lupa memperkenalkan diri ya, Saya si kuning. Gue suka nama itu disematkan pada gue yang keren dan tampan ini. Seperti mentari nama itu melambangkan semangat berapi api nan positif untuk menelusuri semua hal yang dulu masih gelap. Gue percaya semua itu karena gue tau dan selalu berpikir yang baik baik saja. Oia sekalian sedikit memberikan pembatas saja ya. Positif yang gue maksudkan disini bukan berati positif halu tanpa batas hingga berharap akan ada naga terbang menghampiri kita sambil bernyanyi lagu lagu Disney. Bukan bukan yang seperti itu yang gue maksud. Percayalah bahwa akan ada suatu kebaikan di setiap peristiwa ada suatu hal lucu dan menarik dalam masalah sekalipun.

Kenapa lu senyum senyum sendiri merah. Hahaha pasti ada sesuatu yang menarik ni. Oia sekarang giliran lu. Waktu dan tempat dipersilahkan.

Merah, darah yang mengalir dalam pembuluh darah kita membawa pula emosi dan sensasi yang kadang mendekap hangat namun tak jarang pula merengut kehangatan itu dan menjadikannya dingin sedingin mayat terbujur kaku di sebuah ruang kosong

Photo by Designecologist from Pexels

Hahaha, Saya ingin bernarasi sedikit ya untuk perkenalan saya agar tampak keren dan berkesan sedikit puitis. Monggo sambil mendengar saya bercerita teman teman bisa kok santai sejenak menseruput kopi dan tehnya saya rasa sampai sini teman teman pasti sudah lelah membaca dan sedikit merasa bosan dengan apa yang kita kita sini ceritakan. Tapi cobalah yuk berhenti sejenak dan ambil napas dalam dalam, coba bayangkan hal hal menyenangkan dan menarik yang terjadi di hari ini. Ijinkan saya bernarasi sedikit tentang saya dan kesadaran yang saya wakili.

Emosi yang menjadikan kita manusia. Sebuah emosi dapat membentuk suatu tindakan dari tindakan pula dapat membentuk gelembung emosi pada diri kita. Kadang sedih, senang, khawatir, percaya diri semua itu gabungan dari berbagai emosi dasar kita sebagai manusia. Sekarang giliran saya sang entitas emosi dalam ruangan ini. Saya adalah sang merah, semerah darah dan pula semerah bunga mawar yang sering kalian simbolkan sebagai perasaan cinta.

Cukup sulit juga ya membuat narasi yang menggugah dan punya sedikit karakter indi yang suka menggunakan diksi “Senja” senja itu. Saya merasa emosi terkadang dianaktirikan oleh sebagian besar dari kita. Ya memang tidak sepenuhnya salah si, terhanyut pada emosi memang bukan suatu yang baik. Tetapi bukankah tenggelam dalam logika juga sesuatu yang menyakitkan dan menyiksa. Rasa sakit rasa perih rasa kecewa itu sama biasanya dengan rasa senang rasa bersyukur dan rasa rasa terbaik lainnya. Semua hal ini tidak bisa lepas dari pelukan emosi.

Kita mungkin saja sulit mencerminkan logika seseorang pada diri kita. Kita sulit menerima dan memahami dengan menggunakan kerangka berpikir seseorang. Tetapi, ada satu cara lain untuk memahami dan kemudian bila diterapkan pada hal hal lainnya cara ini akan mempermudah dan menghindarkan kita dari kesalahan kita melangkah. Menggunakan emosi. Mencerminkan logika berpikir orang lain pada kita memang sulit namun mencerminkan emosi orang lain pada diri kita tidaklah sulit.

Disinilah saya mengambil alih, sebagai entitas emosi saya menyerap dan beresonansi dengan lingkungan sekitar kita untuk melihat lingkup dari setiap ide, gagasan atau apapun itu dan kaitannya dengan perasaan orang orang sekitar tentangnya.Mengecewakan kah, menggembirakan kah atau justru biasa saja dan tak dianggap pernah ada sebelumnya. Semua itu tentang emosi.

Selalu ada ruang yang tak tersentuh cahaya. Disanalah bayangan “Hitam” gelap bersarang dan menunggu datangnya malam.

Photo by sebastiaan stam from Pexels

Halah emosi itu tidak begitu penting. Emosi hanya menggambarkan kelemahan seseorang. Emosilah yang menghambat kita kearah yang maju. Kit perlu realistis dengan semua ini. Jujur lah gw tidak pernah setuju dengan penulisan ini dan mengajak orang asing pada ruangan kita yang penting ini. Bisa saja kan mereka berkhianat seperti yang sudah sudah dan kemudian banyak merugikan kita. Kita tidak perlu berbagi semua hal, dan gagasan ini pun sebenarnya tidak baik baik amat untuk dibagi.

Banyak kekurangan dari gagasan 6 topi ini. Mana mungkin lah semua orang dapat membagi kerangka berpikir seperti kita sekarang. Banyak dari mereka terlalu kaku dan hanya memiliki satu frame saja. Coba lihat selama ini, apakah mereka mampu melihat dari berbagai sudut pandang. Yah walau sesekali ada orang yang demikian tetapi itu sangatlah jarang. Kebanyakan mereka sekarang terlalu terkotak kotakan.

Mereka terjebak dalam filter bouble mereka sendiri sendiri. Mereka selama ini hanya mau mendengar dan melihat apa yang sesuai dengan pemikiran mereka saja. Percumalah, tidak ada gunanya kita membagikan “Enam” ini pada mereka yang hanya “Satu” bahkan konyolnya beberapa dari mereka, satu pun belum jelas ada yang hanya setengah. Apa yang bisa kita harapkan dari hal tersebut.

Opera enam kepribadian dalam sebuah ruang dalam gubuk kecil di tengah hamparan rumput hijau

Hitam, kenapa pula kalian identikan gw dengan warna hitam. Yah memang gw menyukai warna itu, bukankah hitam itu warna yang keren. Dan yang gw tidak setuju dari konsep ini dan juga alasan kenapa orang orang asing seperti mereka ini dibawa kesini adalah “Kepercumaan”. Semua ini useless, cara ini tidaklah cocok dengan semua orang. Dan yang paling menyedihkan, tulisan ini terlalu panjang untuk orang orang kita yang jarang membaca. Gw yakin ni hanya segelintir orang tetap membaca hingga pada bagian ini. Percuma saja kita bercerita panjang lebar ber jam jam jika tidak ada yang membaca. Semua percuma, kita hanya akan menghambur hamburkan waktu kita dengan percuma.

Bukan begitu hitam,.. gue yakin ada kok yang akan membaca sampai pada bagian ini. Ini bukanlah sesuatu yang percuma. Satu orang saja yang sudah membaca hingga bagian ini sudahlah sesuatu yang luar biasa dan kita berhasil. Sebagai kuning gue rasa semua ini sudah sesuai dengan panjangnya waktu yang telah kita korbankan. Si biru sudah merencanakan ini dengan matang pasti lah kita berhasil saya yakin itu. Hey merah jangan menangis disitu kita melakukan hal yang benar lo.

Ah lu kuning, lu selalu berpikiran positif. Realistislah. Tidak semua hal akan memberikan hasil yang positif terkadang kita akan mendapatkan suatu kekecewaan yang kalau sudah begitu bukankah kita sudah sama sama tau berapa kali kita gagal dan berapa kali juga kita harus menangis tanpa tahu apa yang harus kita perbuat. Gw setiap pertemuan selalu menjabarkan segala kemungkinan terburuk yang ada dan akan kita temui tapi tidak jarang kalian malah menghiraukan itu semua dan akhirnya terjadi beneran kan. Sama saja dengan dibawakannya orang asing kesini, sama seperti yang saya sampaikan sebelumnya ada banyak sekali kejelekan yang ditimbulkan bila kita ungkap keberadaan kita semua saat ini.

Hmmm kalau dari data yang saya bawa sih tidak akan seekstrim itu sih hitam, yah memang kemungkinan itu pasti ada tetapi dari sekian banyak orang hmmm atau harus saya katakan dari sekian dikit orang yang membaca artikel ini adalah satu atau dua orang yang akan terpengaruh dan menerapkan hal yang kita terapkan selama ini. Dan bukan tidak mungkin juga akan ada sedikit perubahan pada mereka. Itu sudah cukup, cukup kertas puih baru untuk catatan harian mereka yang lebih baik.

Tidak itu tidak cukup, dengan semua waktu yang kita habiskan untuk bercerita dan menulis ini, satu saja tidak cukup. Itu kurang hai sobatku. Semua kurang dan percuma. gw ingin hentikan ini sekarang dan jangan aneh aneh lagi lah ya. Cukup sampai disini saja dulu. Maaf teman teman para pembaca tampaknya say sudahi dulu ya perkenalan kita. Yah meskipun gw tidak begitu yakin kalian akan membaca tulisan ini sampai bagian ini tapi untuk jaga jaga saja saya ucapkan terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Tutup sudah biru, kau yang membuka cerita ini tadi.

Baiklah saya si biru ini akan merangkum apa yang sudah kita lalui selama ini. Jadi dalam megelola suatu ide dan gagasan kami biasa melakukan ini kami ber-enam

  1. Saya si biru lah yang membawa gagasan itu masuk lengkap dengan tujuannya, saya akan membuat outline dari gagasan tersebut dan kemudian bertugas pula mengambil kesimpulan setelah diskusi seperti sekarang ini.
  2. Gagasan tersebut kemudian dipecah oleh putih dan menganalisis fakta fakta yang ada didalamnya untuk pengambilan keputusan, tentang gap dan apapun yang dirasa penting akan dipaparkan oleh si jagoan kita ini.
  3. Si kuning dengan pola pikir positipnya akan mencari apa apa saja yang menjadi keunggulan dari gagasan baru itu. Ia dengan optimisnya biasanya mengungkapkan hal hal dari sisi yang dianggapnya menarik dan menyenangkan.
  4. Si merah bertugas untuk merepresentasikan emosi emosi yang terkandung dalam gagasan tersebut dan melihat serta memperkirakan dampak dampak yang akan diakibatkan oleh gagasan itu. APakah membuat kita senang, orang lain senang atau sebaliknya.
  5. Si hitam yang dari tadi marah memang seperti itulah tugas dia. Ia akan mengkritisi semua hal dan melihat sisi yang tidak pernah tergapai oleh yang lainnya. Jika si kuning dianggap sebagai gas maka si hitam lah remnya. Ia ada untuk menjaga kami agar tidak terperosok terlalu dalam.
  6. Itu baru 5 kepribadian yang saya perkenalkan pada teman teman sekalian. Ada satu lagi yang terakhir yang ingin saya perkenalkan. Entitas inilah yang selama ini sebenarnya yang lebih dekat dengan kalian para pembaca. Dialah sang penulis cerita ini sehingga dapat teman teman baca melalui blog kami. Dia sering kami sebut sebagai penyihir hijau dan dialah yang bertugas mengatur segala cerita yang ada disini dialah sang pemimpin dan pengatur semua yang ada disini (hey biru jangan berkata seperti itu, saya jadi malu| ttd hijau).

Halo, saya si hijau. Terimakasih telah membaca tulisan saya selama ini baik tulisan yang teman teman baca ini maupun tulisan sebelumnya. Segala narasi yang saya tuliskan disini terinspirasi dari sebuah metode pemecahan permasalahan yang saya baca dari artikel di blog medium karya Stephen Moore yang berjudul Turn a Good Idea Into a Great One With the ‘Six Thinking Hats’. Sudah sepertinya itu saja yang dapat saya sampaikan pada tulisan ini.

Salam

Dewa Putu AM

Featured Photo by Subham Dash from Pexels

Daily LifeOpiniUncategorized

Alih-Alih Menjual Berita, Media Sekarang Menjual Kita

September 3, 2019 — by dewaputuam0

burning-daily-news-man-2495160-960x640.jpg
Ilustrasi berita yang “Membakar”, Berita yang panas dan penuh kontrofersi memang diminati. Lalu itu salah mereka kah para media? salah kita para pembaca yang suka berita berita seperti itu #Entahlah (Photo by Connor Danylenko from Pexels )

Pada tulisan kali ini saya ingin mengungkapkan keresahan dan kegelisahan yang saya rasakan sekian lama hingga puncaknya beberapa bulan ini. Mungkin teman teman juga merasakan hal yang sama atau justru belum sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Saya kurang begitu nyaman dengan apa yang dilakukan media digital akhir akhir ini, khususnya artikel-artikel berita dari media nasional kita Baik itu Kmpas, Dtik, T*ibun atau apapun lah itu saya rasa semua kini sama saja.

Mereka sudah tidak berniat lagi membuat berita. Alih alih menawarkan dan memberikan kita informasi dan pengetahuan melalui berita berita mereka, kini mereka justru menjual kita. Yup menjual kita secara harfiah. Jika tidak percaya cobalah sekali kali kunjungi situs situs berita yang saya sebutkan tadi. Jika ingin dibandingkan tingkat kenyamanannya dalam membaca pastilah terlihat dengan jelas akan penurunan disetiap waktunya.

Iklan Penuh Menutupi Layar, Hingga saya Bingung Itu Situs Berita yang ada Iklan Atau Situs Iklan yang Ada Berita

Situs situs berita itu sudah tidak jelas jundrungannya dan lebih mirip situs abal abal yang bertebaran iklan iklannya bertebaran memenuhi layar bak iklan iklan judi online. Iklan menutupi layar, kanan kiri ada iklan dan susah lagi menutupnya hingga terkadang saking susahnya kita “tidak sengaja” menekan iklan tersebut. Ini nih taktik tidak etis yang saya rasa keterlaluan diterapkannya pada banyak situs.

Banyaknya iklan tidak jarang justru terlihat keren namun kalau iklan iklan tersebut sudah mengurangi fungsi dan apa yang sebenarnya ditawarkan #meh banget bukan? (Sumber Ilustrasi Jose Francisco Fern from Pexels)

Okelah, kita juga memang harus sadar gratisnya kita mengakses situs berita itu karena adanya iklan iklan yang bertebaran ini. Ini jika dilakukan dalam kondisi yang sewajarnya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Iklan yang bertebaran terlalu banyak dan tidak jarang muncul sebagai pop up, background dan juga video tentu juga akan memakan habis kuota kami. Saya merasa dirugikan untuk ini. Belum lagi video yang bersuara itu tiba tiba mengelegar di saat saya membaca di ruang publik, komplit sudah payahnya situs situs berita sekarang dari segi kenyamanan.

Dari banyaknya iklan yang memenuhi layar tanpa mempedulikan kita sebagai pembaca adalah suatu ciri awal bahwa komoditas utama situs tersebut bukanlah berita atau informasi dan layanan apapun itu. Kita sebagai pembaca lah yang menjadi komoditas utama mereka yang akan mereka jual sebagai angka angka statistik kunjungan untuk meningkatkan nilai jual mereka pada pengiklan. Kita hanya dianggap statistik dan komoditas yang diperjualbelikan. Sebagai gambaran untuk memudahkan situs situs berita yang demikian wujud aslinya adalah toko iklan yang memperjual belikan kita sebagai kerumunan yang dianggap siap melihat iklan iklan mereka. #KitaDijual

Konten murahan penuh Klik Bait dan Akal Akalan Membuat Kualitas Konten yang Semakin Payah dan Sudah Tidak Layak Konsumsi Lagi

Untuk iklan saya masih lah memaklumi dan masih oke sebenarnya hitung hitung sebahai bayaran kita atas layanan mereka, meski secara tidak langsung berarti juga kita menjual diri kita untuk dapat mengakses konten konten yang mereka berikan. Tampak mengerikan ya istilahnya. Tetapi itulah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Saya pernah membaca frasa yang tepat menggambarkan situasi kita saat ini namun maaf saya lupa frasa tersebut dari siapa. “Saat kita mendapatkan layanan atau produk secara gratis, ketahuilah bahwa yg menjadi produk sebenarnya dari platform tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah kita.” #KitaDijual

Terlepas dari urusan periklanan yang mengurangi kenyamanan kita itu ada hal yang membuat saya tersakiti dan merasa diinjak injak dan ditipu. Ini soal kualitas konten mereka yang menurut saya tidak jarang sudah sulit untuk tolelir lagi. Sudah “jual diri” kan demi bisa akses konten mereka, eh yang didapay hanya konten konten sampah yang sulit sekali dibayangkan dapat dibuat oleh manusia berpendidikan.

Ingin berkata kasar dan jengah dengan konten konten berita yang ada selama ini, namun saya rasa gambar ini akan lebih bisa berbicara banyak tentang apa yang saya lihat ketika membaca konten konten berita di jaman sekarang (Photo by David Gomes from Pexels )

Konten konten yang ada saat ini penuh dengan klick bait, judul judul yang sering tidak sesuai dengan apa yang diberitakan dan sedihnya beberapa dari konten tersebut seperti mengahalalkan segala cara hingga mereka membuat judul judul yang memicu perpecahan di kalangan masyarakat. Dari segi kunjungan jangka pendek trik trik ini memanglah akan menghasilkan kunjungan yang berjibun tapi pernahkah mereka berpikir dampak nyata dari apa yang mereka tuliskan itu. Rasa tanggung jawab media terhadap apa yang mereka tuliskan saat ini saya rasa sangat rendah. Jika ada yang salah mereka dengan mudahnya meminta maaf atau lebih payahnya lagi mereka secara sembunyi sembunyi mengedit begitu saja apa yang mereka telah tulis tanpa adanya permintaan maaf.

Masih terkait konten yang payah, ada beberapa yang paling saya tidak suka dari konten konten berita yang mereka berikan selama ini yang menurut saya hal itu masuk kategori payah, jelek dan bahkan jahat. Beberapa diantaranya yaitu

  • Konten terlalu singkat 100an kata namun tidak jelas apa maksudnya. Konten konten seperti ini sering kali saya lihat dan setelah membacanya saya merasakan begitu hampa karena tidak adanya esensi yang kita dapat dari konten tersebut.
  • Konten sengaja dibuat banyak halaman meskipun sebenarnya bisa disingkat dalam satu halaman saja. Ini strategi yang marak dilakukan saat ini. Untuk meningkatkan jumlah view, satu artikel sering dipecah menjadi banyak halaman. Hal ini akan elok bilamana artikel tersebut memang terlalu panjang. Namun seringnya justru artikel artikel pendek tidak lebih dari 100 kata perhalaman. Ini sadis sekali sekaligus menyedihkan.
  • Konten yang tidak nyambung antara judul dengan isi. Kalau sudah begini saya sudah tidak bisa berkata kata lagi sih. Sekali saja menemukan hal seperti itu tindakan saya selanjutnya sudah pasti, block dan yidak mau lagi kembali ke situs itu.

Hukum Kontennya dan Kasihani Situsnya, Mereka seperti ini hanya tuntutan untuk dapat bertahan di lingkungan kita sekarang

Keresahan ini tidak hanya dirasakan oleh kita para pembaca. Namun dirasakan pula oleh para prakrisi yang bergerak di media media tersebut. Hal ini terjadi semejak kue periklanan di lalap habis oleh raksasa raksasa internet seperti google dan facebook. Sejak ada mereka uang periklanan untuk media yang selama ini membuat mereka bisa tetap eksis terus terpangkas dan mengharuskan merka menekan diri mereka untuk memproduksi konten sebanyak banyaknya untuk mengundang para pembaca dan menjaring pundi pundi iklan. Persaingan yang ketat mengharuskan mereka memproduksi berita dan konten secara masal. Hal ini lah yang kemudian banyak mengorbankan kualitas dari konten itu sendiri.

Menulis itu memang tidak mudah, Butuh waktu dan butuh usaha keras untuk menghasilkan satu tulisan. (Photo by Startup Stock Photos from Pexels)

Menulis itu bukan hal yang mudah dan butuh waktu lama untuk menghasilkan suatu tulisan yang bagus dan enak dibaca. Sebagai contoh untuk tulisan tulisan yang biasa saya buat butuh waktu yang tidak sebentar 3 jam lebih untuk menulis suatu tulisan yang lebih dari 1000 kata. Tiga jam itupun belum dihitung waktu yang dibutuhkan untuk parafrase dan poles sana sini setelah membaca berulang ulang serta mendapat kritikan dan saran dari teman teman. Untuk beberapa topik yang lebih berat lagi biasanya akan membutuhkan waktu hingga dua kali lipat dari waktu biasanya.

Itu untuk tulisan sekelas blogger seperti saya. Tentunya untuk tulisan tulisan dari media dalam hal kualitas, standart nya tentu jauh lebih baik dari apa yang biasa tulis, karena beban dan tanggung jawab yang diemban konten tersebut jauh lebih besar. Hal ini lah yang kemudian membuat waktu dan sumberdaya yang dibutuhkan dalam penulisan konten yang berkualitas memanglah tidak sedikit.

Proses produksi konten berkualitas yang membutuhkan efort dan waktu yang panjang dalam pengerjaannya kemudian menjadi tidak relevan dengan bisnis model yang banyak dianut media media mainstream saat ini. Sebuah model yang lebih menuntut dan mementingkan segi kuantitas dibandingkan kualitasnya. Serba salah memang, bila terlalu idealis memberikan konten yang berkualitas namun butuh waktu akan sulit bagi media untuk hidup dan bertahan agar tidak tergerus lainnya.

Dari beberapa analisis terkait seperti yang dilakukan oleh remotivi dan apa yang kita lihat secara kasat mata media pun sudah berusaha mengatasi permasalahan ini dengan membuat segmentasi pada konten konten mereka dan menjadikannya beberapa kelas. Ada yang kelas ekonomi yang selama ini saya ulas pada tulisan ini (tulisan gratisan buat pembaca). Dan segmen ke dua adalah tulisan tulisan yang premium. Beberapa media yang saya sebut sebelumnya juga mengakali dengan cara segemtasi ini dengan penamaan dan pendekatan yang bisa saja tidak sama persis.

Segmentasi ini merupakan suatu solusi yang bagus menurut saya karena dapat memberikan layanan dan produk sesuai dengan preferensi dan budaya dan situasi membaca masing masing konsumen. Bagi para pembaca judul, pemhasan dalam terkait suatu berita ataupun ide bukanlah hal yang perlu dan hanya membuang buang waktu saja. Dan bagi orang yang memang berminat lebih dalam pemhadannya dan kualitad tulisannya tentunya perlu memberikan sedikit pengorbanan materi. It’s fair enough for me.

Hanya sedikit ganjalan yang menurut hemat saya perlu lebih diperhatikan lagi. Para pembaca judul itu di negeri kita itu tidak menempati proporsi minoritas, mereka itu mayoritas, termasuk saya didalamnya dalam berbagai kondisi tertentu saya juga masuk persatuan para pembaca judul. Alhasil sering kali kita temui kisruh ditimbulkan dari pemberitaan yang tidak bertanggung jawab. Meski minim kata, please lah buat konten yang bertanggung jawab dan meres duit ya juga tidak sebegitunya sampai mengesampingkan kenyamana para pembaca dan janganlah sampai dengan tulisan tulisan yang tidak jelas tersebut justru menimbulkan dampak dampak yang merugikan orang lain.

Jika memang sulit menjual konten berita berkualitas di jaman sekarang setidaknya jual lah para pembaca kalian secara santun dan bertanggung jawab ya———— #eh

(Dewa Putu AM, 2019)

Daily LifeOpiniPsikologiUncategorized

Jangan Kebodohan Saja yang Kita Jaga Kemurniannya, Kebaikan Juga Harus

August 13, 2019 — by dewaputuam0

animal-animal-lover-animal-photography-1904105-960x606.jpg
Kebaikan datang dari alam, saya tidak begitu paham kenapa kata kata itu seketika menyeruak dalam alam pikir saya saat melihat gambar ini. Saya rasa karena dalam tulisan ini saya ingin sekali mengingatkan bahwa kebaikan bukanlah sesuatu yang super dan sangat hebat hingga tidak dapat kita gapai dengan mudah, Kebaikan justru sesuatu yang sangat sederhana dan sangat alami, yup kebaikan memang datang dari alam (Sumber gambar: Alena Koval in Pexels.com)

Kebodohan yang murni dan terjaga, beberapa kali saya melihat frasa tersebut dan sejenisnya bermunculan di konten internet. Frasa tersebut biasa muncul saat ada suatu kejadian atau kelakuan dengan sempurna diabadikan dan didibagikan ke khalayak ramai di dunia maya. Saya tidak perlulah membagikan contoh-contohnya dalam tulisan ini, karena saya rasa itu sedikit kurang sopan. Saya yakin teman teman pernah menemukan konten konten dengan model yang super absurd dan membuat kita mengenyitkan alis saat kita coba telusuri di barisan komentar frasa seperti kebodohan yang murni, kebodohan yang original dan frasa sejenis lainnya juga akan banyak bermunculan.

Yang jadi pertanyaan dan akan saya bahas sekarang dalam tulisan ini, jika toh memang ada kebodohan yang murni tanpa ada campuran serbuk pintar sama sekali. Adakah kebaikan yang menyamai level murninya kebodohan yang kita temui disekitar kita tersebut. Ada sebuah artikel dari Ayodeji Awosika yang ia publikasikan melalui platform medium yang baru-baru ini saya baca (link artikel). Melalui artikel tersebut saya diingatkan kembali meskipun untuk benar benar murni baik itu memang tidak mungkin, namun setidaknya kita dapat berbuat baik secara murni dengan hal hal yang cukup sederhana sehingga sangat mungkin dilakukan oleh kita dan orang orang disekitar kita.

Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi, Berbuat baiklah bahkan pada siapa yang tidak kamu suka

Ditengah hiruk pikuk kesibukan duniawi kita terkadang kita terlupa untuk sedikit berbuat baik dan cenderung tak acuh pada lingkungan sekitar kita. Hingga suatu hari kita menemui sebuah tindakan kebaikan kecil didepan kita yang secara ajaib menyadarkan kita bahwa masih ada kebaikan didunia ini. “Di Bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi” itulah salah satu quotes dari buku NKCTHI karya Marchella FP (Sumber Gambar: Ingo Joseph @pexcels.com)

Baik pada siapapun tak bisa dipungkiri adalah hal yang sulit bahkan dapat dikatakan sangat sulit. Kita sudah terbiasa dari dulu akan berbuat sesuai dengan apa yang dilakukan orang lain pada kita. Begitu juga dengan saya, jika ada yang baik, maka saya pun akan sekuat tenaga untuk berbuat baik. Namun bila saya diperlakukan tidak baik, secara tanpa sadar saya tanpa ampun akan memperlakukan orang tersebu dengat tidak baik. Saya selalu mengibaratkan diri saya seperti cermin yang memantulkan apa yang ada didepannya ntah baik ataupun buruk.

Semua itu terlihat normal bagi kita namun nyatanya itu bukanlah sesuatu yang keren. Dengan berperilaku seperti itu kita tidak ada bedanya dengan hewan dan benda mati sekalipun yang mengikuti arus dan hanya berekasi sesuai dengan apa yang diberikan pada mereka. Perbuatan yang seperti cermin ini bukanlah hal yang rasional dan justru merendahkan kita. Kalau kata Henri manimpiring dalam buku Filosofi Terasnya berbuat sesuatu yang tidak dipikirkan secara rasional bukanlah sifat alami kitasebagai manusia. Dan saat saat pikiran rasional kita dikecewakan, saat itu pula kita akan dihinggapi kegelisahan.

Membiasakan diri berlaku baik tanpa memandang siapa yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang sulit namun bukan berarti tidak mungkin. Saya sering melihat atau bahkan tanpa disadari hanya berbuat baik pada orang orang yang kita rasa ada pengaruhnya pada kita namun tidak peduli bahkan begitu ketus kepada orang yang tidak ada pengaruh dan dampaknya pada hidup kita.

Contoh sederhananya adalah saat kita berpapasan dengan sales atau seorang meminta waktu kita sebentar, sering dari kita hanya lewati begitu saja tanpa menganggap orang orang itu berbicara pada kita. Saya akui sangat sering melakukan hal ini hehehe, tapi kadang kadang berpikir juga si bagai mana jika saya ada di posisi mereka dan tidak digubris sama sekali apa yang kita katakan, saya tentu akan kesal, sakit hati dan sesekali menggerutu.

Saya pernah merasakan hal serupa beberapa tahun lalu saat saya jadi surveyor untuk salah satu lembaha survei nasional. Meskipun dicuekin dan tidak digubris adalah hal yang lumrah kami temui saat itu namun tetap saja menyakitkan loh. Mungkin kita memang tidak memiliki waku banyak atau tidak tertarik dengan apa yang mereka tawarkan, salah satu solusi yang sesekali saya lakukan cukup mengatupkan tangan dan meminta maaf pada mereka sambil berlalu, itu cara paling sederhana dan menurut saya masih lebih baik dibandingkan tidak peduli dan berlalu begitu saja.

Berbeda dengan perlakuan kita kepada orang orang yang tidak memiliki pengaruh di hidup kita, akhhhh,.. yang ini saya benar benar tidak suka namun ini nyatalah terjadi di sekitar kita dan tidak bisa kita abaikan begitu kita. Fenomena “Penjilat” sudah meraja leldi sekitar kita, lingkungan kita, lingkungan kerja dan sayangnya didalam pertemanan juga terkadang fenomena ini muncul dan nyata. Dah cukup ini saja yang sanggup saya tuliskan terkait penjilat, saya yakin teman teman semua pernah menemui hal seperti ini dan setuju bahwa hal ini tidak keren sama sekali.

Berbuat baik tanpa perlu berekspektasi mendapatkan balasan yang juga baik, Mungkinkah?

Mari kita minum teh dan bercerita tentang bualan yang paling halu dalam tulisan ini. Cerita halu tentang berbuat baik tanpa berharap imbalan. Kita semua manusia yang sangatlah normal bila berharap sesuatu sesuai dengan apa yang telah kita beri dan korbankan. It’s fair enought if we expect a good thing will come when we do a good thing (Sumber foto: Maria Tyutina)

Rasa kecewa saat apa yang telah susah payah kita lakukan dan kerjakan tidak diapresiasi oleh orang dan bahkan justru di jelek jelekan tanpa mereka tahu dan memahami bagaimana susahnya melakukan hal tersebut. Alhasil kitapun kemudian terjebak pada pergunjing dan pergibahan yang seolah tiada akhir yang juga terus dipanasi oleh tindakan tindakan ajaib tak kunjung usai dari orang yang kita anggap tidak punya hati itu.

Terus menggunjing dan berkelakar tidak baik (gibah) bukanlah suatu pilihan yang bijak dan keren untuk dilakukan, sesekali boleh lah tapi tidak seru dan habis topik lah kalau terus terusan dibahas. Toh apa yang dipikirkan, dikatakan dan dilakukan oleh orang lain tidak berada dibawah kendali kita, jadi mau kita bergunjing sampai berbusa pun apa yang terjadi tidak akan berubah bahkan bukan tidak mungkin akan mempengaruhi kita sehingga tanpa kita sadari sudah berbuat dan berlaku serupa dengan topik yang kita pergunjingkan.

Ekspektasi, sebuah kata dalam beberapa bulan atau beberapa tahun ini saya usahakan untuk tinggalkan. Dari beberapa buku yang saya baca dan juga dari pengalaman yang selama ini saya alami, ternyat bukan hal luar lah yang paling berdampak dan menyakitkan bagi kita namun ekspektasi kita yang tak tercapai. Dari itu kemudian saya selalu menyingkirkan ekspektasi untuk mendapatkan balasan saat saya sedang iseng dan menjahili teman. Bukan hanya itu ekspektasi juga adalah sesuatu yang selalu saya usahakan untuk singkirkan saat kita berhadapan pada sesuatu yang mempunyai arti penting bagi saya. Bukan karena saya tidak percaya diri namun hanya agar saya tidak begitu merasakan kecewa ketika sesuatu ternyata berjalan diluar apa yang kita inginkan.

Are you in a situation where you’ve been working hard to make sure you get the credit? Stop. Just work hard. Let everyone else have the credit. You get the experience, knowledge, and trust of people around you. Credit is fools gold.

Ayodeji Awosika

Keberadaan ekspektasi bahkan untuk hal hal yang memang sudah seharusnya pun seperti ekspektasi akan mendapat kebaikan, akan mendapat uang atau sekedar mendapat pahala dan balasan dari yang maha kuasa saya rasa tidak perlu kita lakukan. Saya kurang begitu nyaman dengan hitung hitungan kebaikan jika kita berbuat seperti ini akan mendapat ganjaran seperti ini jika kita berbuat seperti lainnya akan mendapat berlipat lipat lainnya, saya sedikit risih dengan konsep seperti itu. Mungkin akan terlihat naif namun yang saya pahami berbuat baik itu karena kita memang ingin berbuat baik, bukan karena kita berharap mendapat buah dari kebaikan itu. Tanpa adanya pilih memilih, tanpa adanya ekspektasi, kebaikan akan menjadi murni adanya.

Ide, Ilustrasi dan Sumber sumber lain yang di sematkan dalam tulisan ini
  • Some idea that i write in this post are ispired by Ayodeji Awoskika post “How to (Truly) Become a Good Person that publised in Medium.com
  • Feature Photo by Helena Lopes from Pexels

Daily LifeFilmOpiniPsikologiUncategorized

[Film Dokumenter] The Great Hack, Informasi Pribadi yang Kita Umbar Bebas di Internet Tidak Menguap Begitu Saja.

August 9, 2019 — by dewaputuam2

Security-The_Great_Hack__3c_R-960x540.jpg
Data pribadi dan semua aktifitas yang kita umbar secara bebas di internet tidak menguap begitu saja. melalui data data tersebut terdapat sekelompok orang yang mampu memanen dan memanfaatkannya untuk menggiring dan mengubah prilaku kita kearah yang mereka inginkan.

Ini adalah salah satu film dokumenter yang layak teman-teman tonton. Film ini bahkan menurut saya wajib ditonton bagi kita yang sangat aktif dalam bersosial media. Kita kita yang aktif tulis status sana-sini, like dan share berita berita dengan sesuka kita asal sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Semudah itu jempol kita menari gemulai menuliskan kata kata dari yang enak terbaca hingga yang “enak terbaca”. Dari berita yang benar-benar kita ikuti dan kuliti faktanya hingga berita berita yang secara serampangan kita bagikan begitu saja, dan kemudian kitapun ikutan latah berdebat berbusa busa dengan para netijen julid lainnya.

Saya rasa cukup sampai situ saja. Lalu kemudian untuk orang orang yang santuy dan tidak neko-neko dalam bersosial media yang hanya sekedar usap dan sesekali like lalu membaca berita sebagai pembaca yang bisu film ini juga cocok karena tidak hanya untuk orang orang yang memang sudah terkurung dalam perangkap buaian internet saja yang terpengaruh oleh kegiatan jahat ini tetapi hampir semua orang mungkin salah satu dari kita atau bukan tidak mungkin kita semua masuk kedalam kategori ini.

Semua dari kita yang secara sadar ataupun tidak sadar meninggalkan jejak diinternet baik berupa data pribadi hingga segala aktifitas didalamnya apa yang kita cari, apa yang kita sukai (like), apa yang kita baca, apa yang kita ungkapkan apa yang kita unggah, emotikon emotikon apa yang kita gunakan, kesemua itu adalah data. Semua data itu tidak menguap begitu saja dan hilang, oleh sekelompok orang tertentu data tersebut dapat diolah sedemikian rupa secara realtime dan mereka gunakan kembali dengan berbagai cara yang unik untuk setiap indifidu sesuai dengan profilnya, hingga secara tidak sadar tingkah dan laku kita digiring mereka pada arah yang mereka inginkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam film dokumenter ini diungkap tujuan tertentu itu adalah untuk memenangkan seseorang calon presiden adidaya, pergerakan serta aksi besar lainnya yang memiliki dampak global.

Film dokumenter ini, besamaan dengan buku No Place to Hide telah mengubah cara pandang saya tentang arti penting dari privasi dan data pribadi kita, bahkan seremeh apapun data yang kit bagikan tersebut bukan tidak mungkin akan dikembalikan pada kita dalam bentuk yang tidak pernah kita duga dan bayangkan sebelumnya. Sebuah bentuk yang dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kita dan lingkungan kita. Bahkan dari apa yang di tayangkan dalam film dokumenter ini, dari pemanfaatan data data tersebut orang orang tertentu tersebut dapat membuat suatu pergerakan dan kerusuhan berskala global dan berpengaruh besar pada hajat hidup orang banyak.

Mega Skandal Cambridge Analytica, Dan Operasi Masif Manipulasi Perilaku Di berbagai belahan Dunia hingga Pada Pemilu US dan Brexit?

Bagi sebagian orang mungkin tidak begitu asing dengan skandal yang terjadi dengan Cambridge Analytica dan juga Facebook yang kemudian harus membuat Facebook harus menjadi perusahaan yang merasakan dan berhadapan pada denda uang dengan nominal yang sangat besar bahkan masuk kedalam denda terbesar di abad ini yakni sekitar 5 Miliar Dolar AS atau setara dengan 70 Triliun Rupiah. Dari awal saya sadar bahwa kasus yang terjadi dengan Facebook dan Cambridge Analytica bukanlah sebuah kasus yang mudah dipahami oleh orang awam seperti saya dan mungkin juga sebagian dari teman teman. Saat itu, kita tidak memahami dampak serta kerugian seperti apa yang membuat mereka harus disangsi dengan demikian berat. Disinilah film dokumenter The Great Hack dengan apik memberikan kita gambaran sederhana skandal seperti apa yang “sebenarnya” terjadi.

Distribusi rasio populasi tiap negara bagian US yang datanya digunakan dan terpapar oleh skandal yang dilakukan oleh Cambridge Analytica. Dari peta sebaran ini dapat terlihat betapa masifnya skandal ini. Apakah Cambridge Anlytica satu satunya firma yang melakukan hal ini? sepertinya sangat sulit untuk berkata ia. (SUmber gambar: businessinsider.sg)

Film dokumenter ini diawali dengan diskusi seorang profesor dengan para mahasiswanya sambil berkelakar bahwa seringkali kita merasakan seolah olah gawai cerdas kita menangkap apa yang kita sedang bicarakan dengan cara mengakses microphone kita hingga tidak jarang saat kita sering mengungkapkan sesuatu benda maka dengan cara yang ajaib iklannya akan muncul dalam layar gawai kita ntah itu melalui aplikasi facebook ataupun aplikasi lainnya. Dari topik sesederhana ini dan diskusi dengan mahasiswa nya kemudian sang profesor mulai tersadar dan menelusuri suatu kebenaran besar yang ada dihadapannya, suatu proses pemanfaatan data secara masif dan dan sistematis dari sebuah firma yang bernama Cambridg Analytica. Profesor itupun kemudian menuntut perusahaan tersebut memberikan semua copy-an data pribadi tentang dirinya yang ada di firma tersebut. Namun usahanya tersebut justru bergulir menjadi pengungkapan salah satu mega skandal di abad ini. Dari hal tersebut kemudian kita dibawa pada suatu kenyataan yang menabjubkan sekaligus mengerikan tentang dunia digital yang selama ini.

Secara garis besar film dokumeter ini menceritakan bagaimana sebuah firma seperi Cambridge Analityca dapat memanfaatkan kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital yang kita tinggalkan. Pada mulanya mereka dengan cerdik menyebarkan suatu form facebook dalam bentuk semacam permainan yang tujuan sebenarnya adalah memetakan dan mengambil sample profil psikografik dan melihat tendensi mereka akan suatu masalah. Informasi serta wawasan yang didapat dari para responden tersebut kemudian dijadikan semacam cetakan untuk melihat profil psikografik seperti apa yang cenderung sesuai dengan tujuan yang akan dicapai oleh proyek ini yang dalam film ditunjukan sebagai profil yang akan memilih salah satu calon presiden US dan di kasus lainnya dicari profil yang menginginkan Brexit.

Hal yang menarik mulai dari sini. berdasarkan pada kelengahan kita dan rasa tidak peduli kita terhadap jejak digital apa saja yang telah kita tinggalkan. Cambridge Analytica atas persetujuan kita yang jarang terbaca setiap kali mengakses atau menginstal suatu aplikasi kemudian mulai mengakses semua data yang ada pada akun kita dari hal hal remeh seperti tulisan serta foto ataupun video yang kita bagikan, tulisan tulisan yang kita like, komentari dan bagikan, hingga pada semua aktifitas yang kita lakukan semua itu dianalisis secara realtime. Kabar “baik” nya data data yang dianalisis tidak hanya data yang ada pada kita saja namun juga teman teman yang tertaut dengan akun kita.

Dari sana data 87 Juta pengguna facebook kemudian dianalisis secara realtime oleh firma ini untuk mendapatkan profil setiap akun yang kemudian di lakukan analisis lanjutan untuk menduga tendensi setiap profil tersebut dengan cara mencocokan polanya dengan profil dari responden yang sebelumnya mengisi formulir. Analisis pola seperti ini yang berdasarkan kemiripan prilaku setiap individunya biasa disebut sebagai metode doppelganger. Metode inilah yang menjadi dasar dan membuat kita seringkali merasakan bahwa iklan iklan di internet yang direkomendasikan pada kita sangat sesuai dengan apa yang sedang kita inginkan karena ada seseorang di luar sana memiliki profil psikografis yang sama dengan kita jadi apa yang sedang diinginkan mereka besar kemungkinan akan diinginkan pula oleh kita. Analisis seperti ini berlangsung secara realtime sehingga profil psikografis ini terus menerus diperbarui dalam hitungan seper sekian detik.

Beginilah skema umum yang dilakukan oleh Cambridge Analytica dan mungkin firma lainnya dalam “memasarkan” dan mengarahkan target mereka menuju apa yang mereka rencanakan sebelumnya dan sesuai dengan permintaan klient mereka. (Sumber Gambar: The Guardian.com)

Dari sini pula diidenifikasi swing votter yang kemudian menjadi target operasi utama untuk diubah perlilaku dan tendensinya agar bergeser dan memilih klient Cambridge Analytica dengan cara membanjiri mereka dengan iklan iklan, memes, gambar, video maupun berita berupa fakta yang sudah di framing sedemikian rupa atau bahkan berupa hoax. Apa yang mereka berikan ini unik dan setiap indvidu akan mendapatkan paket informasi yang berbeda. Dari semua paket informsi baru yang diberikan dianalisis pula respon dari setiap target apakah diabaikan, dilike, komentari atau bahkan dishare. Informasi informasi tersebut dipergunakan untuk menentukan paket informasi yang akan diberikan selanjutnya pda setiap target. Hal ini berjalan terus menerus hingga para swing votter tersebut kemudian memiliki tingkah dan laku profil psikografis sesuai dengan yang diinginkan. Dalam salah satu bagian filmnya ada kata-kata yang membuat saya terpukau saat salah seorang wistle blower mereka menujukan jadwal dan email mereka berkata bahwa

yang membedakan mereka dari para perusahan bidang data analis lainnya, adalah mereka tidak hanya memberikan profil dari populasi, tetapi kita mampu mengubah profil tersebut.

Menyikapi Privasi dan Kepemilikan Akan Data Pribadi sebagai Hak Asasi Manusia yang Juga Melekat Pada Kita

Melalui film ini kita disadarkan akan pentingnya data pribadi kita dan perlunya pemahaman tentang seperti apa data data kita akan digunakan digunakan. Pemanfaatan data 87 Juta pengguna facebook yang dilakukan oleh Cambridge Analityca ini menjadi suatu pembelajaran penting bahwa ternyata data data yang sering kali kita anggap remeh dapat digunakan sedemikian rupa hingga tingkat yang membahayakan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Dari film ini kita akan diperlihatkan betapa mengerikannya dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan data data seperti ini bila tidak dilakukan secara bijak. Penggiringan opini publik, diskriminasi hingga kemudian menimbulkan dampak dampak negatif yang lebih besar seperti kerusuhan yang jika tidak ditanggulangi dengan baik bukan tidak mungkin akan menelan korban jiwa. Dari sini saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Ada satu hal lagi yang menarik dan secara sekilas terungkap pada akhir akhir film, tentang kerusuhan 1998 di Indonesia. Sudah cukup sampai situ saja agar tidak spoiler lebih banyak.

Pada jaman kita telah terjadi dan terungkap satu skandal yang luar biasa terkait penyalagunaan data pribadi serta kaitannya dengan upaya propaganda yang secara sembunyi sembunyi menggerakan jutaan orang ke tujuan yang telah diprogramkan sebelumnya. Semua itu berasal dari ketidak pedulian dan ketidak tahuan akan pemanfaatan jejak digital yang kita tinggalkan selama ini. Perkembangan tekhnologi data dan informsi terus berkembang pesat dan merangkul setiap sendi kehidupan kita. Perbatasan antara dunia digital dan dunia nyata semakin tipis terlebih pada era 5G nanti yang tentunya akan segera dirasakan kita dan anak anak diatas ini yang menyebabkan semua benda disekitar akan saling terhubung pada internet. Dengan semua itu keringkihan kita akan hal hal seperti yang ada pada skandal ini akan semakin besar. (Sumber gambar: Artem Beliaikin @ Pexcel.com)

Ironisnya privasi dan data pribadi tampaknya tidak begitu menjadi permasalahan yang serius di tanggulangi di negeri kita ini. Maka tidaklah heran beberapa bulan yang lalu banyak pergerakan yang memanas akibat apa yang tersebar dan beredar di lini media sosial yang sayangnya juga menjatuhkan beberapa korban. Mulai dari aksi aksi protes hingga pada bentrok antar kampung, tidak sedikit yang berawal dari tersebarnya suatu berita di media sosial. Terlebih dengan adanya mekanisme filter bubble yang ada di media sosial demi untuk mengumpulkan orang orang berdasarkan kesamaan profil psikografisnya semakin membuat kita hanya berkumpul dengan orang orang yang sepemikiran dengan kita, satu rasa dengan kita dan satu minat dengan kita.

Hal yang seperti ini secara tidak langsung memberi kita ruang yang sangat sempit dengan ide dan pemahaman kelompok yang berakar sangat kuat. Keberagaman ide sangat minim dalam kondisi yang terseting seperti ini sangat minm pula pemikiran dan sudut pandang di luar. Bagai katak dalam tempurung, ego kita terus berkembang pesat dan kita semakin merasa benar diatas semua orag yang berbeda pendapat dengan kita. Terkadang ada seseorang yang dengan apesnya “tidak sengaja memasuki” kelompok tersebut dan memberikan pendapat sesuai dengan sudut pandangnya yang sayangnya bertentangan dengan “sudut pandang kebanyakan orang”. Masa masa seperti inilah yang kemudian menjadi makanan ringan bagi para ego yang terlajur dipelihara, sumpah serapah, cercaan dan pembulian terus mengalir dengan deras dan memviral seketika di kelompok mereka.

Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan saya? Apakah kalian sudah mulai jenuh dan muak dengan segala apa yang ada disekitar kita saat ini?

Seyakin apa semua prilaku, tindakana dan laku kita selama ini adalah benar benar berasal dari apa yang kita mau. Atau jangan jangan kita hanyalah boneka yang bergerak sesuai dengan apa yang di programkan oleh sekelompok orang diluar sana untuk tujuan yang kita tidak tahu menahu apakan berdampak hanya pada kita atau berdampak lebih besar lagi. Kita tidak tahu itu

boleh siapa saja
Sumber sumber yang digunakan dalam tulisan ini

BencanaBukuDaily LifePsikologiUncategorized

Tetap Menjadi Manusia saat Menyikapi dan Menghadapi Bencana dengan Filosofi Stoa

August 1, 2019 — by dewaputuam0

beach-blue-skies-by-the-sea-934718-960x645.jpg
Kita terlalu sibuk mengurusi dan mengkawatirkan apa yang tidak dalam kendali kita dan sayangnya pula terlalu sering mengabaikan apa yang ada dalam kendali kita. Saat kita berharap lebih pada apa yang tidak bisa kita kendalikan disitulah kita akan merasa gelisah dan takut kehilangan dengan cara yang konyol. Dikotomi kendali inilah yang kemudian mengispirasi saya untuk menulis topik terkait hal ini (Sumber Ilustrasi: Pixabay @ www.pexels.com)

Isu gempabumi dan tsunami di laut selatan Jawa, meletusnya kembali gunung Takuban Perahu, potensi gempa dan tsunami Lombok dan isu isu terkait kebencanaan lainnya sering kali menyebabkan keresahan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang kini begitu melek tekhnologi dan sangat mudah mengakses informasi. Bagi sebagian orang yang berkecimpung dan sering bersinggungan dengan bidang ilmu kebumian tentunya tidak akan heran dengan isu isu seperti ini karena memang dengan lokasi Indonesia yang “demikian strategis” mau tidak mau suka atau pun tidak suka hal itulah yang kemudian berdampak pada besarnya kemungkinan terjadi bencana seperti gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api. Namun kita juga janganlah lupa bahwa “strategis”nya posisi indonesia itu juga yang memberikan kita kekayaan yang begitu berlimpah saat ini baik berlimpahnya minyak dan bahan tambang, suburnya tanah serta keindahan keindahan lainnya yang terkadang tidak dimiliki oleh negara negara lain.

Rasa khawatir masyarakat kita akan berbagai informasi yang meresahkan tidak sepenuhnya salah tersebut mengakibatkan beberapa dampak yang kontraprodktif bahkan dari beberapa tulisan yang saya sempat baca sebagian dari mereka ada yang sangat ketakutan dan memutuskan untuk mengungsi dan menjauhi tempat tempat yang diisukan tersebut. Hal inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya apakah ketakutan yang seperti itu diperlukan dan baik dalam menyikapi potensi bencana yang ada? Jika benar perlu dimanakah kita akan berlindung, Saat menjauhi laut karena takut tsunami kita lari kegunung namun gunung juga bisa meletus, kalaupun tidak gunung lereng lereng terjal diperbukitan pun bisa saja longsor dan menelan kita setiap saat. Belum lagi potensi bencana bencana lain seperti angin puting beliung, banjir, kecelakaan kendaraan, meteor, virus. “Actually There are no place to hide dude.

Hingga beberapa minggu yang lalu saya menemukan sebuah buku yang berjudul Filosofi Teras karya Henri Manampiring. Dari buku ini kita akan diajak untuk berkenalan dengan suatu Filosofi (“Teras” terjemahan bebas dari Stoa) yang ternyata telah ada dan berkembang di Yunani sejak 2000 tahun yang lalu. Saya rasa filosofi ini dapat dengan mudah kita manfaatkan sebagai salah satu panduan hidup kita yang tentunya dapat kita jadikan sebagai salah satu panduan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menguraikan beberapa prinsip dasar dari filosofi ini yang dapat dan sudah pula digunakan dalam menyikapi dan menghadapi bencana. Sudah disini saya maksudan karena prinsip prinsip ini bukanlah hal baru dan sudah banyak orang saya lihat dan temui di daerah bencana menerapkannya dalam memnghadapi apa yang terjadi pada mereka yang dalam hal ini adalah bencana.

Kebahagiaan dan Kedamaian Dicapai Saat Kita “Selaras dengan Alam”, Begitu juga dengan sebaliknya

Selaras dengan alam tidaklah sertamerta harus mengikuti alam tanpa daya untuk berperilaku lainnya. Seperti pada islustrasi ini, Batu ini tidaklah tersusun secara alamiah, namun dengan menselaraskan titik berat batu batu tersebut dengan sedemikian rupa dan mengikuti hukum serta proses yang ada dialam maka batu tersebut dapat kita susun sesuai dengan keinginan kita. Namun kita tidaklah bisa berharap batu tersebut tersusun seperti itu selamanya karena bisa saja suatu ketika batu tersebut tersapu oleh banjir, ataupun tersenggol seekor monyet yang sedang hendak meminum air di sungai. (Sumber Gambar: Pixabay @ www.pexels.com)

Dalam filosofi stoa kita diajak untuk hidup selaras dengan alam. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar dalam menjalani filosofi ini. Selaras dengan alam yang dimaksudkan tidak hanya sekedar mencintai alam dengan tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon ataupun segala macam kampanye cinta lingkungan lain yang terdengar agak sedikit retoris belakangan ini. Konsep selaras yang mereka utarakan lebih pada memposisikan diri selayaknya manusia dengan segala kelebihannya, sebuah keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya yakni dalam hal berpikir dengan menggunakan nalar rasionya. Selaras dengan alam berartimenempatkan diri sebagai enitas makhluk hidup yang bernalar dan rasional.

Kebahagiaan dan kedamaian dicapai saat kita “selaras dengan alam” berarti sebagai manusia yang igin bahagia kita harus selalu berpegang pada nalar dan pikiran rasional kita. Kita tidak boleh terjebak dalam hal hal yang tidak rasional dan jauh dari nalar kita. Jika hal ini tidak dapat kita penuhi gelisah, rasa kawatir dan takut akan selalu memeluk erat kita. Hal hal yang tidak rasional dan diluar nalar terkait bencana sering saya temui menjadi sesuatu yang viral dan menghantui masyarakat kita. Dari hal hal sepele seperti menekan tombol like atau mengetik angka 1 di satu postingan media sosial agar terhindar dari petaka hingga pada hal hal tidak asional yang tidak ada lucu lucunya sama sekali seperti isu akan adanya bencana besar. Bagi sebagian orang yang jauh dari lokasi bencana mungkin menganggap hal itu bercanda saja, namun mereka mungkin tidak tahu di lokasi bencana hal itu tidak sebercanda yang mereka kira karena berkaitan dengan hidup dan mati banyak orang.

Selain selaras dengan alam, filosofi stoa juga percaya bahwa segala sesuatu baik entitas ataupun kejadian dalam hidup ini ini tidaklah berdiri sendiri namun melimiliki jalianan yang saling terhubung dan terkait. Keterkaitan segala sesuatu di dalam hidup disebut sebagai interconectedness. Begitu juga dengan bencana dengan segala dampak yang ditimbulkannya baik secara struktural seperti pepohonan yang tumbang, bangunan yang runtuh hingga pada para korban luka, hilang dan meninggal. Ada jalinan sebab akibat pada itu semua, dari strukturnya yang kurang baik dan tidak selaras dengan alam lingkungan sekitarnya, sistem peringatan dini yang belum layak, hingga pada pemahaman masyarakat setempat terkait potensi dan cara selamat dari bencana yang kurang memadai. Untuk mengurangi akibatnya tentulah kita perlu mengelola penyebabnya dengan baik. Ini bukanlah suatu tindakan perlawanan dan mengingkari apa yang terjadi, namun justru dengan melakukan kesemua itu kita telah selaras dengan alam dengan menjadi manusia seutuhnya yang menggunakan nalar, akal sehat dan rasionya dalam menghadapi bencana.

Dikotomi dan Trikotomi Kendali, dan Kaitannya dalam Sikap Kita pada Isu Bencana

Kita sebagai manusia hanya dapat melakukan dan berkuasa pada sedikit hal yang berada dibawah kendali kita. Namun ingatlah bahkan itusaja sudah cukup dan jangan cemas karenany. Jalani apa yang dapat kitalakukan biarkan semesta menjawab kita sepertiapa episode selanjutny. (Sumber Ilustrasi: Pixabay )

“Ada suatu hal yang perlu diingat, tidak segala hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.” Kata kata ini mungkin terlihat sangat sederhana namun justru disinilah hal paling menarik dan menurut saya paling penting diterapkan dalam kehidupan kita sehari hari. Dengan bahasa sederhananya prinsip inilah yang paling ngena bagi saya dan akan lebih menunjukan manfaatnya lagi saat kita berhadapan dengan bencana. Beberapa orang yang saya temui secara sadar ataupun tidak telah menerapkan prinsip ini dalam menyikapi dan menghadapi bencana yang melanda kehidupan mereka. Saat bencana terjadi mereka tidak begitu memusingkan apa apa saja yang diluar batas kendali mereka dan berfokus pada apa saja yang berada dalam kendali mereka secara maksimal dan optimal. Menyaksikan hal ini terkadang saya terharu akan ketegaran mereka sampai yah meskipun malu mengakuinya kadang saya sendiri pun meneteskan air mata terharu, masih manusiawi kan ya. Mereka orang orang yang hebat.

“Bapak, bolehkah saya meminjam truk bapak untuk mendistribusikan logistik. ada beberapa desa yang sampai sekarang kesulitan mendapatkan logistik pak. Untuk pengamanan dan bahan bakar kami yang tanggung pak. Kami hanya ingin membantu warga disana pak, kami kelompok pemuda ingin melakukan apa saja yang bisa kami perbuat untuk saudara saudara kami yang sedang terkena musibah pak. Tolonglah kami pak” Saat berkoordinasi terkait data dengan tentara yang bertugas saat di Palu tahun lalu saya mendengarkan perbincangan seorang pemuda yang sudah lusuh dan terlihat sekali kelelahan sedang meminta bantuan kendaraan untuk mendistribusikan logistik. Dua pemuda itu dari cerita mereka sebelumnya ikut membantu SAR mengefakuasi beberapa korban yang tertimbun reruntuhan bangunan dan sekarang mereka mengerahkan tenaga mereka untuk membantu pendistribusian logistik. Melihat kesungguhan mereka dari pihak tentara yang bertugas pun membantu mereka baik kendaraan maupun tenaga personil untuk berama sama mendistribusikan ke lokasi yang dimaksud pemuda tersebut.

Konsep dikotomi kendali mengajak kita untuk memisahkan dengan jelas apa apa saja yang berada dibawah kendali kita dan apa apa saja yang berada diluar kendali kita. Filosofi stoa mengajarkan pada kita untuk terfokus pada hal yang berada di kendali kita dan tidak terlalu memusingkan apa yang berada diluar kendali kita. Seperti pada cerita pemuda tadi mereka melakukan apa yang berada dibawah kendali mereka yakni inisiatif mereka untuk melakukan apa yang dapat mereka perbuat seperti membantu dan bahkan juga keputusan mereka untuk meminta bantuan kendaraan pada petugas. Meskipun disetujui atau tidaknya permintaan mereka atas inisiatif mereka meminjam kendaraan adalah hal yang berada diluar kendali mereka namun setidaknya mereka telah melakukan semua yang ada di dalam kendali mereka.

Ketika orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka akan merasa terganggu, ketakutan dan labil

Quotes by Epirectus (Disunting dari tulisan Henry M, FIlosofi Teras)

Hingga kemudian seiring dengan perkembangan jaman, beberapa filsuf juga menyadari bahwa dari kesekian hal yang tidak berada di bawah kendali tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya tidak dapat dikendalikan. Dengan kata lain ada beberapa hal yang dapat dikendalikan hingga batas tertentu saja. Dari sinilah kemudian dikotomi kendali yang tadinya hanya membagi hal dalam kelas yang bisa dikendalikan dan kelas yang tidak bisa dikendalikan menjadi Trikotomi Kendali yang mengkelaskan hal kedalam tiga bagian yakni yang bisa dikendalikan, yang tidak bisa dikendalikan , dan ketiga adalah yang bisa dikendalikan sebagian.

Konsep dikotomi ataupun trikotomi kendali dari filosofi stoa ini sudah menjawab apa yang terjadi dengan masyarakat kita yang beberapa waktu belakangan ini diliputi oleh keresahan dan kegelisahan yang tidak perlu. Isu potensi gempa dan tsunami yang besar dan mengerikan di selatan jawa hingga Nusa Tenggara, gempa didaerah lembang, isu kekeringan panjang, isu gunung meletus, banjir jakarta, dan isu isu mengerikan lainnya. Jikalau itu benar, semua itu tidaklah berada dalam kendali kita, jadi jangan dipusingkan secara berlebihan, gelisah, dan ketakutan hingga melakukan hal hal yang kitra produktif dengan menghujat, ikut menebar hoax, dan berspekulasi hal hal yang terlalu jauh dan mengada ngada. Konsep dikotomi kendali dalam filosofi stoa mengajarkan kita untuk berfokus pada apa yang berada dibawah kendali kita.

Jangan terlalu membebani diri kita dengan hal yang tidak perlu karena itu pasti sangat melelahkan dan menyita banyak waktu. Waktu kita yang sedikit dan tenaga kita yang pas pasan sepertinya akan lebih baik bila kita manfaatkan dan fokuskan pada hal-hal yang dibawah kendali dan bisa kita lakukan seperti contoh paling sederhananya bila kejadian bencana itu terjadi kira kira apa yang perlu kita lakukan. Mencari tahu dan memahami potensi potensi bencana di wilayah kita masing masing, dan mengetahui tindakan apa yang diperlukan untuk mengurangi risikonya dari menyesuaikan struktur bangunan dengan potensi bencana yang ada. Kita perlu tahu apa tanda tandanya, apakah ada kode kode khusus atau sistem peringatan dini khusus yang ada lingkungan kita saat bencana terjadi. Kita juga dapat memastikan jalur evakuasi kalau toh bencana benar benar terjadi tetap layak dilewati dan bebas dari hambatan.

Tetapi memang si harus kita akui, saat terjadi bencana bukanlah saat saat yang dapat kita phami dengan mudah dan bukan pula sesuatu yang dapat kita hadapi. Rasa limbung, bingung dan tanpa arah menjadi hal yang banyak orang alami saat terdampak bencana. Bersedih bukanlah sesuatu yang diharamkan dalam filosofi stoa. Meskipun demikian kita tidak boleh berlarut larut dalam kesedihan itu bahkan sampai dibawa mati (Seneca). Ada sesuatu yang menarik dan menurut saya sangat mengharukan lagi saya temukan pada saat saya ditugaskan di Palu saat itu. Saat itu sudah larut malam (sekitar pukul 9 malam), ada seorang bapak bapak mengunjungi pos kami dan menanyakan kabar anaknya yang ikut menjadi korban kedaysatan tsunami saat itu. Pada mulanya saya sempat berpikir bahwa sosok bapak itu akan terlihat sangat bersedih dan bukan tidak mungkin tangisnya tidak terbendung saat datang pada kami. Namun ternyata semua itu salah besar. Meski masih terlihat jelas kesedihan mendalam pada diri seorang bapak itu namun dirinya masih tegar dan saya tidak bisa berkata apa apa melihat itu semua. Saya tidak tahu pula harus berekpresi apa saat mendengar perkataan bapak itu. Ia sudah iklas akan kepergian anaknya. Dia datang kepada kami hanya ingin meminta bantuan kepada kami untuk memastikan bahwa jasat yang ditemukan oleh tim dilapangan dan dikabarkan anaknya itu adalah benar anaknya. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Gempa, Tsunami, Banjir, Longsor dan semua lainnya adalah suatu keniscayaan yang alamiah terjadi selama bumi ini masih berputar. Kita tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Apapun yang kita lakukan tidak akan merubah hal itu. Namun keinginan kita untuk bertahan dan hidup meski terpapar kesua itu jugalah sesuatu yang alamiah, tidak akan ada yang dapat menghentikan keingian kita itu. Memang kita tidak akan dapat membuat gempabumi atau tsunami agar tidak pernah terjadi, Namun kita selalu bisa membuat diri kita aman dan selamat dari itu semua. Itu masih bisa masih bisa kita lakukan karena apa yang kita pikirkan apa yang kita lakukan berada dibawah kendali kita masih ada di bawah kendali kita sebagai manusia yang tetap menjadi manusia saat menyikapi dan menghadapi bencana.

Sumber Sumber yang saya gunakan dalam tulisan Ini

  • Buku Filosofi Teras (Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini) karya Henri Manampiring dan dipublikasikan oleh Penerbit Buku Kompas
  • Featured Photo in this post is design by Tom Swinnen from Pexels